Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Suasana yang berbeda


__ADS_3

 


Alia masuk ke dalam kamar dan mencoba untuk melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda, namun pikirannya menjadi kurang fokus karena teringat dengan hal yang ia lihat tadi.


"Woy melamun aja, mikirin apa?" tanya Afi.


"Nggak papa, eh hari ini kita beneran nggak ada kegiatan?"


"Emm oh iya nanti abis Ashar kita di suruh ke TPQ buat lihat dulu cara pembelajarannya, besok baru kita mulai kegiatan yang udah di rancang tadi" jelas Afi.


"Oh perkenalan dulu maksudnya?"


"Ya gitu deh".


Alia memutuskan untuk keluar rumah dan mencari udara segar dengan berjalan-jalan ke arah belakang, dia melihat-lihat ternak yang ada di kandang dan juga beberapa tanaman bunga yang ada di sekitarnya.


Karena tempat itu masih di pedesaan, meskipun siang hari dan matahari begitu terik, namun udaranya cukup sejuk di tambah lagi dengan hembusan angin yang membuat udara semakin segar.


"Eh ada mawar merah!" gumam Alia.


Alia mencoba untuk mendekati mawar merah yang baru mekar itu.


Dengan seksama Alia mengamati bunga itu, dalam hatinya sebenarnya ia sangat ingin memetik bunga itu lalu melahapnya, namun ia tidak ingin ada orang yang melihatnya, jadi ia mengurungkan niatnya itu.


Dari kejauhan Nafisah masih mengamati kelakuan Alia, dia masih sangat penasaran dengan sosok jubah putih yang terus berada di dekatnya.


"Alia!" teriak Afi yang tiba-tiba menghampirinya.


"Eh Afi, kenapa?" tanya Alia.


"Bentar lagi Ashar, mandi dulu ayo, gantian sama yang lain" ujar Afi.

__ADS_1


Alia hanya mengangguk dan mengiyakan ajakan Afi. Karena di tempat itu udaranya sangat dingin, maka Bu Murniati menyarankan agar mereka semua mandi sebelum waktu Ashar, karena jika sudah terlalu sore air di sana akan terasa sangat dingin dan mungkin orang luar tidak akan terbiasa dengan hal itu.


Mereka berdua pergi bersama-sama dan bersiap untuk mandi. Afi meminta untuk mandi terlebih dahulu sementara Alia menunggu di depan pintu kamar mandi.


Pandangan Alia masih tertuju ke arah kayu besar yang terpasang di atas pintu, dia masih bertanya-tanya kenapa, dan apa fungsinya kayu besar yang terpasang di atas pintu kamar mandi tersebut.


Alia merasakan bahwa ada sesuatu di sana, namun ia sama sekali tidak bisa melihat apapun, seolah-olah dia sudah tidak punya kemampuan untuk melihat mahluk halus lagi.


"Apa aku udah nggak punya kemampuan itu lagi? tapi nggak mungkin itu hilang begitu saja kan?" ucap Alia dalam hati.


Tak lama setelah itu Afi pun keluar dari kamar mandi. Dia lalu menyuruh Alia untuk segera masuk sebelum yang lainnya juga datang untuk mengantri, dan benar saja tak lama setelah Alia masuk teman-teman yang lain mulai datang mengantri untuk mandi.


Saat Alia selesai, dia keluar dan kebetulan melihat Nafisah yang sedang duduk di lantai sambil menatap ke arah atas pintu kamar mandi.


"Nafis? dia juga melihat kayu besar itu? perasaanku pasti nggak akan salah! pasti ada sesuatu di sana, tapi kenapa aku nggak bisa melihat apapun!" gumam Alia dalam hati.


Nafisah menyadari jika Alia sedang melihatnya, jadi Alia pun segera berjalan dan meninggalkan tempat itu sementara Nafisah terus menatap Alia dengan tajam.


Setelah selesai sholat Ashar berjamaah, mereka semua bergegas menuju ke TPQ untuk melihat anak-anak yang sedang belajar mengaji, mereka semua hanya mengamati dari luar sampai selesai.


Begitu kegiatan belajar mengajar telah selesai, mereka baru di persilahkan masuk oleh Bu Murniati untuk memperkenalkan diri masing-masing.


Perkenalan pertama di mulai dari laki-laki yang menjadi ketua kelompok dalam KKN itu.


Namanya Anton, dia mengambil prodi bimbingan dan konseling, meskipun dia laki-laki, tapi dari tutur kata dan juga sikapnya sangat lembut, dewasa dan berjiwa kepemimpinan yang tinggi, dia juga sangat pandai bergaul sehingga dapat dengan mudah mengarahkan teman-teman kelompoknya.


Yang kedua adalah Rahma, dia berasal dari prodi yang sama dengan Anton, lalu ada Afi dan juga Latif dengan jurusan ekonomi syariah, Azam dan Nafisah dengan jurusan ilmu Al-Qur'an dan tafsir, Alia dan Sandra dengan jurusan pendidikan bahasa Inggris, dan yang terakhir Nila dan juga Erik yang berasal dari prodi hukum ekonomi syariah.


Semua anak-anak yang duduk di ruangan itu terlihat ramah dan menerima para anggota KKN itu dengan terbuka, kebanyakan dari mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, ada juga yang masih balita dan ditunggui oleh orang tuanya, meskipun belum begitu paham tapi anak-anak di sana sudah di suruh untuk belajar Al-Qur'an sejak usia dini.


Acara perkenalan itu selesai sekitar jam setengah enam sore, karena waktu sudah sore jadi semua anak-anak itu langsung pulang ke rumah masing-masing, sementara itu semua anggota kelompok bersiap untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.

__ADS_1


Afi terlihat berjalan-jalan ke belakang TPQ untuk melihat-lihat, lalu Alia menyusulnya.


"Astaghfirullah!"


tanpa sengaja Alia melihat dua ekor kelabang yang berjalan di dekat kaki Afi, dia pun tanpa sengaja membunuh salah satu kelabang itu yang hampir menggigit kaki Afi dan memotong-motong tubuhnya menjadi beberapa bagian, sementara yang satunya lagi sudah lari dengan cepat.


 


"Kenapa Al?" tanya Afi yang kaget.


Sementara itu Alia masih berdiri dengan memegang bilah kecil yang ia gunakan untuk memotong tubuh hewan kaki seribu itu, jantungnya berdetak sangat kencang, ia masih merasa bersalah karena membunuh binatang itu. Dalam hatinya timbul penyesalan karena tidak membiarkan hewan itu untuk pergi tetapi malah membunuhnya.


"Kamu kenapa? kok diam begitu? terus ngapain pegang bilah itu?" tanya Afi Yang semakin kaget.


"Em itu... itu..." bibirnya menjadi kaku dan sulit untuk bicara karena baru pertama kali ia membunuh hewan yang sangat di takuti olehnya, sebelumnya Alia sangat jarang sekali melihat hewan itu secara langsung, dia bahkan selalu lari dan membiarkan binatang seperti untuk pergi setiap melihatnya, karena Mama nya pernah bilang "Jangan sekali-kali kamu mengganggu kelabang, karena kelabang itu ngadang- ngadang"


Dalam bahasa Jawa, ngadang- nbgadang itu artinya menghadang, atau dalam arti lain jika kamu mengganggu kelabang, jika kelabang itu hanya terluka dan tidak mati maka kelabang itu akan menghadang orang yang mengganggunya untuk membalas dendam.


Meskipun Ibunya pernah berkata jika kelabang itu mati, maka tidak akan terjadi apa-apa, tapi hati Alia sungguh merasa tidak tenang.


"Mulai kan anehnya, udahlah ayo masuk, bentar lagi Maghrib nanti kesambet!" teriak Afi lalu menarik tangan Alia dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Sampai di dalam kamar Alia masih saja melamun, dia memikirkan bagaimana jika sampai kelabang itu mendatanginya dan menuntut balas.


"Kamu kenapa?" tiba-tiba Nafisah menghampiri Alia dan bertanya padanya. Nafisah merasa heran karena melihat Alia hanya terdiam seperti habis melihat sesuatu.


"Eh nggak kok nggak papa" jawab Alia dengan gugup.


"Kamu... nggak habis lihat sesuatu kan?"


Nafisah mencoba bertanya apakah Alia melihat hal yang juga ia lihat, namun Alia hanya menggelengkan kepala lalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2