
Azam membaringkan Alia di ruang tengah dengan kondisi darah yang terus mengalir dari kepalanya.
"Astaghfirullah Alia..."
Semua orang terkejut melihat keadaan Alia, sampai Bu Murniati pun terbangun karena ribut. Afi yang tubuhnya masih sangat lemah pun berusaha untuk bangun dan melihat keadaan Alia.
"Kamu harus segera membawa dia ke rumah sakit nak.." ucap Bu Murniati.
"Tapi ini kan sudah tengah malam, dan kendaraan di sini agak susah" ujar Anton.
"Bapak ada mobil, apa di antara kalian ada yang bisa menyetir?"
"Saya bisa"
"Saya bisa"
Anton dan Azam menjawab secara bersamaan. Dengan segera Bu Murniati mengambil kunci mobil dan memberikannya kepada Azam.
"Ini kuncinya, besok pagi biar Ibu yang kasih tahu Bapak, kalian cepatlah, dan jangan lupa hati-hati".
Anton mengambil kunci mobil itu dan segera mengeluarkannya dari garasi, sementara Azam menggendong Alia dan membawanya ke dalam mobil. Nafisah mengajak Afi untuk ikut karena hanya Afi yang mengetahui kontak orang tua Alia. Sementara itu yang lainnya menunggu esok pagi sampai mobil jemputan mereka datang.
Anton mengemudikan mobil dengan Azam yang duduk di sampingnya, sementara itu di kursi belakang ada Nafisah dan Afi yang terus menjaga Alia.
Sekitar jam satu dini hari mereka pergi meninggalkan rumah Bu Murniati. Jarak tempat itu ke rumah sakit sekitar dua jam, karena rumah sakit terdekat dari daerah itu hanyalah rumah sakit umum daerah yang berada di kota.
"Afi, kamu sudah telfon orang tua Alia?" tanya Azam.
__ADS_1
"Iya sudah, mereka juga dalam perjalanan ke rumah sakit, nanti kita ketemu di sana" jawab Afi.
Sepanjang perjalanan mereka terus berdoa untuk Alia, pundak Afi bahkan basah terkena noda darah dari kepala Alia yang terus mengalir. Kerudung berwarna putih yang di kenakan Alia pun kini berubah warna menjadi merah karena banyaknya darah yang terus keluar.
Dua jam kemudian mereka sampai di rumah sakit kota, kedua orang tua Alia juga sudah menunggu di depan pintu masuk rumah sakit.
Anton memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu unit gawat darurat. Perawat segera membantu mengeluarkan Alia dari dalam mobil dan membaringkan tubuhnya di atas brankar dorong lalu mereka dengan cepat mendorong brankar menuju ke ruang penanganan.
Bu Mia, Pak Aji dan juga yang lainnya mengikuti Alia sampai ke depan pintu ruang penanganan karena mereka semua tidak diijinkan untuk masuk.
Bu Mia duduk di kursi yang ada di sebelah pintu sambil menangis, sementara pak Aji masih berdiri mondar-mandir memikirkan keadaan anaknya.
Didalam ruang perawatan, tubuh Alia yang terbaring tak sadarkan diri mulai di lucuti pakaiannya oleh perawat. Mereka bahkan langsung menggunting baju yang dikenakan oleh Alia dan langsung membuangnya ke tempat sampah karena sudah dipenuhi darah.
Dengan cepat dokter mengambil kain kasa untuk menghentikan pendarahan di kepala bagian belakang, sementara salah satu perawat menjahit luka di bagian keningnya.
Perawat yang lain dengan cepat memasangkan beberapa kabel yang terhubung pada mesin pendeteksi jantung ke bagian dada Alia.
Nafisah dan juga Afi mencoba untuk menceritakan semua yang terjadi kepada Pak Aji, meskipun merasa tidak terima, namun Pak Aji tetap berusaha berlapang dada saat mendengar semua cerita dari Nafisah. Sementara itu Azam hanya berdiri bersandar ke dinding dengan posisi agak jauh dari pintu ruangan. Dia terus menatap pintu yang bertuliskan ICU itu dari kejauhan tanpa bicara apapun.
"Gelang ini kenapa bisa ada di sini? bukannya kemarin Alia sudah melepaskannya?" ucap Azam dalam hati sembari berjalan ke tempat semula ia berdiri.
"Aku yang memakaikannya" ujar Nafisah yang berjalan mendekati Azam tak lama setelahnya.
"Kamu? bagaimana bisa?"
"Waktu itu aku tanpa sengaja menemukan gelang itu terlepas dari tangan Alia, aku berusaha untuk mengembalikan tapi Alia sudah terlanjur marah-marah, tadi sore saat ia mengamuk aku mencoba memakaikannya dan berharap dia bisa lebih tenang" jelas Nafisah.
"Terimakasih sudah melakukan itu" ucap Azam dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Sama-sama"
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian dokter keluar dari balik pintu ruang ICU, Bu Mia langsung bangun dari tempat duduknya dan menghampiri dokter itu.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" tanya Bu Mia.
"Untuk saat ini, anak Ibu mengalami koma" jawab dokter itu.
"Ya Allah... kenapa jadi seperti ini, kenapa anak saya bisa koma dok..." Bu Mia bicara dengan tak hentinya meneteskan air mata.
"Itu karena benturan di kepalanya yang sangat keras dan menyebabkan pembekuan darah di otak. Untuk sementara pasien hanya bisa ditunggui oleh satu orang saja" jelas dokter.
Dokter itu pun berlalu dan suasana berubah menjadi hening saat semua orang terdiam. Bu Mia meminta kepada Pak Aji agar dirinya saja yang masuk ke dalam dan menemani Alia.
Pak Aji mengangguk dan setelah itu ia berusaha menghubungi keluarga dan memberitahu tentang keadaan Alia.
Begitu masuk ke dalam ruangan, Bu Mia tidak bisa lagi menahan tangisnya saat melihat putri sulungnya terbaring di atas tempat tidur tak sadarkan diri.
Kepalanya dibalut perban dengan sangat tebal karena terlihat darah masih menetes, hidung dan mulutnya dipenuhi selang oksigen, di dadanya terpasang banyak kabel yang terhubung dengan mesin yang ada di samping tempat tidur Alia, di tangannya pun terpasang jarum infus beserta alat yang dijepit kan ke salah satu jarinya.
Tubuh Alia hanya ditutupi oleh selembar selimut rumah sakit dan tidak memakai pakaian sama sekali karena seluruh tubuhnya dipenuhi dengan kabel-kabel yang terpasang.
Alia kini seperti mayat hidup yang bergantung pada sebuah mesin rumah sakit.
"Nak... yang kuat yah, kamu pasti bisa lewati cobaan ini" ucap Bu Mia sembari terus meneteskan air mata.
Bu Mia berusaha untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan juga terus berdoa untuk keselamatan putrinya.
"Alia... kamu harus kuat, Mama, Papa, dan juga Sita, kami semua sayang sama kamu"
Bu Mia terus saja mengajak Alia untuk bicara sembari mengusap kepala putrinya itu.
Azam mengajak Anton dan yang lainnya untuk pergi ke mushola. Dia mengerjakan sholat hajat, memohon kepada yang kuasa untuk keselamatan Alia.
__ADS_1
Setelah selesai sholat dan berdoa, Nafisah, Anton dan Afi kembali berjalan ke depan ruang ICU dan menemani Pak Aji yang duduk sendirian. Sementara Azam masih duduk diam di Mushola untuk berdzikir, perasaannya sungguh sangat kacau, dalam hatinya ingin sekali berteriak, mencaci dan juga memaki dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi orang yang ia sayangi.
Belum lama sosok ayah yang selalu ia jadikan panutan telah pergi, lalu tak lama kemudian sosok perempuan yang selalu ia hormati yaitu Ibu nya juga telah menyusul ayahnya. Kini ia tidak tahu lagi harus berbuat apa jika sampai benar-benar kehilangan satu-satunya perempuan yang ia sayangi selain Ibu dan saudara perempuannya.