Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Kasepuhan?


__ADS_3

"Alia kamu hari ini nggak usah berangkat sekolah dulu yah" ucap Bu Mia.


"Lho kenapa mah?" kamu masih nggak enak badan kan, istirahat dulu aja di rumah, nanti Mama yang telepon wali kelas kamu buat izin" jelas Bu Mia.


Alia hanya diam dan tidak bisa membantah perkataan Mama nya. Dia pun kembali lagi ke kamarnya dan menyendiri.


Sementara Bu Mia membereskan rumah dan menyiapkan segala keperluan Sita untuk sekolah. Setelah semuanya selesai, baru ia menghampiri Alia yang sedang duduk di kamarnya.


"Kamu takut nak?" tanya Bu Mia.


"Nggak kok mah, cuma belum terbiasa aja" jawab Alia singkat.


"Dulu Mama pernah di kasih tau sama almarhum Mbah Arsa, katanya keluarga kita itu punya kasepuhan" Bu Mia mulai bicara.


"Kasepuhan itu apa Ma?" tanya Alia.


"Itu semacam mbah buyut dari keluarga, yang punya ilmu kebatinan luar biasa, mereka tidak hanya bisa berkomunikasi dengan mata batin, tapi banyak juga dari mereka yang menyimpan pusaka tertentu" jelas Bu Mia.


"Pusaka? pusaka apa Ma?" Alia masih penasaran.


"Macam-macam,, ada yang berbentuk keris, rambut, bahkan batu permata, dan semua itu harus dirawat dan dijaga baik-baik" imbuhnya lagi.


"Apa termasuk memberikan sesaji?" tanya Alia lagi.


"Kalau orang dulu memang masih percaya sama yang seperti itu"


"Tapi bukannya itu musyrik mah?"


"Ya! itu benar! makanya dari dulu Mama nggak pernah mau ketika disuruh menyimpan sesuatu dari Mbah Arsa" kata Bu Mia sambil mengingat sesuatu.


"Mama pernah di kasih apa ?" Alia makin penasaran.


"Dulu Mama memang di kasih sebuah batu berwarna putih bersih, nggak terlalu besar, hanya sekitar se jempol orang dewasa. Batu itu seperti punya mata, berkali-kali Mama mencoba membuangnya, tapi selalu kembali lagi"


"Masa sih Ma?"


"Kamu percaya?"

__ADS_1


"Yah, kalau yang itu aku belum pernah lihat, tapi kalau yang lain...." Alia mulai mengingat kembali kejadian yang selama ini ia alami.


"Soal pohon besar itu?" tanya Bu Mia sambil menatap dalam mata Alia.


Alia hanya mengangguk diam.


"Itu adalah pohon jati, umurnya sudah puluhan tahun, bahkan sejak Mama masih kecil pohon itu sudah sebesar itu" kata Bu Mia.


Alia masih terdiam dan menatap Mama nya, seolah ia ingin Mama nya melanjutkan cerita itu.


"Dulu almarhum Mbah Arsa pernah bilang kalau di pohon itu memang ada yang tinggal, seorang kakek dan peliharaan nya, yaitu kera putih yang kamu lihat itu. Dia di sebut sebagai Hanuman"


"Kok kaya yang di cerita wayang itu ya mah" Alia mulai bicara lagi.


"Ya! kalau kata orang dulu, cerita wayang itu memang benar terjadi, tapi Mama juga nggak tahu kebenaran nya. Dan soal kera itu, Mama sendiri belum pernah melihatnya, hanya mendengar saja" jelas Bu Mia lagi.


"Tapi Mah, apa itu nggak mengganggu?" Alia terus saja bertanya untuk menghilangkan rasa penasaran nya.


"Mereka disitu memang untuk menjaga, nggak ada niat untuk mengganggu, kecuali kalau mereka di ganggu duluan"


"Yah! dulu pernah ada orang yang ingin menebang pohon itu, tapi nggak bisa, dan anehnya gergaji mesin sebesar itu bisa patah begitu saja"


Alia keheranan mendengar cerita dari Mama nya itu, kali ini dia terus bertanya karena dia merasa harus tahu tentang semua yang ia alami. Karena semua yang ia alami masih berhubungan dengan keluarga dan para almarhum mbah buyutnya.


"Mah, kalau kasepuhan itu berarti menurunkan ilmu nya kepada keturunan nya kan? tapi kenapa anak cucu kandung Mbah Arsa tidak ada yang seperti dia?" tanya Alia.


"Tidak semua orang bisa mewarisi ilmu itu, hanya orang terpilih saja, yang hatinya bersih dan tidak ada niat untuk memperkaya diri dengan ilmu yang di miliki"


"Maksud Mama?"


"Itu semua sudah takdir nak, kamu tidak bisa memilih takdir mu sendiri" kata Bu Mia sambil memeluk Alia.


"Kamu harus kuat! kamu harus bisa mengendalikan nya! jangan sampai jiwa kamu yang dikuasainya!" kata Bu Mia sambil terus memeluk Alia dengan erat.


"Ma... tapi kadang aku takut Ma..." kata Alia memelas.


"Kamu tahu nggak kalau kemampuan orang itu berbeda?" tanya Bu Mia seraya melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Aku tahu mah, tapi yang Mama maksud itu kemampuan apa?" tanya Alia penasaran.


"Ada orang yang punya kemampuan sedikit, tapi dia bisa mengendalikan, jadi dia bisa mengembangkan dan membuatnya sebagai kelebihan, tetapi ada juga yang tidak menghiraukan kemampuan itu dan hidup seperti biasa saja"


"Aku nggak mudeng mah?" kata Alia sambil menggelengkan kepalanya.


" Kamu tahu Sita?" tanya Bu Mia.


"Maksud Mama Sita juga sama kaya aku mah?" Alia kaget mendengar pertanyaan Mama nya.


" Tentu saja tidak, kemampuan Sita hanya setitik kecil saja, dia bisa mendengar suara itu, namun hanya itu saja" jelas Bu Mia.


" Jadi nggak bisa lihat kaya aku ya mah?" ucap Alia dengan nada melemah.


" Ya. Dan Mama lebih memilih untuk membiarkan nya begitu saja, anggap saja angin lalu, jadi itu tidak masalah, dan Mama tidak perlu menceritakan semuanya pada Sita".


"Tapi kenapa Mama menceritakan padaku?"


"Kamu istimewa nak! sejak kecil memang sudah ada yang selalu menjaga mu, dan kelebihan mu itu sangat sempurna, hanya saja kamu mungkin masih belum bisa mengendalikan" Bu Mia mencoba meyakinkan Alia.


Alia tertunduk dan merenung. "Jadi maksud Mama, ku nggak bisa mengabaikan kelebihan ku? dan harus belajar untuk mengendalikan?" Alia mulai memahami kata-kata Mama nya.


"Kamu itu anak yang cerdas nak! kamu pasti bisa!" Bu Mia mencoba menyemangati Alia.


"Asal kamu tahu ya, Mama juga sebenarnya bisa merasakan, terkadang Mama juga tahu hal baik dan hal buruk yang akan terjadi, tapi tidak bisa melihat mereka apa lagi berkomunikasi," jelas Bu Mia.


Alia hanya terdiam menatap Mama nya dan mencoba tersenyum.


"Oiya Mah, kalau soal Boneka Barbie ku itu..." Alia mengingat tentang bonekanya lagi.


"Boneka itu memang sudah dihuni, dan itu sudah menemani kamu sejak lama, jadi itu terserah kamu mau menyimpan atau membuang nya. Mama cuma berpesan agar kamu jangan pernah takut ketika melihat apapun! itu saja, kamu harus percaya pada diri kamu sendiri!" kata Bu Mia sambil tersenyum pada Alia.


Alia mengangguk dan membalas senyuman dari Mama nya.


"Ya sudah Mama keluar dulu yah, kamu istirahat" kata Bu Mia seraya pergi dari kamar Alia.


Sementara Alia masih duduk terdiam dan kembali menatap boneka kesayangan nya.

__ADS_1


__ADS_2