Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Obrolan malam


__ADS_3

"Alia!"


Alia langsung mengambil cincin yang ia letakkan diatas meja dan menyimpannya kembali di sakunya begitu mendengar seseorang memanggilnya.


Mayra muncul dari balik pintu dan masuk ke dalam ruangan.


"Kamu ngapain sendiri disini?"


Mayra bertanya sembari masuk dan duduk di samping Alia. Tak lama kemudian Mayra mengajak Alia untuk keluar ruangan dan berdiri di balkon lantai atas sambil menatap bintang-bintang yang bersinar di langit. Kebetulan malam itu begitu terang jadi ada banyak bintang di langit.


"Wah indahnya" ucap Alia sambil terus menatap ke langit.



"Tau bagus, dari tadi di dalem aja!"



"Maaf, aku agak capek jadi duduk di dalam buat istirahat".



"Eh itu bukannya anak kelas XII yah? kok disini?" tanya Alia heran ketika melihat beberapa siswa seniornya berada di sekitar panggung.



"Mereka kan santri pengurus, jadi di suruh datang buat ngawasin yang disini kalau\-kalau ada hal yang tidak diinginkan" jelas Mayra.



"*Oh jadi kak Irfan kesini karena itu juga*?" ucap Alia dalam hati.



"Kamu kok diam aja si! lihat siapa!?"



"Nggak kok, eh ini udah jam berapa? astaghfirullah! setengah 12!"


Alia kaget ketika melihat ke arah jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 23.30.


Ia langsung masuk kembali ke ruang panitia dan membereskan barang-barang nya, lalu mengajak Mayra untuk kembali ke rumah nenek Mida.


Lia dan Mayra pun berpamitan untuk pulang karena sudah larut malam, dan di sekolah tinggal tersisa semua panitia laki-laki dan juga beberapa pengurus dari pesantren putra.


"Ayo Mayra cepetan! nanti Sifa keburu tidur terus kita ngga dibukain pintu!"


Alia terus bicara sambil menarik tangan Mayra dan berjalan cepat-cepat.


"Ya sabar ini juga udah cepet!"


Setelah sampai di depan rumah nenek Mida, Alia mencoba mengetuk pintu, dan selang beberapa lama baru Sifa membuka pintunya dan mengijinkan Alia untuk masuk.


Alia bergegas untuk membersihkan diri lalu naik ke kasur dan membaringkan tubuhnya, sementara Mayra masih duduk di pinggir tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


"Mayra! kamu ngga tidur?"



"Belum ngantuk" jawab Mayra singkat.



"Oh ya udah aku tidur dulu bye!"

__ADS_1



"Alia kamu ngga sadar apa!?"


Mayra tiba-tiba bicara cukup keras dan mengagetkan Alia, namun Sifa tidak bergeming dan masih tertidur dengan pulas nya.


"Apa?"



"Dari tadi tu kaya ada yang ngikutin aku!"



"Masa sih? coba sini lihat tangan kamu"


Alia bangun dan mencoba untuk duduk, dia meraih tangan kanan Mayra dan melihat telapak tangannya.


Alia menatap telapak tangan itu cukup lama lalu mengusapnya.


"Udah! ayo tidur!"


Alia kembali membaringkan tubuh nya seolah sudah menghilangkan kekhawatiran Mayra.


"Eh ini apa!?"


Mayra melihat adaa sebuah benda terjatuh keluar dari saku baju Alia dan mencoba mengambilnya. Sementara Alia langsung bangun dan mengambil benda itu sebelum di ambil oleh Mayra.


"Bukan apa\-apa kok hehe"



"Coba lihat!"


Mayra tetap memaksa untuk melihat meski Alia terus berusaha untuk menyembunyikan. Namun Mayra akhirnya dapat merebut benda itu dari Alia.


Mayra memegang cincin itu dan menatapnya dengan teliti. Dia juga terkagum melihat keindahan cincin itu.


"Kamu dapat dari mana cincin seindah ini? eh tunggu dulu, aku kaya pernah lihat"


Mayra mencoba mengingat dimana ia pernah melihat cincin itu, dengan melihat Mayra yang sedang lengah, Alia langsung merebut cincin itu dari tangan Mayra.


"Ngga usah dipikirkan! ngga penting!"


"Ah aku ingat! aku pernah lihat si Irfan pakai ini, jangan\-jangan...."


Mayra menatap Alia dengan tatapan yang sangat menakutkan, ia juga seolah bicara dengan telepati nya untuk meminta penjelasan dari Alia, kenapa cincin itu bisa ada padanya.


"Aku ngga nyuri kok! cuma di kasih!"


Alia merebut kembali cincin yang ada ditangan Mayra dan mencoba untuk memakainya di tangan kiri.


"What!? dikasih? kamu ada hubungan apa sama tukang sihir itu!?"



"Sembarangan kamu ngatain dia tukang sihir!"



"Dia kan emang tukang sihir!"


Alia mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya, namun Mayra malah menjadi semakin kaget mendengar keakraban Alia dengan Irfan.


"Kamu itu bodoh ya!? buat apa kamu terima pemberian dia! dan buat apa juga kamu kasih milik kamu ke dia!" Mayra terus saja mengomel.

__ADS_1



"Kamu kenapa si! syirik banget deh!"



"Kamu ngga tau apa siapa Irfan itu?"



"Aku tau kok! tapi aku kan cuma temenan aja"


Irfan dari dulu memang sangat terkenal sebagai santri yang badung, dia suka mempelajari ilmu kebatinan. Namun terkadang ia juga suka menyalahgunakan kemampuannya. Dia juga mampu menguasai ilmu-ilmu yang bertentangan dengan agama, karena ia mempelajari nya diam-diam. Ia bahkan dikenal mampu mengguna-gunai perempuan agar bisa tergila-gila padanya. Dan yang tidak banyak orang tahu, dia juga diam-diam mempelajari ilmu santet. Jadi tak heran jika beberapa santri baru takut padanya, namun ia juga terkenal sebagai santri yang rajin dan juga ramah sehingga dia juga memiliki banyak teman dan begitu dihormati oleh junior nya. Irfan tidak pernah mempraktekkan kemampuan buruknya itu, namun saat dia sudah benar-benar marah barulah sisi hitamnya itu keluar.


"Kamu hati\-hati! jangan sampai terpengaruh!" Mayra mencoba mengingatkan Alia, namun sepertinya Alia sama sekali tidak mempedulikannya.



"Setidaknya dia satu aliran sama aku! dan ngga nyebelin kaya para anak ulama itu!"



"Maksud kamu Azam?"


Mayra mencoba menegaskan siapa orang yang dimaksud, dan Alia hanya mengangguk.


"Apa si sebenarnya yang bikin kamu benci banget sama dia?" tanya Mayra.



"Kamu udah pernah salaman atau nyentuh tangannya dia?"


Mayra menggelengkan kepalanya, "setau aku dia menjaga jarak sama lawan jenis"


"Kamu percaya kalau dia pernah megang tangan aku?" Alia terus bicara dengan nada sewot.


Mayra kembali menggelengkan kepalanya dan hanya terdiam.


"Tuh kan dia itu pembohong! katanya anti buat sentuhan sama cewe! tapi waktu itu tanpa ragu seenaknya aja megang\-megang"



"Hahahahahaha"


Tiba-tiba Mayra tertawa terbahak-bahak dan membuat Alia semakin bingung. Ia sungguh tidak paham dengan apa yang sedang dilakukan oleh Mayra.


"Jadi karena itu?"



"Tau ah! pokoknya aku benci ya benci!"


Alia mulai kesal bicara dengan Mayra, ia membaringkan tubuhnya lagi dan membelakangi Mayra yang masih tersenyum mengejek.


"Alia kamu ngga sadar apa kalau Azam itu suka sama kamu?" ucap Mayra sembari menghentikan tawa.



"Nggak! nggak mau juga! udah ah aku mau tidur!"


Alia mencoba untuk tidak menghiraukan Mayra dan memejamkan matanya agar bisa tertidur, namun Mayra masih saja mengejeknya.


Di dalam hati Mayra tersimpan rasa khawatir pada temannya itu, dan membuatnya menjadi semakin tidak bisa tidur.


Mayra terus melihat kearah jari tangan Alia yang memakai cincin batu hitam dengan hati cemas, seolah seperti akan ada hal buruk yang terjadi.

__ADS_1


Note: orang pintar(memiliki ilmu kebatinan) terkadang memakai benda yang di percaya berisi mahluk halus di dalamnya, terkadang ada yang menganggapnya sebagai jimat pelindung atau bisa juga untuk tujuan lain. Namun ada juga yang memakai benda itu hanya untuk kesenangan saja.


__ADS_2