Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Mimpi buruk


__ADS_3

Hari sudah semakin malam dan suasana di desa itu sangatlah sepi ketika langit mulai gelap. Meskipun rumah Bu Murniati terletak di pinggir jalan, namun tidak terdengar ada suara kendaraan yang lewat saat malam hari, hanya terdengar suara serangga malam yang berbunyi saling bersahutan. Udara di malam hari juga semakin dingin karena lingkungan di sana masih sangat alami dan dekat dengan pegunungan.


Sekitar jam 8 malam, Alia dan semua temannya masih berkumpul di ruang tengah untuk membahas beberapa kegiatan yang akan mulai di lakukan besok.


Perkumpulan pada malam itu berlangsung lancar dan tidak ada gangguan, setelah di bubarkan, Alia langsung masuk ke dalam kamar beserta teman perempuan yang lain, sementara itu para anak laki-laki masih berkumpul di ruang tengah untuk mengobrol.


Kurang lebih jam 11 malam semua orang sudah mulai tertidur, semua lampu di setiap ruangan sudah padam, kecuali yang ada di dalam kamar.


Alia masih terduduk diam di pinggir kasur yang terletak di lantai dan memikirkan soal dua ekor kelabang tadi sore.


Dia melihat ke sampingnya, kedua teman yang satu kamar dengannya sudah tertidur pulas, namun dirinya masih terjaga.


Hatinya masih merasa tidak tenang bahkan tidak bisa tidur karena terus memikirkan hal itu.


"Ya Allah, kenapa di kepalaku hanya ada bayangan kedua binatang itu?" gumam Alia.


Karena hari sudah semakin malam, Alia pun mencoba untuk membaringkan tubuhnya di samping Afi Yang sudah terlelap, dia mencoba untuk memejamkan matanya meskipun cukup lama sampai dia tertidur.


Tanpa sadar Alia mulai tertidur pulas namun ia bermimpi yang cukup aneh sampai membuatnya merasa tidak nyaman.


Dalam mimpinya itu ia merasa ada sesuatu yang merambat di tubuhnya, tepatnya di bagian leher. Dia mencoba untuk melihat apakah yang merambat dan berjalan pelan di lehernya itu, namun setelah mengetahuinya, ia merasa sangat terkejut.


Alia pun membuka matanya, seketika ia langsung terbangun dari tidurnya saat mengalami mimpi itu, namun ia masih belum beranjak dari posisinya. Dia masih terbaring dengan posisi tidur yang sama, daan anehnya dia masih merasakan sesuatu yang merambat di lehernya itu.


Alia hanya terdiam dan tidak bergerak, dia melirik kan matanya ke bagian leher dan kembali terkejut dengan apa yang ia lihat.


Seketika jantung nya seperti berhenti berdetak, dia bahkan tidak berani bergerak sama sekali, hanya bisa berdoa saja dalam hati.

__ADS_1


Seekor kelabang dengan panjang sekitar jari telunjuk sedang berjalan-jalan di leher bagian depannya, matanya masih terbelalak melihat hewan itu, dia bahkan tidak berani bergerak sama sekali karena takut hewan itu akan menggigit lehernya.


Rasanya ingin sekali Alia berteriak, namun suaranya seperti tidak keluar sama sekali, sungguh itu sama persis seperti mimpi yang ia alami tadi. Dalam hatinya masih bertanya-tanya apakah itu mimpi atau nyata.


Perlahan-lahan kelabang itu mulai berjalan turun dari leher Alia dan terus berjalan sampai ke lantai. Begitu hewan itu terlepas dari tubuhnya, Alia langsung bergerak bangun dari tempat tidurnya dan berdiri ketakutan.


"Astaghfirullah!!" teriak Alia.


Tanpa sadar teriakkan itu terlalu keras hingga membangunkan Afi dan Sandra yang sedang tertidur.


"Aduh Alia, kamu malam-malam teriak ada apa si?" tanya Afi.


Alia hanya menunjukkan jari telunjuknya ke arah kelabang yang terus berjalan menjauh dari mereka.


"Astaghfirullah!! apa itu Al!"


Alia hanya terdiam sembari terus menatap kelabang yang mulai pergi ke luar kamar melalui sela-sela lubang yang ada di bagian bawah pintu. Jantungnya masih berdetak sangat kencang dan tubuhnya juga gemetaran karena kaget.


"Seriusan? itu tadi apaan?" tanya Sandra.


"Aduh Sandra, kamu tadi masih merem yah? itu kelabang!" teriak Afi.


Karena mereka berdua terlalu ribut, akhirnya Nafisah dan kedua temannya yang berada di kamar sebelah pun ikut terbangun. Mereka bertiga datang ke kamar Alia dan bertanya apa yang terjadi.


Afi hanya diam saat Nafisah dan Rahma bertanya, karena dia mencoba untuk memahami Alia, namun Sandra yang terlalu ceplas-ceplos langsung berkata apa adanya.


"Tadi itu ada kelabang, gede!" ucap Sandra.

__ADS_1


"Yang bener kamu? dimana?" tanya Rahma.


"Tadi di situ, tapi udah pergi keluar lewat sana" jawab Sandra sembari menunjukkan tempat keluarnya binatang itu.


Sementara itu Nafisah hanya terdiam sembari menatap Alia dengan tajam, dia sepertinya tahu apa yang sudah di alami oleh Alia.


"Udahlah nggak usah ribut, nggak enak sama Ibu, mendingan sekarang kita tidur lagi aja, masih jam 3 pagi juga" ujar Afi.


Nafisah dan kedua temannya pun kembali ke kamar mereka, sementara Sandra dan juga Afi mencoba untuk kembali tidur karena masih dini hari.


Alia keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar mandi, dia berniat untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam untuk menenangkan hatinya.


Alia terus berdoa dan memohon perlindungan untuk menghilangkan rasa takut yang masih bersemayam di hatinya, dia sama sekali tidak bisa kembali tidur setelah itu. Setelah selesai dia mencoba mengambil ponselnya dan bermain game untuk menghilangkan rasa bosan.


"Ish! waktunya kok berasa lama banget si!"gumam Alia pelan.


Alia melihat ke arah jam dinding yang terpasang di atas pintu kamar, waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi.


Tak lama setelah itu terdengar suara seorang laki-laki yang membaca Al-Qur'an dengan sangat merdu. Suara itu terdengar dari masjid yang terletak di seberang jalan. Karena menggunakan pengeras suara, jadi itu teerdengar sampai ke dalam rumah-rumah di sekitar seperti halnya suara adzan dan Iqamah.


"Masyaallah... suaranya enak sekali di dengar" gumam Alia dalam hati.


Karena penasaran, Alia pun memutuskan untuk mengambil air wudhu lagi karena takut yang tadi sudah batal. Segera setelah itu ia memakai kembali mukenanya lalu berjalan keluar rumah untuk menuju ke masjid. Perlahan-lahan dia membuka pintu rumah dengan pelan dan berjalan keluar. Langit masih sangat gelap dan rumah-rumah warga juga terlihat temaram. Meskipun jarak masjid dari rumah hanya terhalang oleh jalan aspal kecil saja, namun rasanya cukup jauh bagi Alia yang sedang berjalan sendirian. Dia menengok kanan-kiri dan tidak ada seorangpun yang ia lihat.


Waktu Subuh sudah tidak lama lagi jadi dia pun memutuskan untuk menunggu di masjid sembari melihat siapa orang yang sedang tadarus dengan suara yang sangat menyejukkan itu.


"Subhanallah... ternyata jika di dengar dari dekat suara itu sungguh membuat hati tenang" ucap Alia dalam hati.

__ADS_1


Saat sampai di dalam masjid, dia agak kesulitan melihat orang itu karena terhalang oleh tirai yang memisahkan antara jama'ah pria dan wanita. Namun Alia sudah merasa sangat penasaran jadi dia mencoba untuk mengintip perlahan hanya untuk mengetahui siapa orang yang sedang duduk di depan sambil membaca ayat Al-Qur'an dengan suara yang sangat merdu.


__ADS_2