
Irfan mengantarkan Alia pulang menggunakan motornya, sementara motor Alia kembali di titipkan ke asrama.
Sepanjang perjalanan Alia hanya diam saja, tangannya masih gemetaran karena kaget dan takut.
Irfan membelokkan motornya dan menepi ke sebuah rumah makan, dia sangat sadar bahwa ada yang sedang terjadi pada Alia, jadi dia ingin mencoba untuk menenangkannya.
"Loh ngapain berhenti disini?"
"Makan lah"
"Tapi ini udah makin malam, aku nggak mau orangtuaku khawatir"
"Kamu lihat deh tangan kamu, gemetar gitu kaya orang belum makan dari pagi, mendingan sekarang kita makan dulu nanti baru lanjut lagi"
Alia tidak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa menuruti perkataan Irfan karena kebetulan dia memang belum makan sejak siang.
Alia langsung mencari tempat duduk sementara Irfan pergi untuk memesan makanan, setelah itu ia kembali dan duduk berhadapan dengan Alia.
"Irfan benar juga yah, mungkin saja aku memang lapar jadinya pikiranku jadi kacau"
Alia berucap dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya yang masih saja gemetaran.
Tak lama kemudian pelayan datang untuk mengantarkan minuman. Alia langsung meraih gelas yang berisi es teh manis itu dan langsung meminumnya dengan perlahan.
"Pelan-pelan dong Alia"
Irfan mengingatkan Alia, namun Alia sama sekali tidak menghiraukan.
Alia sangat asyik meminum es teh manis yang berada di depannya itu sampai kemudian dia tersedak dan sangat terkejut saat es teh yang ia minum itu berubah menjadi cairan merah kental seperti darah segar.
"Astaghfirullah!!"
"Makannya kan tadi aku udah bilang supaya pelan-pelan?"
Alia terdiam namun matanya melotot ke arah gelas minumannya dan tangannya kembali sangat gemetaran bahkan lebih parah dari sebelumnya.
Irfan heran melihat Alia yang seperti orang ketakutan saat melihat segelas minuman di depannya itu.
__ADS_1
"Kamu kenapa si?"
"Itu... itu..."
Alia bicara terbata-bata sambil menunjuk ke arah minumannya, dia berdiri ketakutan seperti sedang melihat hantu. Irfan melihat sekeliling, orang-orang mulai melihat ke arah Alia. Irfan pun segera mengambil gelas minuman tersebut dan meminta kepada pelayan supaya segera menggantinya dengan yang baru.
"Udah sekarang kamu tenang ya, ayo duduk"
Alia duduk dengan perlahan, kedua tangannya masih mengepal menahan supaya tidak gemetaran.
"Kamu sebenarnya kenapa?"
"Kamu nggak lihat tadi? tadi di dalam gelas itu berisi darah!"
"Darah? darah apa si maksudnya?"
Alia berusaha menjelaskan apa yang ia lihat namun Irfan sepertinya tidak percaya, jadi Alia memilih untuk kembali diam.
"Gelang kamu mana?"
Irfan menanyakan gelang kayu yang selalu di pakai oleh Alia, dan Alia pun melihat ke arah pergelangan tangan kirinya. Ia baru teringat kalau ternyata gelang itu sudah putus tadi sore saat ia mencoba membuka pintu ruangan yang terasa asing.
"Ah iya tadi nggak sengaja putus"
Alia akhirnya menceritakan semua yang ia lihat saat berada di gedung fakultas keagamaan. Dari situ Irfan mulai menyadari bahwa mahluk pohon yang menggangu Alia itu memiliki aura yang cukup tinggi, dan dia tidak akan dengan mudah melepaskan orang yang sudah ia ikuti. Sekarang Irfan tahu kenapa setiap mahasiswa baru yang sudah menjadi incaran mahluk pohon itu pasti tidak akan bertahan lama di kampus dan lebih memilih untuk mengundurkan diri.
Tak lama kemudian Alia meminta Irfan untuk segera mengantarnya pulang karena perasaannya sudah sangat tidak enak.
Irfan pun akhirnya mengantar Alia pulang dan tidak jadi makan.
Begitu sampai di rumah Alia tidak berkata-kata dan langsung masuk ke kamarnya, jadi Bu Mia yang mengucapkan terimakasih kepada Irfan karena telah mengantarkan Alia.
Saat sudah berada di dalam kamarnya Alia menjadi lebih tenang dan tidak ketakutan lagi.
Tak lama kemudian Bu Mia datang dan menghampiri Alia, dia bertanya apakah Alia baik-baik saja atau tidak, setelah itu ia menyerahkan amplop berisi uang yang harus di bawa besok untuk membayar kuliah Alia.
**********
Keesokan harinya Alia berangkat seperti biasa. Sebenarnya hari ini jam kuliah Alia adalah jam 10, namun karena ia di jemput oleh Irfan, maka Alia harus berangkat jam 7 karena Irfan ada kelas pagi.
Sesampainya di kampus Alia bingung harus pergi kemana, namun ia teringat pesan Mama nya untuk membayarkan uang kuliah. Ia pun langsung berjalan menuju ke gedung rektorat dan masuk ke ruang administrasi.
__ADS_1
Tak lama kemudian Alia keluar dari ruang administrasi, dia berjalan sendirian melewati lorong yang sepi.
Tiba-tiba Alia melihat sosok mahluk berwarna putih, bentuknya tidak jelas namun itu sangatlah besar dan menakutkan.
Alia hanya diam dan menatap mahluk itu sambil terus berjalan, namun ia merasa kakinya seperti terikat sesuatu, dan saat ia melihat ke bawah ia mendapati kakinya sudah diikat oleh selendang putih yang entah berasal darimana.
Braakkk!!!! Alia pun terjatuh dalam posisi tengkurap, dagunya terbentur lantai dan tidak sadarkan diri, suasana di lorong itu sangatlah sepi karena setiap orang berada di dalam ruangan.
Saat Alia terbangun tiba-tiba dia sudah berada di dalam sebuah toilet.
"Loh kok aku bisa di sini si?"
Alia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi setelah ia tidak sadarkan diri. Ia mencoba untuk keluar namun ternyata pintunya terkunci dari luar, karena ternyata toilet itu memang sedang dalam perbaikan.
Alia mencoba berteriak minta tolong namun tidak ada yang mendengar. Cukup lama Alia berdiam di dalam toilet itu, ia terus mengetuk-ngetuk pintu, berharap ada yang mendengar dan membukakan.
Ceklek... krieettt...
Tak lama kemudian pintu terbuka, ternyata Azam yang membuka pintu dan ia melihat Alia terduduk di lantai dengan wajah yang putus asa.
"Ragasy... kamu kenapa?" ayo bangun"
"Jangan sentuh aku!"
Azam mencoba untuk membantu Alia berdiri namun Alia menolaknya. Alia keluar dari toilet dan memandang Azam dengan tatapan yang sinis.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Alia.
"Oh aku tadi habis dari ruang dosen dan nggak sengaja lihat kamu lagi jalan menuju toilet ini, tapi pas aku keluar aku dengar suara minta tolong, jadi aku datang ke sini"
Alia sangat terkejut mendengar ucapan Azam, karena seingat Alia, kakinya di tarik oleh selendang putih dan terjatuh sampai tidak sadarkan diri.
"Kamu nggak bohong kan?"
"Buat apa aku bohong, kamu bisa tanya teman sekelas aku, tadi dia juga lihat kamu jalan ke arah sini"
"Nggak perlu!"
Alia langsung pergi meninggalkan Azam, dia masih bingung dengan kejadian tadi.
"Kok aneh si? padahal tadi aku jelas-jelas lagi jalan di koridor dan mau keluar dari gedung itu, kok bisa jadi ke toilet si?"
__ADS_1
Alia bergumam sambil memegangi dagunya, dan ternyata dagunya memang terluka karena tadi ia sempat jatuh dan membuatnya tak sadarkan diri.
"Lukanya ada, berarti aku nggak menghayal dong? terus yang di lihat Arrafi sama temenannya itu siapa?"