Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Sakit yang tak terlihat


__ADS_3

Alia masih terdiam sambil duduk dan melihat ke arah Irfan, suasana ruangan itu menjadi sangat sunyi karena tidak ada seorangpun yang bersuara.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


Tak selang lama, Ibu Yani kembali masuk ke dalam ruangan itu dan memecahkan keheningan yang sempat mencekam semua orang yang ada di dalamnya.


"Kok pada diam ya, kenapa ini?" tanya ini Ibu Yani.


"Nggak papa kok Bu, oh iya, Ibu abis ketemu dokter kan? gimana hasilnya Bu? apa ada luka yang parah?" ucap Alia.


"Oh iya ini Ibu sudah dapat hasil Rontgen bagian dadanya, soalnya dia sempat mengeluh sakit jadi Ibu langsung minta di Rontgen aja biar jelas"


"Terus hasilnya gimana Bu?"


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, mungkin itu karena terbentur motor jadi dadanya terasa sakit" jelas Bu Yani.


Sekitar satu jam sudah lewat sejak Alia dan Afi tiba di sana, namun tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka, Alia terus mencoba mengalihkan pandangannya dari Irfan dengan berbicara pada Ibu Yani.


Waktu sudah semakin siang dan Alia pun merasa sudah cukup lama berada di rumah sakit. Dia pun berpamitan kepada Ibu Yani untuk segera pulang.


"Kok buru-buru nak?"


"Maaf Bu, saya sama Afi masih ada acara, insyaallah besok saya ke sini lagi" jawab Alia.


"Ya sudah, hati-hati di jalan yah, terimakasih sudah mau repot-repot ke sini"


"Sama-sama Bu"


Alia dan Afi pun pergi meninggalkan rumah sakit, mereka berdua menuju ke rumah Afi.


Di sepanjang jalan Alia masih diam dan tidak bersuara sama sekali.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah Afi, Alia langsung masuk tanpa di persilahkan, dia berjalan cepat menuju ke kamar Afi dan berbaring di ranjang tempat tidur milik Afi.


Afi menghampiri Alia ke kamarnya, namun sebelumnya ia mengambil segelas teh hangat terlebih dahulu dan memberikan teh itu kepada Alia.


"Minum dulu Al" sembari menyodorkan segelas teh hangat.


"Makasih ya Fi"


Alia meraih segelas teh itu dan meminumnya perlahan, setelah itu ia kembali berbaring dan tidak bicara.


"Yang sabar Al..." ucap Afi pelan sembari menepuk pundak Alia.


"Aku sabar kok Fi, buktinya aku nggak marah"

__ADS_1


Afi hanya terdiam dan duduk di samping Alia, dia memeluk Afi dan mencoba mengerti tentang perasaannya.


"Kenapa Fi, kenapa??"


Tanpa sadar air mata Alia mulai mengalir deras, dia memeluk Afi dengan erat dan meluapkan emosinya. Afi terus berusaha untuk menenangkan Alia dan memberinya semangat.


*****


Sementara itu di rumah sakit, Irfan masih terbaring diam di temani sahabatnya yaitu Lana, karena Ibunya masih sibuk mengurus administrasi.


"Gila kamu Fan! nggak bener sumpah!" ucap Lana.


"Ya gimana dong Lan, sekarang Alia tahu semuanya"


"Fan, kamu itu nggak seharusnya nyakitin dia, kamu nggak lihat tadi, hatinya itu udah kayak jangkar kapal! gila, dia bahkan nggak marah sama sekali dan masih perhatian sama kamu!"


Lana berbicara panjang lebar dan terus menasehati Irfan tentang kesalahan yang sudah dia lakukan. Lana bahkan merasa kasihan terhadap Alia karena Irfan sudah begitu tega berbohong.


"Nggak tahu ah, aku pusing Lan!"


"Kamu itu, dari dulu masih aja kayak gitu, suka mainin perasaan cewek!"


"Kok kamu malah marah sama aku?, kamu itu kan temen aku?"


"Bukan gitu Fan, tapi Alia kan juga teman aku, nggak tega aja pas lihat ekspresi dia tadi"


*****


"Fi aku pulang dulu yah"


"Hati-hati ya Al, udah jangan mikirin Irfan dulu"


Alia mengangguk dan segera keluar dari kamar Afi. Dia bergegas untuk pulang ke rumahnya. Saat sampai di rumah, ternyata tidak ada seorangpun di rumah karena semuanya sedang pergi ke sebuah acara.


Alia duduk di teras depan rumah, tiba-tiba pandangan matanya teralihkan pada sesuatu. Alia langsung bangun dan mendekati sesuatu yang menarik perhatiannya itu.


Dia mendekat ke sebuah bunga Mawar merah yang baru saja merekah. Perlahan Alia mengulurkan tangannya dan mencoba untuk memetik bunga Mawar tersebut.


"Aw sakit!"


Tanpa sengaja tangan Alia tertusuk oleh duri yang berada pada batang bunga Mawar itu, namun ia tetap mencoba kembali dan bisa mendapatkan setangkai Mawar merah itu.


Alia menarik satu persatu mahkota bunga itu dan mulai melahapnya.


"Hah sudah lama aku tidak makan ini, rasanya manis sekali!" ucap Alia pelan.


Untuk sejenak ia melupakan hal tentang Irfan, namun tak lama kemudian dia kembali teringat dengan kenyataan itu.

__ADS_1


"Apakah mulut aku ini beracun yah? kenapa setiap sumpah yang aku ucapkan saat sedang marah itu benar-benar terjadi?"


Alia bergumam sendiri sembari terus melahap mahkota bunga Mawar merah yang masih sangat segar itu. Tanpa terasa bunga Mawar itu sudah habis di makan oleh Alia.


Keesokan harinya Alia pergi dari rumah pagi-pagi sekali, sebenarnya jadwal kuliah hari ini adalah siang, namun Alia sengaja berangkat pagi karena hendak pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk kembali menengok Irfan. Meskipun hatinya merasa sakit tapi entah kenapa dia tetap saja tidak bisa mengabaikan Irfan.


Saat Alia sampai di ruang rawat, ternyata di sama tidak ada siapa-siapa kecuali Irfan sendiri.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


Alia masuk ke ruangan Irfan dan duduk di sampingnya, dia melihat sekeliling dan bertanya kemana Ibunya.


"Ibu lagi mandi sama mencuci baju yang kena darah kemarin" jawab Irfan.


"Owhh,, gimana udah mendingan?"


"Iya, lumayan udah bisa duduk"


Alia tetap berusaha untuk menunjukkan perhatian dan berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa. Dia melihat ke arah meja dan ternyata sarapan Irfan masih utuh.


Alia meraihnya dan mencoba untuk menyuapi Irfan.


"Jadi... benar kemarin itu kamu pergi sama cewek?"


Perlahan Alia mulai bicara dan membahasnya, namun ucapannya masih sangat pelan dan lembut, karena dia tidak mau membuat sakit Irfan semakin parah.


Irfan hanya menunduk, dia tidak mau berkata-kata meskipun Alia terus bertanya.


"Aku sudah tahu, bahkan sebelum Ibu bilang pun aku sudah tahu, tapi aku masih ingin dengar dari kamu langsung" ucap Alia sembari terus menyuapi Irfan


"Kamu udah tahu semuanya, jadi sekarang semuanya terserah sama kamu"


Irfan bicara dengan nada yang sangat lemah, karena memang ia baru saja merasa baikan.


Alia diam sejenak sembari menatap Irfan, dia merasa sangat kasihan melihat keadaannya yang bahkan belum bisa bangun dari tempat tidur, namun hatinya juga merasa sangat sakit karena telah di bohongi.


"Aku itu sayang sama kamu!"


"Iya aku tahu, tapi maaf aku udah nyakitin perasaan kamu"


"Terus?"


"Aku terima kalau misalnya kamu mau putus dari aku"


Tiba-tiba Alia terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi saat mendengar pernyataan Irfan, dia merasa sangat bingung, kesal, marah, namun juga iba.

__ADS_1


Dia benar-benar tidak tega melihat Irfan yang sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan kesalahannya begitu saja.


__ADS_2