
Keesokan harinya Alia sedang duduk santai di depan rumah dengan di temani segelas teh hangat di sampingnya. Waktu masih pagi menjelang siang, Alia sengaja duduk di teras depan rumah untuk berjemur supaya merasa lebih segar.
Kebetulan hari ini adalah hari libur, jadi semua anggota keluarga Pak Aji berada di rumah. Bu Mia dan Pak Aji sedang duduk sambil berbincang-bincang di ruang tamu karena semua pekerjaan rumah sudah selesai, sementara itu Sita sedang sibuk menonton TV di ruang tengah.
Tak lama kemudian terlihat seseorang yang mengendarai sepeda motor besar berwarna hitam berhenti di depan rumahnya. Orang itu langsung menyapa Alia yang sedang duduk di teras. Dia sudah paham betul siapa orang itu.
"Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam..."
Tanpa basa-basi Alia langsung mempersilahkan orang itu masuk ke dalam rumahnya.
"Eh nak Azam... silakan masuk nak" ucap Bu Mia dan langsung mempersilahkan Azam untuk duduk.
Alia pun masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu bersama Pak Aji dan juga Azam. Sementara itu Bu Mia pergi ke dapur untuk membuatkan minum dan mengambil beberapa makanan ringan.
Pak Aji dan Azam terlihat asyik mengobrol, mereka berdua sudah cukup akrab karena sering bertemu sewaktu Alia masih di rumah sakit.
Tak lama kemudian Bu Mia datang dengan membawa segelas teh hangat dan juga makanan ringan, beliau lalu duduk di samping Alia.
Karena semuanya sudah ada di ruangan itu, tanpa berlama-lama lagi Azam pun mencoba untuk mengutarakan niat kedatangannya. Meskipun Azam sudah mengenal Alia cukup lama, namun ini pertama kalinya ia bertamu ke rumah Alia.
"Jadi sebenarnya kedatangan saya ke sini berniat ingin meng khitbah Alia.." ujar Azam.
Seketika semua orang terdiam, terutama Alia. Dia merasa sangat terkejut saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Azam. Dirinya memang sudah tahu jika ternyata Azam sudah memendam perasaan padanya cukup lama, namun Alia sama sekali tidak mengira bahwa Azam akan melakukan hal itu.
"Maksudnya melamar?" tanya Pak Aji.
Azam hanya mengangguk dengan ekspresi wajahnya yang terlihat agak gugup.
__ADS_1
"Tapi bukannya kamu itu masih kuliah?" sambung Bu Mia.
"Alhamdulillah saya sudah punya usaha ternak sendiri bu" jawab Azam.
Bu Mia kembali terdiam, sementara itu obrolan kembali di lanjutkan oleh Pak Aji.
Setelah berdiskusi cukup lama, pak Aji akhirnya meminta keseriusan Azam untuk membawa keluarganya datang dan melamar Alia secara resmi.
"Ta tapi pa... nggak bisa secepat itu dong?" ujar Alia yang merasa keberatan.
"Nak... kita bisa melihat keseriusan nak Azam, kalau semuanya sudah memenuhi syarat, untuk apa menundanya? lagi pula kalian kan sudah sama-sama dewasa, dan juga sudah saling mengenal satu sama lain" jelas pak Aji.
"Tapi kuliah aku kan belum selesai?" imbuh Alia.
Pak Aji melihat ke arah Azam seolah meminta dia yang memberikan jawaban.
"Setelah cuti kamu selesai, kamu boleh melanjutkan kuliahnya, aku nggak akan melarangnya" ujar Azam.
Alia kembali terdiam, dia seolah sudah kehabisan kata-kata untuk mengubah keputusan Papa nya.
Alia masuk ke dalam kamarnya tanpa berkata-kata, dia merasa agak kesal karena semua itu terjadi secara tiba-tiba, dia belum sempat mengejar semua impiannya jika sudah lulus kuliah. Alia bahkan belum bisa mengetahui bagaimana perasaannya kepada Azam.
"Alia... boleh Mama masuk nak?" ucap Bu Mia yang masih berdiri di depan pintu kamar Alia.
Alia hanya diam, namun Bu Mia tetap masuk dan duduk di samping Alia.
"Mama tahu kamu kesal, tapi coba kamu pikirkan lagi, kita sebagai pihak perempuan itu sangat rentan".
"Maksud Mama apa?" tanya Alia.
"Kalau kata orang dulu itu, kita sebagai pihak perempuan jangan sampai menolak lamaran, pamali!" jelas Bu Mia.
"Lah maksudnya gimana? jadi kalau ada tiga orang yang melamar ya harus di terima semua?"
__ADS_1
Bu Mia hanya mengangguk sambil tersenyum, hal itu membuat Alia semakin kesal dan tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Mama nya.
"Jadi maksudnya begini, kita bisa memberikan sebuah syarat yang harus dipenuhi oleh mereka, nantinya pasti hanya akan ada satu yang bertahan".
"Tapi kalau ini kan beda Mah..."
"Jadi sebenarnya kamu suka dia nggak?" tanya Bu Mia.
Alia terdiam dan menunduk sembari berkata "Aku nggak tahu Mah".
Bu Mia tersenyum, beliau mencoba untuk memberikan pengertian kepada Alia bahwa dia tetap bisa mengejar cita-citanya meskipun sudah menikah, dan soal perasaan, dia bisa belajar secara perlahan.
"Lagi pula jika kamu hanya bermain-main dan pacaran, manfaat apa yang kamu dapat? dan juga Mama dengar dari Sita, kalau pacar kamu yang dulu itu ternyata menghamili orang lain" Ujar Bu Mia.
Alia terkejut saat tahu bahwa Bu Mia ternyata sudah mendengar soal kabar itu, dia hanya tertunduk dan tidak bisa berkata-kata.
"Nak... kamu sudah besar, Mama dan Papa sungguh punya ketakutan yang sangat besar kalau sampai kamu bergaul dengan orang yang salah... lagi pula Mama lihat, Azam itu sepertinya sangat tulus sama kamu, imannya bagus, dari keluarga baik, dan yang pasti dia akan mampu membimbing kamu menjadi lebih baik. Sejak dulu Mama ingin sekali punya menantu yang mendalami ilmu agama seperti dia" imbuh Bu Mia.
Alia kembali terdiam, dia teringat bahwa selama ini telah menyayangi orang yang salah sehingga membuatnya merasa sakit hati. Dia dulu terlalu keras kepala sampai tak mau mendengarkan nasehat orang lain.
"Ya Mah, insyaallah Alia akan ikhlas menerima lamaran itu" ucap Alia sembari tersenyum kepada Bu Mia.
Bu Mia merasa bahagia sekali dia langsung memeluk putrinya dengan erat.
*****
Satu Minggu pun berlalu, hari ini Bu Mia sedang sibuk memasak untuk menyambut kedatangan tamu istimewa.
Sekitar jam 8 malam Azam datang ke rumah Alia bersama dengan semua saudaranya dan juga pamannya. Dia menepati janjinya untuk melamar Alia secara resmi, dia juga sudah menyiapkan sebuah cincin emas bermotif tali dengan beberapa batu hiasan berwarna pink yang menempel di tengah-tengah.
Karena sudah tidak memiliki orang tua, maka Azam meminta kakaknya yang kini sudah menjadi Abah di pesantren milik almarhum ayahnya untuk mewakilinya sekaligus menjadi walinya. Dia juga membawa Pamannya, adik kandung dari almarhum ayahnya untuk menemani.
Setelah pembicaraan antara para orang tua dan juga wali selesai, tanpa berlama-lama lagi Bu Mia memanggil Alia untuk segera keluar. Azam meminta pada adiknya, yaitu Husna untuk mewakili dirinya memakaikan cincin itu kepada Alia.
__ADS_1
Mereka semua duduk dalam satu ruangan yang sama, namun ada satu hal yang membuat Alia merasa tidak nyaman, ketika kakak laki-laki dari Azam yang terus menatap Alia dengan tatapan tajam seolah sangat tidak menyukai Alia.
Tidak semua orang bisa melihat ekspresi itu, namun Azam dan kedua saudara perempuannya bisa melihat dengan jelas bahwa ekspresi kakak laki-laki mereka yang tadinya penuh senyuman ramah langsung berubah begitu melihat Alia, dan hal itu sangat membuat pikiran Azam terganggu.