
Alia sampai di kelas dan duduk di bangku nya. Tak lama kemudian Nida datang dan duduk disampingnya.
"Pagi-pagi udah ngelamun aja, mikirin apa?"
Alia hanya terdiam dan tidak menghiraukan Nida, dia menyandarkan kepalanya diatas meja. Nida pun tidak berkata apa-apa lagi dan mencoba membuka bukunya.
"Kamu tahu ngga si Da, beberapa hari ini banyak orang aneh yang aku temuin"
"Kamu ngelantur kali" Nida hanya mengejek.
"Serius Da, kamu tau si Arrafi itu kan?"
"Azam maksud kamu?"
Alia mencoba duduk tegak dan mengangguk. Nida menatapnya dengan penuh rasa penasaran. Mereka berdua saling menatap dengan serius.
"Ya! katanya dia anak yang sangat alim kan?" Alia kembali bicara dengan nada lemas.
"Ya gitu, salaman sama cewe aja ngga pernah mau" Nida kembali mengatakan hal yang dikatakan oleh Sifa semalam.
"Cih! pembohong!!"
"Maksud kamu apa?"
"Dia itu jelas-jelas ngga kaya gitu!"
"Oh iya, tadi pagi dia minta obat luka bakar tuh, aku lihat tangannya lebam merah" ucap Nida.
"Masa sih?" Alia tidak percaya.
"Buat apa bohong? lihat aja sekarang tangannya bahkan masih dibalut perban, padahal kemarin masih ngga papa"
"Apa iya cuma gara-gara sentuhan tangan sama aku jadi kaya gitu? atau mungkin itu alasan dia selama ini ngga mau sentuhan tangan sama cewe ya?" ucap Alia dalam hatinya.
"Woy! bengong lagi! kamu tu hobi banget bengong yah!?" Nida kembali mengagetkan Alia.
Tanpa terasa bell istirahat siang berbunyi, Nida langsung membereskan bukunya dan pulang ke pesantren.
"Aw!! ini kepala kok tiba-tiba sakit bangat yah" Alia berteriak sambil memegang kepalanya.
"Kamu ngga papa?"
"Sakit banget! beneran!"
"Ya udah ayo istirahat dulu ke kamarku"
Perlahan Nida memapah Alia keluar kelas menuju ke pesantren. Mereka berdua berjalan dengan pelan namun tiba-tiba
__ADS_1
Bruggg!!!
"Aww!!! siapa si! jalan ngga lihat-lihat!!" Alia berteriak kesal karena seseorang tanpa sengaja menabraknya dari belakang.
Alia membalikkan badannya dan kembali terkejut saat melihat orang itu lagi. "Dia yang kemarin menabrakku?"
"Zi... ah maaf, lebih baik nanti kamu ke kamar Zizi!" ucap senior itu lalu pergi begitu saja.
"Kenapa malah Zizi?" Alia agak kesal mendengar perkataan itu.
"Alia ayo!" Nida kembali memapah Alia untuk berjalan, mereka berdua pun melanjutkan jalan menuju ke pesantren.
Sesampainya dia kamar Nida, dia langsung pergi ke dapur untuk mengambil air hangat dan juga obat, dia juga tak lupa untuk mengambil jatah makan siang.
"Nih minum dulu, kamu makan ini yah, nanti abis itu minum obat" Nida memberikan minum dan makanan kepada Alia, dia memang sangat perhatian kepada Alia, sudah seperti saudara sendiri, begitupun sebaliknya ketika Nida merasa sakit maka Alia berusaha untuk merawat sebisanya.
"Al kamu istirahat dulu yah, aku mau ke dapur dulu bantuin yang lain bagiin jatah makan siang"
Alia hanya mengangguk, dia lalu membaringkan tubuhnya untuk beristirahat, namun tiba-tiba dia teringat ucapan senior tadi yang menyuruhnya untuk ke kamar Zizi.
"kenapa harus Zizi si!?"
Alia berusaha bangun dari tidurnya dan bergegas menuju ke kamar Zizi, saat ia menaiki tangga ternyata ia berpapasan dengan teman sekelas Sifa yang tadi pagi sempat bicara padanya. Alia hanya diam dan tidak menyapanya, orang itupun hanya diam dan terus menatap Alia dengan tatapan yang membuatnya semakin tidak nyaman.
"Kenapa si semua orang menatapku dengan tatapan yang menakutkan?"
"Alia, kamu datang? ayo masuk" ucap Zizi sembari bangun dan mencoba untuk duduk.
"Masih belum sembuh mba?" tanya Alia heran.
Zizi hanya tersenyum dan berkata "Bukannya tadi kamu juga merasakan?"
"Maksudnya apa?"
"Rasa sakit yang kamu rasakan tiba-tiba, itu sama dengan yang kami berdua rasakan" ucap Mita dengan cepat.
Alia menjadi semakin tidak mengerti, dia memang sempat merasa pusing dengan tiba-tiba, namun ia pikir itu hanya kelelahan saja dan tidak ada hubungannya dengan yang dikatakan Mita dan Zizi.
"Duduklah"
Alia mencoba untuk duduk, dia kembali penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Zizi.
"Kita bertiga itu sama! sama-sama terlahir dengan kelebihan, namun kemampuan kita berbeda-beda. Tapi dalam lingkungan sedekat ini, kita bisa terhubung satu sama lain?" jelas Zizi.
"Jadi maksudnya, saat kamu sakit, maka aku juga bisa merasakan? termasuk mba Mita juga?"
Zizi dan Mita mengangguk.
__ADS_1
"Tapi hanya jika rasa sakit itu berhubungan dengan kemampuan kita, bukan penyakit yang diidap seseorang" imbuh Mita.
"Jadi maksudnya, rasa sakit itu disebabkan oleh mereka yang ngga terlihat?" Alia kembali menebak sementara Mita dan Zizi kembali mengangguk.
Alia menjadi semakin bingung dengan keadaan ini. Mereka bertiga mengobrol banyak dan ini membuat Alia menjadi semakin akrab dengan Mita dan Zizi.
"Oh iya, tadi sebenarnya aku kesini karena ada yang nyuruh" Alia lalu teringat senior yang sudah menabraknya dua kali.
"Oh maksudmu Irfan?" Mita tiba-tiba menjawab.
"Oh jadi namanya Irfan?" ucap Alia dalam hati.
"Itu aku yang nyuruh kok, aku nyuruh dia kalau ketemu kamu buat bilang itu" ucap Zizi.
"Kapan kamu ketemu dia? bukannya kamu dari kemarin terbaring dikamar dan ngga ke sekolah?" Alia kembali dibuat bingung oleh Zizi.
"Atau jangan-jangan dia juga?" tanya Alia
"Nggak! dia itu cuma anak pesantren yang badung! dia emang bisa melihat dan merasakan, tapi dia ngga sama kaya kita, dia cuma suka mempelajari hal-hal semacam itu" jelas Zizi.
"Oh gitu, kok situ paham betul"
"Dia satu kelas sama aku" ucap Zizi.
"Oh ya?"
Zizi hanya mengangguk.
Setelah banyak bercerita dengan Mita dan Zizi tentang pengalaman mereka masing-masing, Alia menjadi semakin mengerti kenapa dia merasa aneh saat bertemu Mita dan Zizi.
"Tapi kenapa dari kemarin sudah ada dua orang yang memperingati aku untuk berhati-hati?" Alia kembali teringat kata-kata yang diucapkan Azam dan salah satu teman sekelas Sifa.
"Alia jujur saja dari kami bertiga kamu adalah yang paling istimewa!" ujar Mita.
"Kenapa semua orang bilang aku ini istimewa! memang apa istimewa nya aku! heran deh!" Alia menggerutu kesal karena dirinya selalu mendengar kata-kata itu.
"Kamu harusnya sadar! diantara kami hanya kamu yang lebih mampu! apa kau tau kalau kami bisa melihat mereka tapi agak sulit bagi kami untuk bicara dengan mereka!" Zizi mulai bicara dengan nada tinggi.
"Ya! aura yang menjagamu itu bahkan sangat kuat dan saya bisa melihat kalau kamu juga mampu melihat masa lalu mereka!" Mita pun ikut bicara.
"Fisikku bahkan sangat lemah, terkadang aku tidak mampu menahan aura mereka yang begitu kuat" Zizi kembali bicara.
"Jadi karena itu kamu jadi sering sakit ngga jelas?"
Mita dan Zizi mengangguk, sementara Alia hanya terdiam.
"Tapi kenapa harus aku lagi? padahal selama ini aku selalu berusaha menutupi"
__ADS_1