
Hari ini Alia kembali berangkat ke sekolah setelah beberapa hari ia tidak ke sekolah karena sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar lagi untuk siswa kelas XII.
"Alia! kamu kemana aja baru kelihatan?"
Amar menyapa Alia yang baru sampai di depan ruang guru, dia terlihat begitu sibuk dengan membawa beberapa berkas di tangannya.
"Hehe di rumah aja kok, lagian kan udah ngga ada kagiatan?"
"Salah kamu! sekarang kan junior kita lagi pada kemah tuh di Buper, malam ini perwakilan dari sekolah kita di minta buat ikut jaga bareng panitia di sana"
Amar bicara panjang lebar sembari meletakkan berkas yang ia bawa ke dalam ruang rapat organisasi Pramuka yang berada di sebelah ruang guru. Alia pun mengikuti Amar di belakangnya.
"Lah terus kenapa?"
"Ya dari sekolah kita yang harus berangkat paling ngga ketua Pramuka dan PMR, supaya bisa bantu di sana juga"
Amar duduk di kursinya dan masih sibuk mengurusi berkas yang tadi ia bawa. Sementara itu Alia juga duduk di depan Amar.
"Kan udah ada ketua Pramuka sama PMR baru? junior kita?" ucap Alia.
"Mereka lagi pada sibuk buat ujian mendatang, jadi guru nyuruh kita yang pergi, soalnya kan kita udah ngga ada kegiatan"
"Oh gitu, jadi aku sama kamu nih yang berangkat?"
"Ya, terus nanti ada Putri juga yang nemenin kamu, kalau aku nanti sama mantan ketua OSIS"
"Putri yang gantiin Mayra?"
Alia tiba-tiba teringat dengan almarhum Mayra, karena selama itu hanya Mayra yang selalu menjadi bawahan terdekat Amar.
"Kamu tahu jalannya kan? nanti malam jam 7 kita ketemu di pintu masuk Buper, soalnya jam 8 acara malam di mulai."
Alia hanya mengangguk lalu pergi, dia juga menemui Putri dan berbincang mengenai keberangkatan mereka nanti malam.
Setelah berdiskusi dengan Putri, mereka akhirnya setuju untuk berangkat bersama dengan menggunakan motor Alia.
Setelah mendapatkan surat ijin dari sekolah, Alia menemui Nida di Pesantren dan tak lama setelah itu ia langsung pulang untuk mempersiapkan beberapa hal yang harus di bawa nanti malam.
*******
Jam 3 sore Alia menuju ke rumah Putri untuk mengajaknya berangkat bersama ke Buper, sebenarnya jam kerja yang sudah di tentukan yaitu mulai jam 7 sampai jam 11 malam. Namun Alia dan putri sudah sepakat berangkat jam 3 sore agar bisa mengunjungi junior mereka dan membantu persiapan untuk tampil pada acara malam nanti.
__ADS_1
_____------______
Sekitar jam setengah empat sore Alia dan putri sampai di tempat tujuan dan langsung menuju ke tenda para juniornya. Banyak persiapan yang harus di lakukan untuk berbagai macam acara nanti, terutama pentas seni.
"Putri, aku kebelet nih, hehe aku nyari toilet dulu yah"
"Huh baru juga sampai, ya udah sana jangan lama!"
Alia tiba-tiba ingin pergi ke toilet, ia pun bergegas pergi dan mencari kamar kecil. Karena area itu sangat luas, jadi toilet pun letaknya agak jauh dengan tenda para peserta. Setelah berkeliling mencari akhirnya dia menemukan satu bangunan toilet umum yang berada di dekat masjid. Lokasi Buper tersebut cukup luas, masih banyak pepohonan pinus dan juga bentuk tanah yang menggunung seperti bukit, suasana di sana juga sejuk karena masih banyak pepohonan tinggi layaknya di daerah pegunungan dan hutan.
Setelah selesai Alia pun berjalan hendak kembali ke tenda, namun matanya tertuju pada sebuah bangunan kecil yang berada di belakang masjid. Bangunan itu terletak tidak jauh dari masjid, hanya saja agak susah di jangkau karena letaknya yang berada di bawah dan jalan menuju ke sana juga sudah di penuhi rumput yang tinggi.
Bangunan kecil itu seperti bekas toilet umum yang sudah lama tidak terjamah. Alia hendak berbalik dan kembali berjalan, namun tiba-tiba dia mendengar sebuah suara tangisan lirih. Dia melihat sekeliling namun tidak ada siapapun, dia kembali tertuju pada bangunan bekas toilet itu.
"Apa sih? apa aku lagi menghayal?"
Alia berucap pada diri sendiri, ia kembali melihat sekeliling namun suara itu telah hilang dan ia pun memutuskan untuk segera kembali ke tenda.
Alia dan Putri terus sibuk mempersiapkan segalanya bersama guru pendamping, dan tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 7 malam.
Putri mengajak Alia untuk pergi ke pintu masuk dan bertemu dengan Amar.
"Kamu kenapa berhenti Alia?"
Putri penasaran kenapa Alia menghentikan langkahnya, dia bertanya namun Alia hanya diam saja. Alia kembali menengok ke arah bangunan rusak yang berada di bagian bawah itu.
"Woi! malah ngalamun! ayo kita udah di tungguin sama Amar dan yang lain!"
Putri akhirnya menepuk pundak Alia karena dia hanya diam saja.
Mereka pun melanjutkan perjalanan dan sampai di pintu masuk. Disana sudah berdiri Amar dan beberapa orang dari berbagai sekolah lainnya.
Pikiran Alia masih belum fokus, dia masih memikirkan tentang tangisan yang ia dengar tadi.
"Jadi malam ini kita dapat bagian buat jaga pintu masuk dari jam 7 sampai jam 9, terus dari jam 9 sampai 11 kita jaga di dekat panggung acara pentas seni"
Seseorang menjelaskan tugas yang harus dilakukan para perwakilan yang berdiri di pintu masuk. Kurang lebih ada 8 orang dari 3 sekolah yang berbeda untuk tugas itu.
Mereka semua mengawali tugas mereka dengan saling berkenalan satu sama lain karena berasal dari sekolah yang berbeda.
Malam itu cuaca cukup dingin, dan itu membuat Alia kembali ingin pergi ke toilet.
__ADS_1
"Putri, aku kebelet nih, temenin ke toilet yah!"
Karena area itu adalah tempat terbuka, maka penerangan pun masih samar-samar, jadi Alia meminta putri untuk menemaninya pergi ke kamar kecil.
Sebenarnya ada beberapa bangunan toilet yang tersebar di area tersebut, namun Alia memilih untuk pergi ke toilet yang berada di dekat masjid, karena itu yang paling dekat dan ramai.
Begitu Alia keluar dari toilet ia kembali mendengar sebuah tangisan lirih, dia penasaran dan melihat ke arah bangunan rusak itu.
Sebenarnya jarak antara toilet dekat masjid dengan bangunan rusak itu hanya sekitar 10m saja, namun itu terlihat jauh karena letaknya yang berada di bawah.
Perlahan Alia mengikuti suara tangisan itu, dia terus menatap ke arah bangunan itu.
"Alia kamu ngapain! ayo cepetan pergi!"
Putri yang berdiri di dekat masjid terus memanggil Alia, namun Alia hanya berdiri terdiam.
Perlahan-lahan Alia mencoba untuk terus melangkah, tak lama kemudian terlihat sebuah tangan yang berlumuran darah keluar dari dalam bangunan yang sudah tidak memiliki pintu itu.
"Astaghfirullah itu apa?" Alia kaget dan menghentikan langkahnya.
"Ayo cepat pergi!"
Tiba-tiba Putri datang dan langsung menarik tangan Alia, dia pun membawa Alia kembali ke pintu masuk Buper dan bergabung dengan teman yang lain.
"Kamu tu kenapa si! malah bengong di sana malam-malam!!"
Putri terus saja mengomeli Alia, namun ia hanya diam dan masih memikirkan apa yang sebenarnya tadi ia lihat. Karena keadaan yang begitu gelap membuat Alia tidak begitu jelas dengan yang ia lihat tadi.
"Tadi itu beneran tangan yah? kok bisa keluar dari sana si?"
Alia terus bergumam dalam hatinya sementara putri masih saja mengoceh.
"Put kamu tadi denger ngga si?"
"Denger apa!?"
"Suara tangisan gitu?"
"Udah deh Alia! jangan menghayal dan jangan nakut-nakutin!"
"Kalau dia ngomong gitu, berarti cuma aku yang denger? tapi sebenarnya dia siapa? dan kenapa dia nangis gitu?".
__ADS_1