Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Aku kembali


__ADS_3

Esok nya pagi\-pagi sekali Alia sudah bersiap untuk ke sekolah.


"Kamu yakin hari ini berangkat nak?" tanya bu Mia sembari sibuk menyiapkan sarapan.


"Iya mah, udah 2minggu lebih aku ngga berangkat takutnya ketinggalan pelajaran, apalagi udah mau kenaikan" ucap Alia sambil duduk dan memulai sarapan.


"Tapi hari ini kayaknya papa ngga bisa antar?" sahut pak Aji yang sudah duduk di samping Alia.


"Nggak papa pa, aku bawa motor sendiri aja ya"


"Kamu yakin?" Bu Mia khawatir.


"Aku udah ngga papa kok mah, lagian kalau ngga enak badan kan aku jadi bisa pulang sendiri"


Bu Mia akhirnya mengijinkan Alia untuk ke sekolah mengendarai motor sendiri.


Setelah selesai sarapan Alia langsung berpamitan kepada bu Mia dan pak Aji.


"Mah aku berangkat yah"


"Alia tunggu! sini sebentar" sambil mengancingkan bungkusan kain putih yang diberikan oleh ustad kemarin.



"Ini apa mah, kok kaya sambetan gitu" tanya Alia yang penasaran.



"Sudah kamu pakai saja, ingat ini jangan dilepas atau hilang!"



"Ya mah, ya udah aku berangkat dulu, assalamualaikum"



"Walaikunsalam"



Alia mulai menyalakan motornya dan meninggalkan rumah, setelah dekat dengan wilayah sekolah ia langsung menuju ke arah rumah nenek Mida dan berniat untuk menitipkan motornya di sana.



Alia menghentikan motornya tepat di depan rumah nenek Mida, dan ternyata Sifa baru saja keluar.


"Alia!?" Sifa kaget begitu melihat Alia.


"Hehe hai" Alia tersenyum sambil memarkirkan motornya.



"Kamu kemana aja!? kamu ngga papa kan? aku pikir kamu beneran mau pindah!" Sifa masih saja bicara tanpa henti sampai membuat Alia bingung akan menjawab apa.



"Ini mana dulu yang harus aku jawab nih"



"Hehe maaf, aku cuma kangen sama kamu, rasanya sepi di kamar sendirian"


Mereka berdua melanjutkan obrolan sembari berjalan menuju ke sekolah. Dan seperti biasa, mereka berpisah di setelah masuk gerbang sekolah.


Alia sampai di kelasnya dan ternyata belum ada satupun orang yang datang.


"Huh apa aku berangkat terlalu pagi?" sembari duduk ke bangkunya.


Alia terus menatap ke arah pintu di kelasnya, menunggu seorang teman datang dan menemaninya mengobrol di tengah sepinya kelas.


Tak lama kemudian melintas seorang siswa laki\-laki melewati kelasnya, dia menengok kearah Alia dan seperti kaget ketika melihatnya.



Dia tersenyum kearah Alia namun Alia langsung memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Sial! kenapa saat kembali ke sekolah wajah yang pertama aku lihat malah dia!" Alia menggerutu dalam hati, karena ternyata siswa itu adalah Azam.


Tak lama kemudian Nida datang dan langsung memeluk Alia.


"Alia!!! ya ampun akhirnya kamu berangkat!" masih memeluk Alia dengan kencang.


"Aduh Da aku ngga bisa nafas nih!"


"Hehe maaf maaf, abisnya aku kangen banget sama kamu!" sembari melepaskan pelukannya.


"Kangen sih kangen! tapi kalo aku ngga bisa nafas trus gimana!"


Mereka berdua asyik mengobrol, melepas rasa rindu mereka. Sementara itu di luar kelas Azam diam-diam melihat mereka dari depan pintu kelas Alia.


"Woy! ngapain kamu ngintip ya!" Mayra tiba\-tiba datang dan mengagetkan Azam.


"Eh Mayra, ngga lah, cuma lagi nunggu Amar aja kok" mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Huh bohongnya ketahuan banget! kamu tu kalau suka bilang! jangan diam aja ntar di samber orang lho!" ucap Mayra.



Disaat semua orang selalu menjaga kata\-katanya kepada Azam, Mayra justru lebih bersikap gamblang dan bicara apa adanya, karena dia menganggap Azam hanyalah teman satu angkatannya, dan kemampuan mereka juga tidak jauh berbeda, hanya latarbelakang keluarga saja yang membedakan. Namun hal itu tidak lantas membuat Mayra minder.



Begitupun dengan Alia, dia juga menganggap Azam sebagai orang biasa, dan juga teman satu angkatan yang tidak harus dihormati secara berlebihan, karena kemampuan nya mungkin malah diatas Azam.


Namun bagi para santri, seseorang yang berasal dari keluarga ulama atau tokoh agama maka derajatnya lebih tinggi dari keluarga orang awam.


"Assalamu'alaikum Azam, Mayra, kalian sedang ribut apa disini!" Amar tiba\-tiba datang.



"Ah kebetulan kamu datang Amar! ini temanmu katanya sedang menunggu kamu tapi entahlah sepertinya dia malah sedang mengintip!" Mayra langsung masuk ke dalam kelas.



"Kamu mencariku Azam?" tanya Amar.




"Oh baiklah, nanti aku pasti berangkat!"


Azam langsung pergi menuju kelasnya dan Amar masuk ke dalam kelas.


"Alia kami sudah berangkat?" tanya Amar.



"Iya aku sudah tidak apa\-apa"



"Alhamdulillah syukurlah kalau begitu" Amar langsung duduk di bangkunya.



"Kamu itu kemana aja! kemarin Abah sampai mengadakan pengajian Akbar buat kamu!" ucap Mayra.


"Apa sampai seperti itu?" tanya Alia yang heran mendengar pernyataan Mayra.


"Iya, tapi bukan cuma untuk kamu, itu juga untuk mengembalikan ketenangan pesantren juga" ucap Nida.


"Tapi kan tetap saja itu diadakan buat kamu! kalau saja orang tua mu ngga datang dan bilang akan memindahkan kamu dari sini" Mayra kembali bicara tanpa henti.


"*Apa sampai seperti itu? apa benar aku sampai di perlakukan seistimewa itu? tapi aku bahkan bukan santri? apa sampai tidak rela seperti itu Abah jika aku pindah dari sini*?" ucap Alia dalam hatinya.



"Alia kamu jangan melamun! sudah seperti itu masih saja suka melamun!" ucap Nida.


Mereka mengobrol banyak karena sudah dua minggu lebih tidak bertemu, sampai tak terasa jam pelajaran dimulai.

__ADS_1


Hari itu pelajaran pertama berlangsung dengan tenang, semua siswa dikelas Alia juga tidak ada yang berani membahas tentang kejadian waktu itu karena sudah dipesankan oleh Abah kyai.



Teeeeeeeetttttttt..... Bell istirahat pertama pun berbunyi.



"Yeay! akhirnya istirahat juga! aku udah laper nih!" ucap Alia.



"Alia ayo ke kantin bareng!" ucap Mayra sambil menggandeng tangannya.



"Nida ayo!" Alia pun mengajak Nida.



Mereka bertiga bersama pergi ke kantin, namun di jalan Alia terhenti ketika bertemu dengan Zizi.



"Alia kamu sudah baikan?"



"Ya mba, aku udah baik"



"Aku mau ngomong sebentar sama kamu!"



"Ah kalau begitu Mayra, kamu sama Nida ke kantin dulu ya, aku nitip aja, nanti makan di kelas. Aku tunggu di kelas ya" ucap Alia sambil pergi bersama Zizi.


Akhirnya Nida pergi bersama Mayra ke kantin.


"Kamu mau ngomong apa mba?" tanya Alia penasaran.


"Aku beneran ngga salah nilai kamu! ternyata memang kamu yang bisa ngendaliin dia!"


"Ngendaliin gimana? aku sendiri aja lepas kendali sampai hampir gila!


"Kamu tau ngga, di hari saat kamu kesurupan dan sampai ngga masuk, aku sama Mita bener-bener kaya orang sekarat tau!"


"Maksudnya kalian juga ngerasain apa yang aku rasain?"


Zizi mengangguk, "Dan sekarang semua yang mempunyai kemampuan itu sudah muncul! kamu beneran harus lebih hati-hati!"


"Maksudnya, disini bukan cuma kita yang INDIGO?"



"Ya! meskipun begitu tidak semua dari mereka bisa menerima kamu sebagai teman!".



"Kenapa? bukannya kita sama?"



"Kamu tau ngga, keluarga kamu, sesepuhnya kamu itu paranormal kan, kebanyakan dari mereka memiliki aliran ilmu hitam, dan itu sangat berbanding terbalik dengan orang\-orang yang ada disini!"



"Owh contohnya si putra ulama itu?"



"Ya! aku, Mita, dan Mayra berasal dari keluarga biasa, jadi kemampuan kami tidak begitu mengancam mereka, kemampuan kami bahkan jauh dibawahmu dan juga mereka, tapi kamu bisa jadi ancaman buat mereka karena memiliki aura yang begitu hitam"


"Jadi aku sekarang berada ditengah-tengah orang yang sangat berbeda denganku?"

__ADS_1


"Tapi kamu masih bisa tenang, karena Abah seperti nya lebih membelamu"


"Kenapa aku menjadi semakin bingung dengan keadaan ini?"


__ADS_2