
Keesokan harinya setelah usai jam kuliah Alia pergi ke kantin dan duduk sendirian. Dia membaca buku favoritnya di temani segelas kopi kesukaannya.
"Assalamualaikum Alia ku..." sambil mendekat dan duduk di kursi yang berada di depan Alia.
"Eh Afi, tumben kamu baru kelihatan, baru selesai kelas?"
"Iya tadi aku abis presentasi jadi agak lama deh keluarnya"
"Oh gitu"
"Eh apaan nih, kamu ngopi? astaga udah kaya emak-emak aja deh!" sembari menunjuk ke segelas kopi mix yang terlihat masih hangat.
"Apaan si Fi, orang aku lagi ngantuk aja jadi ngopi deh" masih sibuk dengan buku yang sedang di bacanya.
"Emang semalam habis begadang?"
"Iyah"
"Ngapain?"
"Nungguin pacar dong"
Afi terdiam sejenak, dia terpikir tentang pertengkaran antara Alia dan Irfan kemarin, tapi hari ini Alia benar-benar terlihat seperti sudah tidak memiliki masalah lagi.
"Irfan?"
"Ya iyalah emang siapa lagi!"
"Jadi kamu udah baikan sama dia?"
"Udah dong"
Afi kembali diam, dia sebenarnya masih tidak setuju terhadap hubungan Alia dengan Irfan, terlebih lagi dengan kejadian kemarin yang membuat Afi menjadi semakin membenci Irfan, tapi dia juga tidak bisa membatasi sahabatnya untuk memilih orang yang ia sayangi.
"Eh Alia kamu lagi baca apaan si?" tanya Afi yang penasaran ketika Alia begitu serius dengan buku yang sedang dibacanya.
"Eh ini, buku tentang keajaiban anak indigo gitu" sembari menunjukkan cover buku itu kepada Afi.
"Oh isinya tentang apa?" tanya Afi.
"Yah kebanyakan soal mereka bisa lihat masa depan gitu si, kaya tahu hal apa yang bakalan terjadi dalam waktu dekat gitu" jelas Alia.
"Kalau kamu, bisa gitu juga?"
"Emm pernah si aku ngalamin yang seperti itu, cuma aku masih belum paham kalau itu memang bakalan terjadi, jadi mungkin aku emang harus lebih belajar lagi"
__ADS_1
Saat Alia dan Afi sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Afi melihat Meisya yang sudah berangkat ke kampus dengan keadaan tangan dan wajah yang masih memiliki luka.
"Eh Al, itu Meisya kan?"
"Iya, emang kenapa?"
"Dia udah masuk kuliah?"
"Iya dia berangkat hari ini"
"Dia itu kan yang waktu itu suka marah-marah dan benci sama kamu yah, dan yang sempat duduk bareng Irfan juga kan?"
"Iya, dia emang suka marah dan kasar sama aku, tapi sekarang udah nggak kok"
"Masa sih, oh iya Irfan gimana?"
"Udah lebih baik, paling besok juga udah boleh pulang"
Afi mencoba menghilangkan prasangka buruk yang ada di dalam pikirannya karena tidak ingin membuat Alia curiga dan kembali kecewa. Dia pun memutuskan untuk berpamitan dan pergi ke kelasnya.
Sementara itu Alia menghabiskan segelas kopi yang ia pesan terlebih dahulu baru bergegas kembali ke kelasnya.
Saat berjalan menuju kelas, tanpa sengaja Alia melihat Azam yang sedang berjalan sendirian menuju ke perpustakaan.
"Arrafi!!" Alia berteriak dan menghampiri Azam.
"Eh sorry, assalamualaikum"
"Walaikumsalam, ada apa kamu manggil aku?" tanya Azam dengan ramah.
"Kamu mau kemana?" tanya Alia.
"Ke perpustakaan, mau kembalikan buku"
Alia melihat ke arah buku itu, ternyata buku itu adalah sebuah novel yang berjudul "Mawar berduri".
"Eh itu novel?" tanya Alia sembari terus melihat ke arah buku itu.
"Iya, kamu mau baca?"
"Wah mau banget, kebetulan dari kemarin aku sempat cari buku itu tapi lagi di pinjam terus"
"Ya udah ini" menyerahkan buku itu kepada Alia.
Alia menerima buku itu dengan senang hati karena sejak kemarin dia memang sangat ingin membaca cerita dari buku itu.
__ADS_1
Alia tersenyum kepada Azam karena merasa senang, dia juga berterima kasih karena Azam sudah mau meminjamkan buku itu.
"Ya sudah aku ke kelas dulu yah, assalamualaikum" ucap Azam.
"Walaikumsalam, eh Arrafi, makasih yah"
"Untuk apa?"
"Karena kamu udah mengingatkan tentang menjaga dan mengendalikan emosi aku, dan Alhamdulillah sekarang masalah aku udah selesai"
"Syukurlah kalau begitu"
Alia langsung pergi meninggalkan Azam sambil terus melihat buku novel itu.
Sementara Azam masih menatap Alia yang mulai menjauh dengan senyuman.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sudah tersenyum lagi ragasy" ucap Azam pelan.
Alia masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya, karena masih ada waktu beberapa menit sebelum jam kuliah di mulai, dia menyempatkan untuk membaca novel itu terlebih dahulu sampai akhirnya dosen datang dan memulai kuliahnya.
Sekitar jam empat sore jam kuliah baru berakhir, saat hendak keluar kelas, Alia melihat Meisya yang menatapnya dengan penuh kebencian, entah dendam apa yang dimiliki oleh Meisya sampai-sampai matanya seperti akan keluar saat melihat ke arah Alia.
"Itu anak kenapa si? lihat aku kok kaya lihat setan aja! perasaan kemarin-kemarin udah biasa aja deh" gumam Alia dalam hati.
Alia pun melanjutkan perjalanan menuju ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Dalam perjalanan tiba-tiba sosok Chika muncul di depannya, namun kali ini penampilannya sungguh berbeda dari biasanya.
Sosok Chika menampilkan wajahnya yang terlihat sangat menyeramkan dan matanya yang begitu besar menatap ke arah Alia dengan penuh kebencian.
"Chika? kamu kok seperti ini?" Alia heran saat melihat sosok Chika yang seperti itu.
Alia melihat ke belakang dan sekitarnya, karena mengira Chika sedang melihat seseorang atau mahluk lain yang berada di sekitar Alia karena biasanya Chika menampilkan wajah seperti itu hanya kepada orang yang ia tidak suka saja, namun ternyata Chika memang sedang menatap ke arahnya.
Tiba-tiba saja perasaan Alia berubah menjadi tidak enak dan agak takut kepada sosok Chika. Perlahan-lahan Chika mulai melangkahkan kakinya mendekati Alia seolah ingin menerkam dan memangsanya.
Alia berusaha untuk mundur ke belakang sampai-sampai ia tersandung dan jatuh, dia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa. Berulang kali Alia mencoba untuk bicara kepada sosok Chika, namun Chika sama sekali tidak menghiraukan ucapan Alia.
Sosok Chika kini benar-benar sudah berubah seperti arwah gentayangan yang ingin membalaskan dendamnya, namun yang membuat Alia tidak paham yaitu kenapa Chika harus mengejar Alia, karena seingat Alia dia tidak pernah melakukan hal apapun yang menyinggung perasaan Chika.
Alia masih terduduk di tanah karena jatuh, kakinya tiba-tiba merasa kaku dan sulit untuk di gerakkan, dia bahkan tidak bisa bangun untuk menghindari Chika yang semakin mendekatinya.
"Chika kamu kenapa? kenapa seperti mau menyerang aku? apa salahku?" teriak Alia.
Chika kini sudah sangat dekat dengan Alia, dia mulai membuka mulutnya yang sangat lebar itu dan menunjukkan giginya yang terlihat begitu tajam dan sangat mengerikan, kedua jarinya pun mulai mengeluarkan kuku yang begitu panjang dan siap mencabik-cabik tubuh Alia.
Alia masih terdiam dan tidak dapat melakukan apapun, dia hanya bisa berdoa dalam hati agar selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
__ADS_1
"Ya Allah, tolong hamba ya Allah" Alia terus berdoa dalam hati.