Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Tidak nyaman


__ADS_3

Hari itu Alia berangkat sekolah seperti biasa, kebetulan hari itu adalah hari Selasa, yaitu jadwal untuk kegiatan ekstrakurikuler PMR.



Hari itu juga merupakan hari terakhir Irfan berada di pesantren. Siang itu setelah pulang sekolah Alia memutuskan untuk beristirahat di pesantren.


Alia kembali ke sekolah untuk kegiatan ekstrakurikuler nya, Alia sengaja berjalan sendirian namun Dista masih saja mengikutinya karena masih malu jika harus ke ruang PMR tanpa Alia, sedangkan Nida dan Mayra masih sibuk bersiap di pesantren.


Alia sengaja berjalan pelan ketika di depan pintu masuk pesantren putra, entah kenapa ia seperti sedang memperlihatkan bahwa ia sedang berjalan bersama dengan Dista. Irfan yang sedang bersiap untuk pergi dari pesantren pun melihat itu, dan sepertinya rasa kesalnya masih ada.



Alia masuk ke ruang PMR dan menjalankan kegiatan seperti biasa, sampai waktu kegiatan berakhir semuanya berjalan dengan lancar. Saat semua anggotanya pulang karena kegiatan telah selesai, Alia masih sibuk di ruangan mengurus sesuatu.



Ting... begitu Alia mengaktifkan ponselnya tiba\-tiba langsung berbunyi dan ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.



"*Awas kalau kamu berani macam\-macam sama Dista*!"


Alia membuka pesan singkat itu dan membacanya dalam hati, tanpa di beritahu pun ia bisa tahu siapa yang sudah mengirim pesan itu.


"Darimana dia bisa dapat nomorku?"


Alia sempat bertanya-tanya pada diri sendiri bagaimana dia bisa mendapatkan nomor ponsel Alia.


"*Aku tidak peduli! memangnya kenapa jika aku macam\-macam dengannya? mungkin senang rasanya jika bisa mengerjai anak sepolos dia*!"


Entah kenapa Alia mengetik pesan begitu saja tanpa berpikir, karena dia juga merasa kesal selalu mendapatkan perkataan seperti itu dari Irfan. Padahal sebenarnya tanpa di suruh pun Alia pasti akan melindungi Dista jika ada yang mengganggunya, karena dia juga begitu menghormati Dista yang sangat mengaguminya.


"*Jika kamu berani melakukan nya, maka jangan salahkan aku, jika sebuah benda menempel di jantung mu*!"


Deg! Alia terdiam melihat balasan dari pesan singkat yang ia anggap hanya bercanda. Karena ternyata Irfan menanggapi dengan begitu serius, dan entah kenapa ia seperti membeku ketika membaca pesan balasan itu. Alia langsung mematikan ponselnya dan bergegas untuk pulang.


"Kamu kenapa Al? kok diem gitu kaya orang abis lihat setan aja! lagian setan aja takut sama kamu!"


Ucap Mayra yang sudah sedari tadi menunggu Alia di parkiran. Namun Alia hanya menggelengkan kepala saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia lalu meraih kunci di sakunya dan menyalakan sepeda motor. Ia pun bergegas untuk pulang.


Sepanjang jalan pun Alia masih saja terdiam, dia masih terbayang dengan sebuah tulisan dalam pesan singkat yang tadi ia baca.

__ADS_1


"*Pesan itu, kenapa sepertinya serius sekali*!?"


Alia terus bertanya-tanya dalam hatinya, pikirannya masih memikirkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya, dia tidak pernah menyangka bahwa perkataan seserius itu bisa ia dengar dari seseorang yang selama ini bahkan tidak pernah bicara serius kepadanya. Karena selama ini ia hanya melihat Irfan bicara dengan nada mengejek dan bercanda.


Hari-harinya dilalui masih dengan ke khawatiran yang ia rasakan. Entah mengapa perasaan Alia selalu tidak tenang seperti ada sesuatu yang terus mengganggunya.


Malam itu setelah selesai belajar Alia membaringkan tubuhnya diatas ranjang tempat tidurnya, ia mencoba untuk memejamkan mata dan tidur. Tak lama kemudian dia kembali membuka matanya dan terdiam.


"*Kenapa ranjang ini tiba\-tiba rasanya sangat panas*?"


Alia berguman dalam hati, dia mencoba berpikir apa yang membuatnya merasa seperti itu.


"Ah mungkin tadi aku lupa berdoa ya"


Alia berdoa dan mencoba untuk tidur kembali, namun ia tetap saja mengalami mimpi buruk.


"Kok rasanya aku tidak nyaman tidur diatas ranjang yah?"


Alia pun akhirnya bangun dan keluar dari kamarnya. Ia membawa sebuah bantal dan selimut lalu tidur di lantai diruang tengah dan hanya beralaskan sebuah karpet tipis.


Alia akhirnya bisa tidur nyenyak di lantai hingga pagi.


"Alia bangun nak! kamu kenapa tidur di lantai?"


"Ah ngga papa mah, pengen aja"



"Ayo bangun, ini sudah pagi, dan jangan tidur di lantai lagi, nanti kamu sakit!"


Alia pun bangun, dia hanya tersenyum menanggapi ucapan mamanya. Alia kembali ke kamarnya lalu membereskan bantal dan selimut yang ia bawa keruang tengah.


Alia bergegas untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah, dia menjalani hari itu seperti biasanya, namun hari itu dia lebih banyak diam. Sampai pulang sekolahpun ia masih saja diam, Nida sampai bingung melihat sikapnya yang hanya diam seharian dan bicara jika ada hal penting saja.


Malam harinya Alia mencoba untuk tidur, dia membaringkan tubuhnya di ranjang, namun hal itu terjadi lagi, tubuhnya merasa panas ketika ia berada diatas ranjangnya.


Alia akhirnya keluar dari kamarnya, dia kembali membawa bantal dan juga selimutnya. Namun kali ini ia mencoba untuk tidur diatas sova diruang tamunya, karena ia tidak ingin di marahi oleh mamanya lagi. Ia membaringkan tubuhnya diatas kursi panjang dan menatap langit-langit rumahnya.


"*Apanya yang salah ya? kenapa aku merasa tidak nyaman tidur di kamarku sendiri*?" Alia terus bertanya\-tanya pada dirinya sendiri, sampai tak sadar dirinya tertidur.


_____-----_____

__ADS_1


Keesokan harinya Alia berangkat seperti biasa, namun hari itu ia masih saja terdiam dan tidak bicara banyak. Waktu itu jam istirahat sudah tiba, namun Alia masih saja duduk di kursinya seperti tidak berniat untuk bangun.


"Alia! kamu ngga ke kantin?" tanya Mayra menghampiri.


Alia hanya terdiam, dia hanya menggelengkan kepalanya, dan Mayra pun langsung pergi tanpa berkata-kata seolah sudah paham dengan keadaan Alia.


Sementara itu, Nida yang masih duduk di samping nya mencoba untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi, dia bicara dengan pelan karena takut akan menyinggung Alia.


"Kamu percaya santet?'


Tiba-tiba kata itu keluar begitu saja dari mulut Alia, dia bicara masih dengan tatapan kosong seperti orang yang sedang melamun, dia bahkan tidak melihat kearah Nida ketika sedang bicara.


"Kamu kenapa? kenapa tiba\-tiba nanya itu?"


Reaksi Nida berubah menjadi panik dan agak takut ketika Alia menanyakan hal itu.


"Ngga papa kok, pengin nanya aja"



"Ya aku percaya kok, meskipun aku belum pernah lihat sendiri" jawab Nida.


Alia kembali terdiam, dia seolah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Tapi kata pak ustadz, kalau tidur di lantai itu bisa menangkal santet" imbuh Nida.



"Maksudnya?"


Alia langsung bereaksi ketika mendengar pernyataan Nida, dia menjadi sangat antusias ingin mendengar penjelasan tentang apa yang tadi dikatakan oleh Nida.


"Iya! tidur tanpa ranjang, soalnya dibawah ranjang itu kan kolong, dan di situ bisa jadi tempat untuk mendaratnya santet yang dikirim, jadi kalau kita tidur nya di lantai itu bisa buat menangkalnya" jelas Nida.



"Serius kamu?" Alia kembali memastikan.



"Yah, makanya kita di Pesantren hanya tidur beralaskan kasur dan ngga pakai ranjang, tapi itu si cuma katanya, belum tahu juga kebenarannya".

__ADS_1



"*Apa aku memang harus membuang ranjangku*?" gumam Alia.


__ADS_2