
"Alia kok lama si!"
Mayra menggerutu saat dia menunggu Alia cukup lama di bawah.
"Maaf tadi ada urusan sebentar"
Alia menghampiri Mayra dan berjalan menuju ke parkiran. Alia menyalakan motornya dan mulai melaju.
Di jalan ia masih terpikir tentang kata-katanya yang tanpa ia sadari. Mayra bicara tanpa henti tapi Alia sama sekali tidak menghiraukan.
"Woy Alia stop! ini rumahku udah kelewat!"
Mayra berteriak karena Alia terus melaju ketika melewati rumah Mayra.
"Eh sorry, tadi lupa!"
"Mikirin apa si!"
Alia hanya tersenyum dan tidak berkata-kata, dia lalu putar balik untuk mengantarkan Mayra dan melanjutkan perjalanannya.
Setelah sampai dirumah Alia berganti pakaian dan lalu membersihkan dirinya. Ia berniat istirahat sebentar sambil menunggu waktu Maghrib tiba.
Alia membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menatapi pergelangan tangan kirinya.
"Ternyata hal seperti ini memang benar ada? selama ini aku pikir itu hanyalah ilusi saja. Aku tidak bisa membayangkan sakit yang dirasakan Arrafi waktu itu. Eh kok aku jadi mikirin dia si! bodo ah itu kan salahnya sendiri!"
\_\_\_\-\-\-\-\-\-\_\_\_
Sementara itu di pesantren...
Azam masih membaca Alqur'an dikamarnya sembari menunggu waktu Maghrib tiba. Saat waktu Maghrib semakin dekat, Azam langsung menghentikan kegiatannya membaca Al-Qur'an, dia kembali memegang tangannya yang masih melepuh. Luka itu kembali terasa panas dan perih.
"Astaghfirullah... ucapannya benar"
Azam teringat dengan ucapan Alia yang tadi, dia berusaha untuk mengikuti saran dari Alia dengan merendam lukanya menggunakan air garam. Azam pun bergegas ke dapur untuk meminta sedikit garam dan mengambil sebaskom air lalu di campur dengan garam. Perlahan-lahan ia mulai memasukkan tangannya ke dalam baskom yang berisi air garam tadi.
"Ya Allah ini perih sekali"
Azam merasa sangat kesakitan ketika lukanya di masukkan ke dalam air garam, dia terus berdo'a dan berusaha untuk menahannya.
"Azam! ayo ke mesjid, udah mau adzan! eh kamu lagi ngapain!?"
Salah seorang teman sekamar Azam menghampiri nya dan kaget ketika melihat Azam merendam lukanya dengan air garam.
"Kamu gila ya! ini pasti sakit banget!"
__ADS_1
Teman sekamarnya terus mencoba mengingatkan Azam untuk berhenti namun dia sama sekali tidak menghiraukan sampai Azam menyelesaikan bacaan Al-fatihah nya yang ketujuh dan rasa sakit itu mulai hilang, baru saja Azam menarik tangannya dari rendaman itu.
"Aku tidak papa, ya sudah ayo kita ke masjid"
Azam bicara dengan sangat santai sementara temannya hanya terdiam keheranan. Mereka bergegas ke masjid untuk menjalankan sholat Maghrib berjamaah.
Dan....
Di pesantren putri, Nafisah masih berusaha menahan rasa sakit yang timbul di tangannya. Rasanya hampir sama dengan yang dialami Azam, namun itu lebih ringan karena lukanya tidak terlalu parah seperti Azam. Beberapa santri pengurus memberikan obat luka bakar pada Nafisah, namun tidak ada gunanya. Saat para santri selesai sholat Maghrib berjamaah di masjid barulah rasa sakit yang dialami Nafisah mulai menghilang.
"Alia! aku tidak pernah menyangka!"
Nafisah merasa sangat kesal mengingat kejadian yang menyebabkan tangannya terluka. Dia menjadi semakin membenci Alia.
\_\_\_\_\_\-\-\-\-\-\_\_\_\_\_
Keesokan harinya seperti biasa Alia berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali. Dia juga tidak lupa untuk mampir ke rumah Mayra dan mengajaknya berangkat bersama. Di sepanjang jalan dia merasa bahwa ada yang berbeda dengan Mayra. Tidak seperti biasanya, dia menjadi sangat pendiam.
Begitu sampai di sekolah, Mayra turun dari motor dan Alia memarkirkan motornya. Setelah itu mereka berjalan seperti biasa menuju kelasnya.
"Mayra kamu kenapa!"
"Ngga papa kok"
Alia melihat ke pergelangan tangan Mayra yang menggunakan gelang berbahan kayu berbentuk bulat-bulat berwarna coklat agak muda.
"Oh ini, ngga kok, udah lama cuma baru aku pakai"
Mayra menjawab sambil menunjukkan tangannya pada Alia.
"Masa sih, coba aku lihat? eh...!"
Alia mencoba memegang gelang itu untuk bisa melihatnya lebih dekat, namun ia langsung melemparkan tangan Mayra ketika ia menyentuh gelang itu.
"Kamu kenapa?" tanya Mayra.
Alia masih terdiam dengan wajah kaget, dia merasa aneh setelah menyentuh gelang itu.
"Pemilik gelang itu sudah meninggal?"
Alia bertanya dengan agak ragu, namun ia benar-benar inggin memastikan apa yang ia lihat tadi itu benar atau salah.
"Yah, dia meninggal tadi malam, aku di beritahu tadi pagi" jawab Mayra sambil menunduk sedih.
__ADS_1
"Dia kecelakaan?" Alia kembali bertanya.
Mayra hanya mengangguk, dia seolah masih tidak percaya bahwa orang itu sudah meninggal.
"Dia sepupu ku, dia memberiku gelang ini sudah lama, tapi aku tidak pernah memakainya. Hingga tadi pagi saat aku mendengar kabar dia meninggal, baru aku mencari gelang ini dan memakainya".
"Oh gitu ya, maaf udah banyak tanya"
Alia merasa bersalah karena pertanyaan nya membuat Mayra mengingat kembali tentang orang yang baru meninggal itu dan membuatnya merasa semakin sedih.
"Eh kok kamu bisa tahu si? selain indigo, kamu bukan peramal juga kan?" Mayra heran.
"Hehe"
Alia hanya tersenyum dan tidak bicara, dia mencoba mengalihkan perhatian dengan mengajak Mayra untuk berjalan lebih cepat supaya segera sampai ke kelas.
Namun Mayra masih penasaran dan ia terus meminta penjelasan dari Alia, dan Alia hanya terdiam sambil terus berjalan.
Sampai dikelas Mayra masih saja memaksa Alia untuk bicara, hingga akhirnya Alia mulai bicara.
Alia menjelaskan bahwa hanya dengan menyentuh sesuatu yang berhubungan dengan orang yang sudah meninggal maka ia bisa tahu apa penyebab kematian orang itu, dan juga bisa melihat sedikit dari masa lalunya.
"Kamu itu memang menakutkan!" ucap Nida yang juga mendengarkan Alia bicara.
"Aku ngga menakutkan! tapi kamu yang penakut!"
Alia membalas ucapan Nida dengan nada mengejek. Sedari kecil Nida memang penakut, dia tadinya tidak percaya dengan hal-hal mistis dan tidak pernah tertarik dengan hal seperti itu, namun setelah melihat apa yang pernah terjadi pada Alia, dia jadi percaya tetapi masih saja takut dengan hal semacam itu.
"Bahkan Nafisah saja hanya bisa membaca sedikit dari sifat orang, tapi kamu bahkan bisa melihat masa lalu" Mayra mulai membanding\-bandingkan.
"Aku dan dia tentu sangat berbeda! aku bahkan bisa melihat kelakuan buruknya di masa lalu!" tiba\-tiba Alia lepas kendali dalam bicara, dan itu membuat Mayra dan Nida kaget.
Alia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena keceplosan bicara. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Mayra tidak menanyainya lebih lanjut lagi. Namun dengan sifat Mayra, dia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang ingin dia ketahui.
"Aku pikir, kelebihan itu hanya soal bisa melihat mahluk ghaib dan berkomunikasi dengannya saja. Tapi ternyata, kemampuanmu itu benar\-benar sangat tinggi. Aku bahkan hanya bisa melihat tapi tidak bisa bicara dengan mereka, hanya bisa mengetahui dan merasakan keberadaan mereka saja. Tapi kamu bahkan bisa tahu tentang mereka tanpa mereka memberitahu".
"Kemampuan orang pasti berbeda!"
Alia hanya menanggapi semua pernyataan Mayra dengan jawaban singkat, seolah sudah tidak ingin membicarakan hal itu lebih jauh lagi.
__ADS_1
"Sudahlah! jangan bahas itu terus! aku jadi takut!"
Nida mencoba menghentikan pembicaraan Alia dan Mayra, karena ia sama sekali tidak tertarik saat membahas hal itu. Karena saat mereka sudah bicara hal mistis itu membuat Nida seolah tidak ada dan tidak dianggap.