Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Pertanda yang membingungkan


__ADS_3

 


Hari ini adalah hari pertama kegiatan ospek di mulai. Seperti tahun yang sebelumnya, acara kegiatan itu di mulai sejak pukul 5 pagi, dan di akhiri pukul 5 sore jika tidak molor.


 


Tepat jam lima pagi semua calon mahasiswa baru beserta seluruh panitia sudah berkumpul di lapangan utama. Semua panitia berdiri di bagian depan menghadap kepada para mahasiswa baru. Mereka semua berpenampilan sangat rapi dengan memakai rok dan celana hitam, kemeja batik seragam kampus dan juga jas almamater dari universitas kesayangan mereka. Tak lupa juga bagi para perempuan untuk menggunakan kerudung berwarna senada, yaitu hitam.


Kegiatan awal di mulai dengan pengecekan atribut yang harus di pakai, pengenalan para panitia, dan juga pembagian kelompok.


Tepat jam 8 pagi upacara pembukaan pun di mulai, kegiatan itu berlangsung cukup lancar dan tidak ada masalah.


Alia berdiri di bagian belakang untuk memantau kalau-kalau ada peserta yang merasa pusing atau lemas. Benar saja, setelah 30 menit upacara berlangsung ada beberapa peserta yang mengalami pusing dan juga lemas.


"Al kamu jaga di ruang kesehatan deh, biar aku jaga di sini" ucap Vani, sang senior yang juga ketua KRS.


"Iya kak"


Alia pun berjalan meninggalkan lapangan utama dan menuju ke ruang kesehatan.


Saat sampai di ruangan, Alia melihat ada dua orang perempuan yang terbaring di tempat tidur, mereka pingsan karena merasa sangat lemas. Di antara ke dua orang itu salah satunya adalah mahasiswa baru yang kemarin datang hampir telat.


"Eh itu kan anak yang kemarin yah?"


Karena masih penasaran kepada anak itu, Alia pun segera menghampirinya.


"Hei kamu kenapa?" tanya Alia dengan ramah.


"Aku pusing kak" jawab anak itu.


"Kakak cek tekanan darah kamu yah?"


Anak itu hanya mengangguk, Alia pun langsung mengambil tensimeter dan mengecek tekanan darahnya.


"Tensi kamu rendah loh 90, pantas aja kamu pusing" jelas Alia.


Anak itu hanya tersenyum dan tidak bicara, Alia lalu berjalan dan menghampiri anak yang satunya lagi, dia melakukan hal yang sama.


Setelah selesai Alia pergi ke luar dan mengambil teh hangat untuk mereka berdua.


Karena masih penasaran dengan anak itu, Alia pun duduk di sampingnya dan mulai mengajaknya bicara.


"Nama kamu latifatul Husna kan?"

__ADS_1


"Iya kak, panggil aja Husna"


"Kalau boleh tahu kamu dari SMA mana?"


"Aku dari MA negeri satu kak" jawabnya dengan pelan.


MA negeri satu di kota itu merupakan sekolah yang cukup terkenal dan menjadi salah satu sekolah berbasis agama favorit karena statusnya yang sudah negeri dan juga fasilitasnya cukup lengkap.


"Kamu punya saudara yang sekolah di sini nggak si? kok aku kaya nggak asing liat wajah kamu" tanya Alia.


"Ah iya kebetulan kakak aku juga kuliah di sini"


"Oh ya? semester berapa? jurusan apa?" Alia menjadi sangat antusias karena ternyata perkiraannya sangat benar.


"Dia dari fakultas Ushuluddin, jurusan ilmu Al-Qur'an dan tafsir"


"Oh ternyata jurusan keagamaan yah" gumam Alia pelan.


Saat sedang asyik berbincang, tiba-tiba saja Vani memanggil Alia untuk segera pergi keruang auditorium dan menyiapkan beberapa perlengkapan untuk kegiatan indoor.


Setelah upacara selesai, kegiatan di lanjutkan di dalam ruangan sampai waktu Dzuhur.


Alia keluar ruangan setelah tugasnya memberikan materi tentang organisasi KRS selesai. Dia berjalan hendak menuju ke ruang kesehatan, namun tiba-tiba dia berpapasan dengan Nafisah.


Tadinya Alia tidak ingin berhenti karena dia tahu jelas bahwa Nafisah pasti tidak ingin bicara dengannya, tapi ternyata Nafisah malah memanggil dan menghentikan Alia.


"Ya Fis, kenapa?" tanya Alia.


Nafisah berjalan mendekati Alia dengan tatapan khasnya. Mata besarnya yang memakai celak tebal membuatnya semakin terlihat seram dan menakutkan.


"Kamu sebaiknya hati-hati sama teman sekelas kamu itu, bukannya aku peduli sama kamu, tapi aku lihat dia itu memang licik!" ujar Nafisah.


"Sebenarnya aku nggak pernah bikin masalah sama dia, tapi dia yang selalu musuhan sama aku" jawab Alia.


"Ingat Alia, dia nggak akan pernah berhenti sampai dia mendapat apa yang dia mau, dan dia bisa melakukan semua cara untuk itu!"


"Memang sebenarnya apa yang dia mau dari aku?" tanya Alia yang menjadi penasaran.


"Suatu saat kamu akan tahu"


Nafisah berbalik dan hendak pergi meninggalkan Alia, namun tiba-tiba saja dia kembali lagi.


"Oh iya sejak kemarin aku lihat kamu terus memperhatikan Azam dengan tatapan yang tidak biasa, ada apa?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja Nafisah menanyakan sikap Alia yang terlihat gelisah saat menatap Azam. Dia ingin bercerita kepada Nafisah dan menanyakan apa arti dari hal yang ia lihat sejak kemarin, namun Alia kembali berpikir bahwa Nafisah mungkin saja tidak percaya dengan apa yang dikatakannya, jadi dia lebih memilih untuk tetap diam.


"Oh nggak kok nggak papa, itu mungkin cuma perasaan kamu aja" Alia berusaha mengelak.


"Alia! jangan pernah kamu coba bohong sama aku!"


Nafisah terus menekan Alia dan sikap itu membuatnya merasa tidak nyaman, jadi akhirnya Alia memutuskan untuk bicara.


"Ya aku emang bohong"


"Apa yang kamu lihat?"


"Jadi aku melihat bayangan hitam yang mengelilingi tubuhnya, dan semakin hari semakin gelap" jelas Alia.


"Bayangan hitam?" Nafisah kaget.


"Ya, kamu tahu apa artinya itu?"


Tadinya Alia enggan untuk menanyakan apa maksudnya itu kepada Nafisah, tapi melihat ekspresi wajah Nafisah yang kaget, sepertinya dia memang tahu apa maksud dari hal yang dilihat oleh Alia itu.


"Fis? kok bengong? gimana, tahu nggak apa maksudnya?" Alia kembali bertanya.


Nafisah masih terdiam sembari menatap Alia dengan tajam.


"Kamu serius melihat itu?" Nafisah balik bertanya.


"Ya serius lah masa bohong, lagian kamu kan Syarifah, jadi kamu pasti tahu dong itu artinya apa?"


Nafisah menggelengkan kepalanya dan segera berjalan pergi tanpa berkata apa-apa.


Dia bahkan sama sekali tidak menghiraukan Alia yang terus memanggilnya.


" Yeee dasar aneh! nyuruh aku buat bilang, giliran udah bilang malah pergi gitu aja!" Alia menggerutu kesal.


Sementara itu Nafisah masih berjalan menjauh dari Alia sambil terus bergumam dalam hatinya.


"Bayangan hitam? asap hitam? itu kan sama saja selimut kesedihan yang sangat mendalam. Alia sungguh bisa melihat pertanda itu, sedangkan aku saja tidak bisa, sungguh kelebihan yang begitu tinggi, tapi sayang dia sama sekali tidak bisa memahami arti dari kelebihannya sendiri" gumamnya pelan.


Hati dan perasaannya kini juga menjadi gelisah sama seperti Alia. Dia melihat Azam dari kejauhan dan terus menatapnya, Nafisah menatap orang yang sudah sejak lama ia sayangi, dia masih agak ragu jika Azam akan mengalami hal yang menyedihkan, karena selama ini Azam yang ia kenal adalah orang yang sangat baik, sopan dan juga ramah, dia tidak pernah memiliki masalah ataupun bermusuhan dengan orang lain.


"Kalau benar Azam akan diselimuti kesedihan yang mendalam, apakah itu akan disebabkan oleh Alia? karena Alia itu kan orang yang sejak lama di sukai oleh Azam, dan selama ini dia juga sudah sering menahan rasa sakit dan terluka hanya karena Alia, terlebih lagi Alia sendiri yang melihat aura kesedihan itu menghampiri Azam. Astaga Alia!! kenapa kamu hanya bisa terus menyakiti orang yang baik seperti Azam?"


Nafisah terus menggerutu dalam hati, pikirannya menjadi kacau, berpikir yang tidak-tidak dan hatinya juga dipenuhi emosi.

__ADS_1


__ADS_2