Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Miesya


__ADS_3

 


Matahari sudah terbit, terdengar suara Kokok ayam jantan yang berbunyi saling bersahutan. Alia masih sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, sementara itu Sita menyapu lantai dan membereskan rumah karena kedua orang tua mereka masih belum pulang.


 


Setelah semua pekerjaan rumah selesai, kakak beradik itu segera menikmati sarapan pagi dan bersiap untuk pergi melakukan kesibukannya masing-masing.


Sekitar jam setengah tujuh pagi Sita berpamitan kepada Alia untuk pergi ke sekolahnya, sementara Alia masih sibuk membereskan sisa sarapan mereka.


Alia masih bisa bersantai karena hari ini dia memiliki jadwal kuliah mulai jam 10 pagi, jadi dia bisa berangkat agak siang dari rumah. Namun tiba-tiba Alia teringat ada sebuah tugas yang belum ia selesaikan, jadi selesai membereskan piring kotor ia langsung bersiap dan segera berangkat ke kampusnya.


Begitu sampai di kampus Alia langsung menuju ke perpustakaan untuk mencari buku-buku yang ia butuhkan sebagai referensi.


Alia duduk di kantin sendirian dengan segelas kopi mix favoritnya. Dia sibuk dengan laptopnya dan menyelesaikan tugas. Sebenarnya tugas itu adalah tugas untuk Minggu depan, tetapi Alia lebih memilih segera menyelesaikan supaya tidak merasa di kejar-kejar tugas yang belum selesai.


Sekitar jam sepuluh kurang Alia bergegas menuju ke kelasnya karena sebentar lagi kuliah akan segera di mulai.


Alia tiba di kelas dan langsung duduk di bangkunya, terlihat semua teman sekelasnya sudah duduk di bangku masing-masing kecuali Meisya, dia masuk kelas tak lama setelah Alia duduk.


Alia melihat Meisya yang berjalan masuk ke dalam kelas dengan gaya sombongnya, namun kali ini dia kembali di buat terkejut saat melihat sosok anak kecil yang berjalan di belakangnya.


Sosok anak kecil itu hampir mirip seperti Chika, namun bedanya adalah, wajah anak itu yang sangat buruk rupa.


"Itu kan..." Alia masih terkejut melihat sosok itu, dia bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.


"Al? kamu ngapain si? lihat Meisya kok kaya lihat hantu!" tanya Sandra yang heran melihat sikap Alia.


"Eh itu... em enggak kok"


Alia tidak ingin semua orang curiga bahwa dirinya memang bisa melihat mahluk tak kasat mata, jadi dia memilih untuk diam dan kembali duduk.


Sebenarnya Alia teringat bahwa sosok itu lah yang tempo hari sempat ingin menyerangnya lalu ia kurung ke dalam sebuah gelang kayu. Namun kini Alia merasa sangat heran kenapa sosok itu bisa mengikuti Meisya.


Setelah Alia kembali mengingat-ingat lagi, dulu juga dirinya sempat pernah melihat sosok anak kecil itu berjalan mengikuti Meisya, jauh sebelum dia mengenal Chika, namun Alia tidak sempat melihat wajahnya karena Meisya berjalan terlalu cepat, dan sejak saat itu Alia tidak pernah lagi melihat anak kecil itu berjalan dibelakang Meisya.


"Kenapa? kenapa jadi dia si?" Alia masih bertanya-tanya dalam hatinya.


Beberapa jam berlalu, Alia mengikuti kelas dengan konsentrasi yang kurang, dia merasa tidak bisa fokus sama sekali karena keberadaan mahluk itu yang terus saja berdiri di samping Meisya


Tak lama kemudian dosen mengakhiri pertemuannya dan pergi meninggalkan kelas. Semua orang pun mulai keluar kelas.


"Al kamu nggak keluar?" tanya Sandra.


"Ah Sandra, sini bentar deh" Alia meminta Sandra untuk mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Apaan?"


"Emmm emang Meisya itu beneran bisa lihat mahluk halus yah?" ucap Alia pelan.


"Lah kan aku udah pernah bilang dari dulu"


"Kamu pernah tahu nggak kalau dia punya teman hantu anak kecil gitu?"


"Aku emang tahu kalau dia bisa lihat yang seperti itu, tapi aku nggak pernah tahu mahluk seperti apa yang jadi temannya itu" jelas Sandra.


"Oh gitu, makasih yah"


Alia langsung bangun dan pergi meninggalkan Sandra.


"Yah kok aku malah ditinggal si! dasar aneh!" Sandra menggerutu karena Alia pergi tanpa mengajaknya.


Alia berjalan dengan buru-buru menuju ke gedung fakultas keagamaan untuk menemui Azam. Dia ingin menanyakan apakah mahluk yang berada dalam gelang itu masih ada atau tidak.


"Alia! kamu Alia kan?" tiba-tiba saja Alia berpapasan dengan senior keagamaannya.


"Eh iya kak, saya Alia, kenapa yah?" tanya Alia.


"Kamu hari ini diminta untuk ikut rapat di ruang KRS" ucap senior itu.


"Iya, kemarin kan kamu setuju untuk ikut organisasi KRS buat bantu persiapan kegiatan ospek?"


"Oh iya lupa! ya udah kalau gitu saya segera ke sana kak, permisi"


Senior itu pun berlalu dan melanjutkan perjalanannya, sementara itu Alia harus mengurungkan niatnya untuk menemui Azam dan menanyakan soal gelang.


Alia akhirnya memutar arah dan menuju ke ruang KRS. Di sana terlihat bahwa belum semua anggotanya datang karena hanya baru ada beberapa orang saja.


"Permisi kak, saya Alia, boleh saya duduk?" tanya Alia.


"Oh iya duduk aja"


Alia merasa agak canggung karena dalam ruangan itu hanya ada kakak tingkatnya, belum ada satupun orang yang berasal dari angkatan yang sama dengannya.


"Eh ta, kamu udah denger belum?"


"Soal apa?"


"Itu loh adik tingkat kita yang katanya punya indera keenam!"


"Oh iya? siapa?"

__ADS_1


"Kalau nggak salah dia jurusan pendidikan bahasa Inggris deh"


Alia masih diam karena merasa canggung, namun tanpa sengaja ia mendengar percakapan kakak tingkatnya mengenai anak dari fakultas yang sama dengannya.


Dia pun mencoba untuk mendekat dan bergabung dalam obrolan yang terlihat sangat asyik itu.


"Maaf kak, lagi ngomongin apa yah, kelihatannya seru banget" tanya Alia sembari berbasa-basi.


"Oh ini, katanya ada adik tingkat yang bisa lihat hantu" ucap salah seorang senior itu.


"Mila kamu kok ngomong ke dia si!" teriak teman senior itu.


Mereka berdua berasal dari kelas yang sama, selisihnya dua semester di atas Alia, namanya Gita dan juga Mila, mereka berdua terlihat ramah dan tidak membeda-bedakan antara kakak tingkat dan adik tingkat.


"Biarin aja lagi, lagian siapa tahu dia kenal sama orang yang kita omongin" ucap Mila.


"Oh emang kalau boleh tahu siapa namanya kak" tanya Alia.


"Kalau nggak salah namanya Meisya! iya Meisya!"


Mendengar hal itu Alia sudah tidak kaget lagi karena dia sudah mengetahui hal itu cukup lama.


"Kamu kenal dia nggak?" tanya Gita.


"Oh kebetulan saya satu kelas sama dia" jawab Alia agak ragu.


"Iya kah?, oh iya katanya dia juga sering lihat kalau di kampus kita ini banyak penunggunya! hiii serem nggak si?" Mila menyahuti.


Alia hanya tersenyum karena bingung harus menjawab apa.


"Oh iya, katanya dia juga punya temen, anak kecil gitu" imbuh Mila.


"Teman hantu maksudnya Mil?" tanya Gita.


"Ya iyalah! emang teman apalagi!"


Alia terdiam mendengar pernyataan tu, ekspresi wajah yang tadinya tersenyum ramah kini berubah menjadi tegang dan kaget.


"Eh Alia! kamu kenapa kok diam begitu?" Mila bertanya pada Alia karena heran melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah.


"Eh nggak papa kok kak, emangnya kakak tahu dari mana kalau Meisya itu punya teman hantu anak kecil?" tanya Alia.


"Oh itu dia sendiri yang cerita, tempo hari pas dia ke ruang kesehatan buat ganti perban lukanya" ujar Mila.


Alia kembali terdiam, rasa penasaran akan sosok anak kecil itu semakin besar, dia juga mulai berpikir kalau sebenarnya Meisya lah yang mengirim sosok anak kecil itu untuk menyerangnya.

__ADS_1


__ADS_2