
Tiga hari setelah di rawat inap,bapak Aji pun akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Alia merasa sangat senang karena papanya sudah di nyatakan sehat.
Bu Mia dan pak Aji pulang menaiki mobil Charter dan membawa barang-barang mereka, sementara Alia pulang dengan mengendarai sepeda motornya.
Begitu sampai di rumah, Bu Mia langsung membaringkan pak Aji di kamar dan Alia mengambil minum untuk mereka berdua.
"Alia kamu jagain papa dulu yah, mama mau nengok Sita"
Alia pun mengangguk sementara Bu Mia langsung pergi untuk menemui anak bungsunya di rumah nenek Imah.
Bu Mia heran ketika mendapati rumah nenek Imah yang kosong dan tidak ada orang satupun.
"Ini pada kemana yah?" gumam Bu Mia.
"Eh Bu Mia sudah pulang dari rumah sakit?"
Tiba-tiba ada tetangga sebelah yang lewat dan menyapa Bu Mia.
"Ah iya Bu, ini baru saja. Mau nyari Sita tapi di sini ngga ada orang" jelas Bu Mia.
"Oh Bu Mia ngga tau yah kalau nenek Wanda lagi sakit, mereka mungkin ke sana"
"Jadi begitu, terimakasih Bu infonya"
Ibu itu pun pergi setelah memberikan informasi ke pada Bu Mia.
Nenek Wanda adalah saudara sepupu dari Mbah Arsa, bisa dibilang dia adalah adik sepupunya, jadi masih ada ikatan saudara meskipun jauh. Nenek Wanda adalah seorang janda tua yang tidak memiliki anak, suaminya meninggal saat ia masih muda dan memutuskan untuk tidak menikah lagi. Dia hanya memiliki satu saudara perempuan yaitu nenek Sasi, dia juga bernasib sama seperti nenek Wanda, janda tua dan tidak punya anak.
Mereka berdua tinggal dalam satu rumah yang sangat sederhana dan saling menjaga satu sama lain. Selama ini yang sering mengunjungi mereka hanya Bu Mia dan nenek Imah, karena saudara mereka yang lain sudah jauh dan bahkan sudah tidak pernah datang mengunjungi mereka.
Bu Mia sudah di anggap seperti anak mereka sendiri, begitu Alia dan Sita, mereka sudah seperti cucunya.
Bu Mia langsung menuju ke rumah nenek Wanda yang tidak jauh dari rumahnya. Setelah berjalan kaki kurang lebih lima menit dia pun sampai.
"Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam..."
Bu Mia langsung masuk ke dalam dan mendapati nenek Wanda sedang terbaring lemas di tempat tidurnya.
"Mama!" Sita langsung menghampiri Bu Mia dan memeluknya.
__ADS_1
"Mia, suamimu sudah pulang nak?" nenek Imah kaget ketika melihat anaknya menyusul. Bu Mia hanya mengangguk menjawab pertanyaan nenek Imah.
"Beliau sakit apa bu?" tanya Bu Mia.
"Katanya gejala stroke, separuh tubuhnya mati rasa"
"Ya Allah, kasihan sekali"
Suasana menjadi hening, mereka tidak banyak bicara, kedua janda tua itu hanya bisa menerima nasib mereka. Bu Mia duduk di samping nenek Wanda dan memijat pelan kakinya. Dia berniat untuk menenangkan hati nenek Wanda agar berlapang dada menerima cobaan ini.
Setelah cukup lama berada di sana, Bu Mia teringat akan suaminya yang baru pulang dari rumah sakit. Dia pun segera berpamitan dan berjanji akan kembali lagi besok pagi.
_____------_____
"Mama dari mana aja? lama banget" Alia menggerutu setelah sekian lama mamanya baru kembali.
"Maaf sayang tadi mama ke rumah nenek Wanda, dia sakit"
"Sakit apa mah?"
Bu Mia pun menceritakan semua yang di alami oleh nenek Wanda, Alia jadi merasa iba karena mengingat mereka tidak mempunyai keturunan yang bisa di andalkan untuk merawat mereka saat sakit.
"Mah, sebenarnya kenapa si mereka tidak punya anak. Dan suaminya meninggal muda, kok bisa sama gitu nasibnya"
Bu Mia pun mengajak Alia untuk masuk ke kamarnya dan mengobrol di sana berharap tidak ada orang lain yang mendengar.
"Jadi mereka itu mempunyai sebuah tanda lahir mematikan"
Alia menjadi semakin bingung dengan pernyataan mamanya. Dia hanya terdiam berharap mamanya segera melanjutkan cerita itu.
Bu Mia berkata bahwa nenek Wanda sewaktu muda menikah lebih dulu dari kakaknya yaitu nenek Sasi. Belum satu bulan setelah mereka menikah suaminya meninggal secara misterius, karena nenek Wanda sangat mencintai suaminya maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi.
Kalau nenek Sasi, dia sempat menikah dua kali, namun nasibnya sama dengan nenek Wanda, suaminya meninggal.
Mereka berdua mempunyai toh(tanda lahir penuh makna) yang berwana merah kehitam-hitaman di tubuhnya.
Sesepuh mereka orang Jawa biasa menyebutnya Tohpati (yang membawa keburukan).
Mereka percaya bahwa sebuah ular siluman bersemayam di balik toh itu. Saat mereka menikah dan akan berhubungan maka ular itu akan keluar dan membunuh suami dari perempuan itu.
"Ya ampun kasian banget mah, tapi itu kan bukan keinginan mereka"
__ADS_1
"Ya mama tahu, tapi itu juga sudah takdir"
"Lalu apa semua perempuan yang punya toh itu juga akan bernasib sama?"
"Selama mereka bisa menemukan pasangan yang tepat maka itu bisa saja berubah"
"Maksudnya apa mah, aku ngga ngerti"
"Kamu tahu pak Yunus?"
"Yang punya Mushola itu?"
Bu Mia memberitahu Alia bahwa istri pak Yunus juga mempunyai Tohpati, tapi dia berhasil membuangnya.
Alia menjadi semakin penasaran bagaimana cara pak Yunus dapat membuang Tohpati itu.
Bu Mia berkata bahwa pak Yunus melakukan tirakat/berpuasa selama 40hari dan juga patigeni(menjauhkan diri dari segala kesenangan duniawi, berdiam diri dalam kamar atau tidak keluar, mengurangi penggunaan cahaya, baik itu lampu ataupun api, dan menggunakan semua waktu itu untuk berdoa dan berdzikir).
Lalu pada malam ke 40 dia akan membaringkan istrinya tanpa busana dan berdoa disampingnya. Ia terus berdoa sampai ular itu keluar dari tubuh sang istri lalu menangkapnya dengan tangan kosong.
Ular itu bukan ular biasa, hanya orang yang sudah tirakat dan patigeni selama 40hari yang bisa melihatnya. Lalu pak Yunus memasukkan ular itu ke dalam sebuah botol dan membuangnya jauh-jauh.
Paginya, dia pun sudah bisa melihat bahwa tanda merah kehitam-hitaman itu sudah hilang dari tubuh sang istri dan bisa menjalani kehidupan suami istri yang normal.
"Orang yang bisa melakukan itu pasti bukan orang sembarangan ya mah" ucap Alia.
"Tentu saja, hanya orang beriman tinggi yang bisa melakukannya"
"Tapi bukannya pak Yunus itu anaknya hanya anak adopsi?"
"Yah, mungkin Allah menakdirkan mereka untuk tidak mempunyai anak sendiri. Pada kenyataannya istri dari pak Yunus itu mandul, dan dia juga meninggal karena sakit"
"Kasihan sekali pak Yunus, dia pasti sangat mencintai istrinya"
Bu Mia lalu menatap Alia, dia terdiam sejenak lalu berkata "Alia... kamu juga punya toh!"
"Apa!?" Alia sangat kaget mendengar ucapan mamanya itu. Dia langsung memikirkan hal yang tidak-tidak karena telah mendengar cerita yang di sampaikan namanya. Ia menjadi berpikir jika dia tidak menemukan orang yang cocok maka dia akan bernasib sama seperti nenek Wanda dan nenek Sasi.
"Tapi mah, aku ngga pernah lihat di tubuhku ada tanda seperti itu!"
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh! ya sudah mama mau kasih obat dulu buat papa kamu"
__ADS_1
Bu Mia pun keluar dari kamar Alia, sementara Alia masih terdiam dan memikirkan ucapan mamanya.
"Aku juga punya toh? apakah nasibku..."