
Langit terlihat begitu temaram karena tertutup awan gelap, cahaya petir yang terus menggelegar disertai suara air hujan yang turun membuat suasana menjadi semakin mencekam, ditambah lagi hembusan angin yang begitu kencang, menerpa tubuh Alia yang masih berdiri di parkiran seorang diri tanpa ada siapapun di dekatnya.
"Ya Allah, kenapa aku harus terjebak hujan di sini? mana nggak ada orang lagi?"
Alia masih berdiri dan menatap ke arah langit, dia berharap agar hujan segera berhenti supaya dia bisa segera pergi ke tempat tujuannya.
Perlahan Alia mulai mengangkat tangan kanannya, ia mengarahkan tangan itu ke air hujan yang sedang berjatuhan. Air hujan itu mulai membasahi telapak tangan kanannya, dia memejamkan mata sembari terus berdoa supaya hujan segera berhenti, lama kelamaan tangannya itu mulai terasa berat, berat sekali sampai hampir tidak bisa menahannya, namun Alia terus berusaha mengarahkan tangan kanannya itu menghadap ke atas.
Tak lama kemudian hujan mulai mereda, Alia merasa sangat senang sekali, dia segera menyalakan motornya dan bergegas menuju ke rumah Azam.
Meskipun Alia belum pernah sekalipun datang ke rumah Azam, namun dia cukup tahu alamat rumahnya, setelah beberapa kali bertanya kepada orang yang ia temui di jalan, akhirnya dia pun menemukan sebuah rumah sederhana namun terlihat cukup luas, di sampingnya terdapat masjid Jami yang lumayan besar dengan beberapa bangunan sederhana yang mengelilingi, dan sepertinya bangunan itu adalah asrama bagi para santri yang belajar di sana.
Alia memarkirkan motornya di depan masjid, karena halaman rumahnya masih dipenuhi kursi-kursi bagi orang yang melayat.
Alia berjalan dengan perlahan menuju ke rumah itu, suasananya terlihat sangat sepi karena proses pemakaman sudah selesai, jadi semua orang pasti sedang mempersiapkan acara untuk pengajian nanti malam.
"Mba Alia?"
Tiba-tiba saja seorang anak perempuan yang memakai pakaian serba hitam datang menghampiri Alia dan menyapanya.
"Eh Husna? kok kamu di sini?" tanya Alia yang heran saat melihat juniornya berada di depan rumah itu.
"Ini rumah aku Mba" jawab Husna pelan.
Alia hanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata, Husna lalu mempersilahkan Alia untuk masuk ke dalam.
Alia duduk sendirian di ruang tamu karena Husna pergi ke dalam untuk mengambilkan minum, suasana depan terlihat sepi karena sepertinya semua orang sedang ada di belakang.
Alia melihat sekeliling rumah itu, ruang tamunya terlihat cukup luas, dindingnya hampir di penuhi dengan pajangan berupa kaligrafi dan ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi ada satu yang membuat Alia merasa tertarik dan ingin melihatnya dari dekat.
Alia bangun dari tempat duduknya dan mendekati sebuah foto keluarga yang cukup besar terpajang di dinding dekat pintu menuju ke ruang tengah. Dalam foto keluarga itu terdapat 6 orang berdiri, dua orang tua dengan empat orang anak, 2 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki.
"Jadi Husna itu adiknya Arrafi, pantas saja wajah dan sikap mereka sangat mirip" gumam Alia dalam hati.
"Ragasy?"
Tiba-tiba Azam datang dari luar dan melihat Alia yang sedang menatapi foto keluarganya.
__ADS_1
"Eh Arrafi, maaf maaf, aku..."
Alia kaget melihat Azam yang sudah berdiri di belakangnya, sementara itu Azam hanya tersenyum melihat Alia yang salah tingkah.
Azam berjalan masuk dan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu.
"Gila yah, ini anak lagi kaya begini tapi masih bisa tersenyum?" gumam Alia dalam hati.
"Jadi kamu mau berdiri terus di situ?" ucap Azam.
Alia kembali terkejut karena dirinya agak melamun. Dia pun kembali duduk di kursi yang tadi ia duduki.
Keduanya kini duduk dan saling berhadapan, namun tidak ada kata-kata lain lagi yang keluar dari mulut keduanya, sampai Husna datang dan memecahkan keheningan di antara mereka.
"Mba Alia, minum dulu" sembari meletakkan segelas teh hangat dan beberapa makanan ringan.
"Eh iya makasih, harusnya kamu nggak perlu repot-repot" ucap Alia.
"Nggak kok mba. Eh mas Azam udah pulang?" tanya Husna yang melihat kakaknya duduk di sana juga.
"Iya udah" jawab Azam singkat.
"Subhanallah... mereka berdua sabar sekali, meskipun sangat terlihat pancaran kesedihan di mata mereka, namun sikap mereka sungguh sangat sabar dan dewasa" gumam Alia dalam hati.
"Mba Alia..."
"Eh iya, kenapa?"
"Ayo teh nya di minum mumpung masih hangat"
"Oh iya iya, makasih"
Alia meraih gelas yang berisi teh hangat itu dan meminumnya dengan perlahan.
"Jadi kalian berdua udah saling kenal ya mas" tanya Husna kepada kakaknya.
"Ya, kita dulu sekolah di MA yang sama" jawab Azam, sementara itu Alia hanya terdiam sembari tersenyum kecil.
Alia terus saja melihat kakak beradik itu, mulanya ia hanya kagum terhadap kedekatan kakak dan adik itu, namun tiba-tiba dia kembali teringat soal asap hitam yang ia lihat dan mengelilingi mereka berdua.
"Astaghfirullah... jadi ini arti dari bayangan dan asap hitam yang aku lihat berkali-kali?" gumam Alia dalam hati.
__ADS_1
Karena melihat Azam dan Husna memakai pakaian yang serba hitam, dia baru sadar bahwa makna dari pertanda yang ia rasakan adalah kesedihan. Asap hitam dan juga bayangan hitam itu menandakan bahwa orang yang dikelilingi oleh bayangan hitam itu akan diselimuti oleh kesedihan.
"Ya Allah... aku benar-benar merasa seperti orang bodoh! tidak bisa mengerti apa yang aku lihat! kenapa engkau bisa memberikan kemampuan pada orang yang bodoh seperti aku ya Allah...?"
Alia masih bergumam dalam hati sampai Husna menyadari bahwa Alia sedang melamun.
"Mba?"
"Eh iya kenapa Husna?"
"Kok melamun si? itu lho tehnya diminum nanti keburu dingin" ujar Husna.
"Oh iya, iya aku minum kok"
"Ya sudah aku kebelakang sebentar yah"
Husna pun masuk ke dalam dan meninggalkan Alia bersama Azam di ruang tamu.
Alia melihat Azam yang duduk diam dengan tatapan mata sayu, ia ingin mengajaknya bicara, namun tidak tahu harus mulai dari mana.
Alia melihat ada sebuah kertas lipat berwarna hitam tergeletak di meja, dia pun segera meraih kertas itu.
_____-----______
"Yey akhirnya jadi juga!"
Setelah berusaha cukup lama akhirnya seekor burung bangau yang terbuat dari kertas lipat pun jadi. Dia meletakkan burung kertas itu di meja, tepat di depan Azam yang sedang duduk terdiam.
Azam tersadar ketika Alia meletakkan burung kertas itu di depannya, dia pun melihat ke arah Alia seolah bertanya apa maksudnya itu.
Alia hanya tersenyum membalas tatapan Azam yang terlihat heran.
"Kamu kok seperti anak kecil yah, mainan kertas lipat seperti ini?" tanya Azam.
"Kamu kalau mau cerita, atau ungkapin rasa sedih kamu, dia mau kok jadi pendengar setia, tadi dia udah bilang sendiri loh sama aku"
Ucapan Alia terdengar seperti sedang menghibur seorang anak kecil yang kehilangan mainannya, namun perkataan itu sungguh menyentuh bagi Azam.
"Benarkah? kalau begitu aku akan menyimpan ini di kamarku" Azam menjawab ucapan Alia sembari tersenyum.
Senyuman itu terlihat sangat tulus dan tidak dibuat-buat, sehingga membuat Alia merasa senang karena bisa menghibur Azam di tengah kesedihannya.
__ADS_1