
Kuku panjang dari sosok Chika mulai menyentuh leher Alia sehingga dia sudah benar\-benar tidak bisa lagi bersuara.
Pada saat itu Alia tiba-tiba teringat dengan nasehat Papa nya agar dia bisa terus fokus pada pikiran dan berusaha untuk mengendalikan mereka, jangan pernah membiarkan mereka bisa mengendalikan tubuh Alia.
Alia mulai memejamkan matanya sambil terus berdoa, dengan sekuat tenaga dia mencoba mengangkat tangan kanan dan mengarahkannya kepada Chika.
Awalnya tangan Alia memang masih kaku dan sangat sulit di gerakkan, namun setelah beberapa saat dia mencoba akhirnya Alia berhasil menggerakkan tangannya.
Alia memfokuskan pikirannya pada satu titik, mencoba menghilangkan rasa iba dan kasihan yang ia miliki pada mahluk itu. Dirinya juga tidak berhenti berdoa sampai akhirnya sosok itu lenyap seperti tertarik ke dalam telapak tangan kanannya.
Dengan cepat Alia langsung mengepalkan tangannya seperti memegang sesuatu yang sudah ia tangkap. Setelah itu ia segera bangun dan berjalan pergi dari tempat itu dengan posisi tangan kanan yang masih mengepal.
Alia berjalan dengan sangat terburu-buru karena masih bingung harus ia apakan mahluk yang sekarang berada di genggaman tangannya itu.
Semakin lama tangan Alia semakin merasa panas dan juga perih, ia bahkan sudah tidak tahan dengan rasa panas itu dan hampir saja melepas genggaman tangannya.
"Aduh gimana yah, buang di mana ini?"
Alia masih berdiri di dekat parkiran sembari menengok kanan-kiri dan mencari tempat yang tepat untuk meletakkan sosok Chika.
"Alia? ngapain kamu di sini kaya orang bingung?"
Tiba-tiba saja Afi datang menghampiri Alia dan membuatnya kaget.
"Eh Afi, kebetulan banget Fi!"
"Kebetulan apa?"
Alia melirik ke sebuah gelang kayu yang di pakai oleh Afi dan langsung terpikir pada sesuatu.
"Fi itu gelang kamu boleh buat aku ngga?"
"Gelang? gelang ini maksudnya?" sembari menunjukkan gelang kayu yang di pakai pada pergelangan tangan kirinya.
"Iya udah sini buat aku yah!"
"Tapi buat apa? ini kan cuma gelang biasa" tanya Afi yang masih heran.
"Udah buruan lepas deh sini gelangnya ntar aku jelasin?"
Afi pun melepaskan gelangnya dan memberikan gelang itu kepada Alia. Alia meraih gelang itu menggunakan tangan kirinya dan langsung menyatukan kedua tangannya.
Alia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengurung sosok Chika di dalam gelang itu meskipun sulit dan itu kali pertamanya Alia melakukannya. Setelah beberapa saat akhirnya panas di tangannya mulai berkurang dan aura sosok Chika sudah berpindah ke dalam gelang kayu milik Afi.
__ADS_1
"Al, tangan kamu melepuh! kamu kenapa?"
Afi heran saat melihat tangan Alia seperti terbakar. Dia mencoba untuk melihat lebih dekat lagi dan memegangnya.
"Aw sakit!" Alia berteriak saat Afi tanpa sengaja menyentuh tangan kanannya yang terluka.
"Sorry sorry, nggak sengaja Al, ya udah sekarang kita ke ruang kesehatan dulu yah?"
Alia hanya mengangguk sembari terus memegangi tangan kanannya. Alia dan Afi bergegas menuju ke ruang kesehatan untuk segera mengobati luka di tangan Alia.
"Pelan-pelan dong Fi sakit tahu!" ucap Alia.
"Ini udah pelan kok! lagian kamu itu kenapa si kok bisa luka begini?"
Afi masih sibuk membalut luka di tangan Alia sementara itu pikiran Alia masih tertuju pada gelang kayu milik Afi yang ia pegang di tangan kirinya.
"Udah selesai Al!" ucap Afi sembari tersenyum.
"Eh udah yah, makasih ya Fi"
"Sama-sama, ya udah sekarang kita ke kantin dulu yah, aku lapar nih"
Alia hanya mengangguk dan menuruti ajakan Afi untuk pergi ke kantin.
"Jadi gini Fi ceritanya..."
Akhirnya Alia pun menceritakan semua yang terjadi padanya tadi karena sudah tidak tahan terus mendengar pertanyaan yang sama dari Afi.
"What? Chika? kok bisa gitu si?" teriak Afi yang kaget setelah mengetahui semuanya.
"Yah aku juga nggak tahu lah"
"Terus, sekarang dia ada di dalam gelang aku itu?"
Alia hanya mengangguk sembari tersenyum karena tidak bisa lagi menjawab pertanyaan Afi.
"Aduh Alia... masa gelang aku di isi sama setan si!"
"Sssttt jangan keras-keras kali Fi! lagian kan tadi aku udah bilang kalau gelang itu buat aku aja!"
Afi hanya terdiam dengan wajah yang kesal, dia tidak lagi bicara dan langsung memakan makanan yang sudah ia pesan sejak tadi.
Sementara itu Alia masih sibuk memandangi gelang kayu yang ia pegang.
__ADS_1
"Enaknya ini gelang di apain ya Fi?" tanya Alia.
"Bakar aja!" masih sibuk dengan makannya.
"Boleh juga yah, tapi kalau di bakar ntar isinya gentayangan lagi dong?"
"Bukannya setan itu harusnya emang di bakar?"
"Ya kalau di bakar pakai api biasa ya sama aja dong!"
Alia dan Afi masih saja berdebat tentang nasib dari gelang itu sampai-sampai beberapa orang yang berada di kantin mengira kalau mereka sedang bertengkar, setelah lama berdebat akhirnya Alia memutuskan untuk tetap menyimpan gelang itu di rumahnya.
"Jadi apa kamu bisa bawa motor dengan tangan kamu yang seperti itu?" tanya Afi.
"Hehe, pulang sama kamu yah"
"Huh lagian kamu si pakai berteman sama setan segala! gini kan jadinya!" ucap Afi kesal.
"Yaahh gimana dong, tadinya kan dia baik"
"Ya gimana apanya! yang namanya setan itu nggak ada yang baik!"
Alia hanya terdiam mendengar pernyataan Afi, dia sudah tidak bisa lagi menyangkalnya. Setelah Afi selesai makan, dia segera pergi dan mengantarkan Alia pulang ke rumahnya menggunakan motor milik Alia. Setelah sampai di rumah Alia, dia pulang ke rumahnya menggunakan angkutan umum karena jarak rumah mereka tidak terlalu jauh.
"Tangan kamu kenapa nak?" tanya Bu Mia yang khawatir melihat anaknya terluka.
"Nggak papa kok Mah, tadi cuma jatuh aja pas di kampus"
Alia berusaha untuk menutupi kebenaran tentang lukanya karena tidak ingin membuat orangtuanya khawatir.
"Kamu sudah makan?"
"Udah Mah, tadi aku mampir ke kantin dulu"
"Ya sudah sekarang kamu istirahat yah"
Alia mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Di dalam kamar, Alia membuka laci lemari dan mengeluarkan kotak kayu yang berada di dalamnya. Alia meletakkan gelang milik Afi yang tadi ia bawa itu ke dalam kotak kayu dan menyimpannya kembali ke dalam lemari pakaiannya.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga aman, ya Allah, aku nggak ada niat apapun, hanya nggak ingin mahluk ini berkeliaran saja dan mengganggu orang lain" ucap Alia dalam hati.
"Nak mandi dulu nak, Mama sudah siapkan air hangat buat kamu, nanti biar Mama bantu bersihkan luka di tangan kamu yah" ucap Bu Mia yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Alia.
"Eh iya Mah sebentar lagi yah"
__ADS_1
Bu Mia pun langsung ke luar dari kamar Alia dan kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.