
Untuk beberapa saat Alia masih berusaha melihat orang itu, namun tak lama kemudian bacaannya berhenti. Suasana menjadi sangat sepi dan membuat Alia merasa tegang.
"Loh kok berhenti, jangan-jangan dia tahu ada yang ngintip lagi" gumam Alia.
Tak lama setelah itu terdengar adzan subuh dengan suara yang sama. Alia menghela nafas lega karena dirinya tidak ketahuan sedang mengintip.
"Alia!"
Alia kembali merasa terkejut saat Afi tiba-tiba berada di belakangnya dan berteriak.
"Kamu ya! aku pikir kamu kemana, ternyata di sini, pergi nggak bilang-bilang, bikin orang khawatir tahu!" Afi terus saja bicara, mengeluarkan kekesalannya karena sudah mencari Alia di seluruh bagian rumah tetapi tidak menemukannya.
Tak lama kemudian semua temannya dan juga beberapa warga sekitar mulai berdatangan untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Alia pun harus merelakan untuk belum bisa mengetahui pemilik suara merdu yang tadi.
_____------______
Kegiatan pagi hari di mulai dengan kerja bakti, mereka berbagi tugas untuk tiga bagian. Sebagian membersihkan masjid dan juga halamannya, lalu membersihkan rumah dan juga halamannya dan yang terakhir membantu Bu Murniati menyiapkan sarapan.
Alia bersama dengan Erik, Anton dan juga Sandra mendapat bagian untuk membersihkan rumah dan halaman.
Setelah selesai melakukan tugas di bagian dalam rumah, Alia langsung keluar rumah untuk membersihkan bagian halaman, dia menyapu bagian depan rumah menggunakan sapu lidi. Awalnya biasa saja, namun beberapa saat setelah itu Alia kembali melihat seekor kelabang yang terus mengikutinya.
"Astaghfirullah, Sandra tolongin aku dong aku takut sumpah!" teriak Alia.
Ketiga temannya pun langsung berlari menghampirinya dan bertanya ada apa.
Alia menunjukkan tempat di mana kelabang itu berada, namun tiba-tiba hewan itu sudah tidak ada.
"Woy Alia, kamu ngelindur yah? bangun udah siang!" teriak Erik.
"Erik kamu jangan gitu lah, semalam memang ada kelabang yang masuk kamar kita, jadi mungkin Alia masih takut dan terbawa sampai sekarang" ujar Sandra.
"Oh jadi ceritanya trauma gitu, kamu itu umur berapa si, sama binatang kecil aja takut!"
__ADS_1
"Kamu tu yah mulutnya nggak bisa ngomong yang halus dikit!" Sandra merasa kesal dengan perkataan Erik, mereka berdua pun berdebat karena keduanya sama-sama tidak mau kalah dalam ucapan.
"Hei sudah-sudah! kok malah jadi berantem, Alia lebih baik kamu ke dapur saja bantu Afi dan Rahma menyiapkan sarapan" ucap Anton dengan nada yang pelan dan sopan.
Alia mengangguk lalu berjalan menuju ke dapur, sementara itu Sandra dan juga Erik masih saling memasang ekspresi kesal. Sejak awal mereka berdua sungguh tidak bisa akur seperti kucing dan tikus.
Dari dalam masjid Azam memperhatikan mereka berempat yang sedang bicara, dia juga melihat Alia yang berjalan pergi dengan wajah yang gelisah.
"Kamu suka sama dia Zam?" ucap Latif sembari menepuk pundak Azam.
"Eh Latif, kamu itu ngmong apa si"
"Kelihatan kok dari mata kamu, lagian kalian kelihatan cocok kok" ujar Latif.
Azam hanya terdiam sembari tersenyum kecil dan terus melihat ke arah seberang jalan.
"Ternyata laki-laki itu suka gosip juga yah!" ucap Nafisah yang membuat Azam dan Latif kaget.
Mereka berdua bahkan tidak menghiraukannya sama sekali dan melanjutkan kembali pekerjaan mereka masing-masing.
*****
Sekitar jam 9 malam Alia baru masuk kamar dan berniat untuk tidur. Meskipun teman-temannya masih sibuk membuat beberapa laporan, namun ia langsung berbaring di kasur dan memejamkan matanya karena semua tugasnya sudah selesai.
Malam itu, Alia tidur dengan sangat nyenyak setelah seharian pikirannya dipenuhi dengan kecemasan.
Di tengah-tengah tidurnya, tiba-tiba ada seorang perempuan muda berpakaian serba hitam dengan rambut panjang sebahu berdiri di hadapannya. Alia pun terbangun dan mencoba untuk duduk, dia melihat ke arah sosok perempuan itu, wajahnya terlihat sangat marah dan ingin balas dendam.
"Kamu siapa? mau apa kamu ke sini?" tanya Alia pelan.
Perempuan itu hanya diam dan terus menatap Alia dengan tajam.
Tak lama setelah itu muncul sosok laki-laki menggunakan baju putih yang terlihat sudah sangat lusuh. Baju putih itu bahkan sudah berubah warna menjadi coklat karena sangat kotor terkena tanah, kepalanya bulat tidak berambut dengan mata besarnya.
Sosok laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya yang ternyata dipenuhi dengan bulu rambut seperti duri. Mungkin lebih tepatnya seperti kaki dari binatang kelabang yang ada di seluruh bagian kulit tangannya. Jika dilihat dari kejauhan mungkin tangan itu akan terlihat seperti kelabang besar yang menempel pada tubuh sosok laki-laki itu.
Tangan itu menggenggam tangan kanan Alia dan seketika Alia berteriak kesakitan karena rasanya sangat panas seperti di sengat oleh kelabang.
__ADS_1
"Kamu sudah membunuh pasanganku! kamu harus merasakan akibatnya!" teriak sosok perempuan berbaju hitam yang masih berdiri didepan Alia.
"Ayo ikut aku!" sosok laki-laki yang masih memegang tangan Alia juga berteriak padanya, dia terus menarik tangan Alia seolah ingin mengajak Alia pergi untuk ikut bersama mereka.
"Aaaa sakit, tolong, tolong lepaskan!!" teriak Alia.
Entah kenapa semua teman Alia tidak ada yang terbangun mendengar teriakannya, hanya Nafisah yang terbangun dan langsung menghampirinya.
Begitu Nafisah datang, kedua sosok itu langsung menghilang tanpa jejak.
"Kamu kenapa?" tanya Nafisah.
Alia masih terduduk diam sambil memegangi tangan kanannya yang terluka. Seluruh bagian yang tadi di pegang oleh mahluk itu menjadi merah, terasa sangat panas dan gatal, tangannya juga bengkak. Gejala itu persis seperti saat terkena sengatan kelabang.
"Kenapa bisa seperti ini?" Nafisah kembali bertanya, namun Alia tetap diam sambil terus menahan sakit.
Nafisah mencoba memegang tangan kanan Alia lalu memejamkan matanya dan membacakan beberapa doa, namun sepertinya dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh Alia.
Tapi Nafisah justru menemukan kebenaran lain, ia melepaskan tangan Alia dengan posisi tangan kanannya yang masih mengepal.
Begitu ia membuka kepalan tangannya, ada sesuatu yang tertarik dari dalam tubuh Alia dan berhasil dikeluarkan olehnya.
"Mahkota bunga Mawar putih?" gumam Nafisah sembari melihat selembar kelopak bunga Mawar putih yang masih ada di telapak tangan kanannya.
Nafisah kembali melihat ke arah Alia, dan seketika itu mahluk berjubah putih yang selama ini ia lihat dan selalu berada di dekat Alia pun menghilang seperti terbawa angin.
Sementara itu Alia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya, seperti baru saja melepaskan beban, tubuhnya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
"Tok tok tok"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Nafisah pun bergegas bangun untuk membuka dan melihat siapa yang mengetuk pintu di tengah malam.
"A... Azam?" ucap Nafisah dengan gugup.
"Mana benda itu?" ucap Azam dengan tegas.
"Benda? benda apa maksudnya?"
__ADS_1
"Yang kamu keluarkan dari dalam tubuhnya Ragasy!"
Nafisah kembali merasa terkejut saat mendengar ucapan Azam, dia melihat ekspresi Azam yang terlihat sangat kesal dan marah, selama bertahun-tahun Nafisah mengenal Azam, baru kali ini ia melihat sosok Azam yang begitu kesal dan menunjukan kemarahannya itu pada orang lain.