
**Cerita kakak Ziva**
Dengan nada pelan, Ziva memulai ceritanya tentang kedua kakak kembarnya, Vika dan Vita. Kurang lebih 10 tahun yang lalu saat usia kedua kakak kembarnya 15 tahun dan Ziva berusia 11 tahun.
Sejak kecil kedua orangtuanya sangat menyayangi mereka bertiga, Vika dan Vita juga sangat menyayangi Ziva.
*****
Dulu... kami tidak tinggal di sini, dulu kami tinggal di sebuah desa yang cukup terpencil, jauh dari kota dan juga keramaian.
Hari itu hari ulang tahun kedua kakak kembarku yang ke 15, rasanya menjadi hari terakhir kami bisa tertawa dan bermain bersama.
Sejak hari itu sikap kak Vika mulai berubah. Dia lebih senang menyendiri dan duduk di tempat yang sepi, dia bahkan enggan untuk berbicara padaku ataupun pada kak Vita.
Suatu hari aku melihat kak Vika sedang duduk sendirian di bawah pohon, aku benar-benar tidak melihat siapapun di sana kecuali kak Vika, tapi dia terlihat seperti sedang asyik mengobrol dengan seseorang. Pada saat itu aku dan kak Vita belum menyadari kemampuan kami yang bisa merasakan hal-hal mistis, tapi mungkin kak Vika sudah mengalaminya.
Satu tahun berlalu sejak hari ulang tahun itu, dan sikap kak Vika menjadi semakin aneh, dia lebih terang-terangan menunjukkan kalau dia mempunyai teman tak kasat mata, aku dan kak Vita sangat sedih melihat keadaan kak Vika yang sudah tidak mau bicara pada kami lagi.
Mulanya semua baik-baik saja, sampai satu ketika kami mendapat kabar kalau ternyata ibuku hamil lagi, dan itu benar-benar bukan hal yang di rencanakan.
Sejak kehamilan ibu, sikap kak Vika menjadi semakin keras, dia bahkan mulai berani berteriak kepada ibu.
Ayah dan ibuku mencoba menghubungi Om ku yang tinggal di kota, hanya dia satu-satunya di keluarga kami yang bisa berhubungan dengan hal-hal gaib.
Ayah dan ibu meminta tolong pada Om ku supaya bisa mengembalikan kak Vika pada kondisi seperti semula, namun Om ku tidak bisa berkata-kata saat ia melihat tingkah laku kak Vika. Om ku hanya menyarankan kami agar segera pindah dari rumah sebelum ibuku melahirkan.
__ADS_1
Aku sempat bertanya pada Om ku kenapa kita semua harus pindah ke tempat lain, tapi dia tidak mau menjawab ku.
Saat usia kehamilan ibu mencapai delapan bulan, kami akhirnya pindah ke sini. Dulu kamar itu kami gunakan untuk tidur bertiga, meskipun sebenarnya itu adalah kamarku sendiri, tapi aku selalu meminta kakak kembarku untuk tidur bersama.
Awal kami pindah ke sini sikap kak Vika benar-benar berubah, dia seperti kembali pada dirinya yang sebelumnya. Kami bertiga kembali dekat dan akrab, kami juga menanti adik kami yang masih belum lahir.
Namun kebersamaan itu ternyata hanyalah sementara. Hari dimana ibu mulai merasakan kontraksi, di hari itu juga kak Vika mulai sering kesakitan, tubuhnya menjadi panas dingin, dia sering berteriak tak karuan.
Malam itu, air ketuban ibu pecah dan segera di bawa ke rumah sakit. Di saat yang bersamaan kak Vika juga mengalami demam yang sangat tinggi, tubuhnya kejang-kejang dan dia terus saja berteriak.
Ayah memanggil Om ku untuk menjaga kami bertiga di rumah sementara Ayah dan Tante menunggu ibu di rumah sakit.
Aku sempat berkata pada Om ku agar membawa kak Vika ke rumah sakit, namun dia menolak dan berkata bahwa penyakitnya bukanlah penyakit yang harus di bawa ke rumah sakit.
Om ku berusaha untuk menenangkan kak Vika yang masih berteriak histeris, dia membaca berbagai macam doa yang ia bisa sampai akhirnya kak Vika mulai tenang.
Aku dan kak Vita duduk di sampingnya, dia mulai tersadar dan menggenggam tangan saudara kembarnya sambil tersenyum lalu berkata "Kita akan selalu bersama!"
Seketika aku meneteskan air mata, apa maksudnya dia berkata seperti itu? seolah-olah ia akan segera pergi dan tidak akan kembali lagi.
Aku melihat ke arah jam dinding dan ternyata sudah jam 12 kurang lima menit. Aku juga baru ingat bahwa hari itu jika sudah lewat tengah malam maka akan menjadi hari ulang tahun ke dua kakak kembarku yang ke 17.
Dalam sekejap suasana di kamar itu menjadi sangat hening, demam kak Vika mulai menurun, namun itu membuatku khawatir karena suhu tubuhnya terus menerus turun dan kini menjadi sangat dingin.
Kring... kring... jam 12 lewat 15 menit Om ku menerima telepon dari ayahku, dia memberi kabar kalau ibuku sudah melahirkan dan bayinya laki-laki, dan di waktu yang sama juga kak Vita menangis histeris, dia berteriak pada kak Vika, memintanya untuk bangun.
__ADS_1
Aku langsung memegang tangan kak Vika, tangannya itu sudah sangat dingin dan kaku, aku lalu memanggil Om ku dan menyuruhnya memeriksa keadaan kakak.
Om ku menghela nafas sambil berkata "Innalilahi wa innailaihi rojiun..."
Tangis kak Vita semakin menjadi, aku hanya terdiam sembari menatap wajah kak Vika dengan mata yang terpejam dan sudah tidak bernafas lagi. Aku benar-benar tidak mengerti apa arti semua ini, kenapa bisa seperti ini.
Tak lama kemudian kak Vita pingsan, Om ku membawanya ke kamar sebelah dan meminta ku untuk menjaganya, sementara Om akan mengurus kak Vika.
Aku masih tidak percaya jika kak Vika benar-benar meninggal, ini harusnya adalah hari ulangtahunnya yang ke 17, tapi kenapa malah jadi hari kepergiannya, ditambah lagi kami baru saja memiliki adik baru.
Hari itu benar-benar menjadi hari yang tidak akan pernah bisa kami lupakan.
Paginya aku dan kak Vita bersama Om dan ayah pergi ke pemakaman kak Vika, sementara ibu di rumah, dia tidak ikut karena harus menjaga anaknya yang baru saja lahir.
Setelah pemakaman selesai, aku dan kak Vita berdiri sebentar di sana, kak Vita menggenggam tanganku sembari berkata "Kamu lihat itu Zi?" sambil menunjuk ke arah sebuah pohon besar yang berada di dekat makam kak Vika.
Aku mencoba melihatnya, awalnya aku tidak bisa melihat apapun, namun tangan kak Vita menggenggam ku semakin erat sampai akhirnya aku benar-benar terkejut setelah bisa melihat apa yang ingin di tunjukkan oleh kak Vita.
"I itu..." Aku tergagap, bahkan tidak bisa meneruskan ucapanku saat melihatnya.
Itu adalah pertama kalinya aku bisa melihat hal yang tak kasat mata dan bukan semata karena usahaku, tapi karena bantuan dari kak Vita.
Aku melihat dengan jelas di bawah pohon itu, ada kak Vika yang sedang berdiri tersenyum menatap ke arah kami. Aku tak tahu harus berbuat apa, ingin menangis tapi rasanya tidak bisa, ingin berteriak dan memberitahu ayah, tapi bibirku juga menjadi kaku dan sulit untuk bicara.
Akhirnya aku hanya bisa diam sambil terus menggenggam tangan kak Vita sampai rumah.
__ADS_1