
Hari ini, adalah hari pertama Alia masuk kelas dan memulai pelajaran setelah tiga hari menjalani masa orientasi.
Pagi itu Alia bangun pagi-pagi sekali, dia berangkat dari rumah jam setengah enam pagi dan sampai di sekolah kurang lebih setengah tujuh.
Hari ini adalah hari Senin, dan hari pertama untuk para siswa kelas X menjalani kelasnya. Seperti biasa sekolah mengadakan upacara rutin hari Senin.
Setelah tiga hari menjalani orientasi, ini adalah hari pertama Alia memakai seragam putih abu-abu nya. Dia merasa sangat senang karena akhirnya bisa memakai seragam itu.
Sampai saat itu, Alia belum juga mendapatkan teman yang cocok karena sifatnya yang memang pendiam. Kebetulan Alia juga hanya satu-satunya dari sekolah sebelumnya yang melanjutkan di MA Ma'arif, jadi dia benar-benar tidak punya teman satupun. Selesai upacara, Alia langsung bergegas menuju ke kelasnya. Saat itu ia masih bingung akan duduk dimana, ia melihat sekeliling dan ternyata ada seseorang yang duduk sendirian.
"Hai! aku boleh duduk di sini ngga?" Alia menyapa seraya menghampiri.
"Boleh, duduk aja" anak itu tersenyum, dan dengan suara yang lembut mempersilahkan Alia duduk disampingnya.
"Namaku Alia! kamu siapa?" sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Nida." jawabnya dengan singkat sambil menjabat tangan Alia.
Mereka berdua mengobrol dan menjadi saling akrab satu sama lain. Dari obrolan itu, Alia akhirnya tahu kalau Nida bukan berasal dari kota ini, melainkan dari kota lain dan tinggal di pesantren.
Tak lama kemudian guru pun datang dan memulai pelajaran. Hari itu, berlangsung cukup lancar sampai hari\-hari berikutnya.
Tadinya Alia merasa sangat tidak senang sekolah disana, namun lama kelamaan di mulai terbiasa.
Tak ada yang aneh selama ini, setiap harinya berjalan dengan lancar, dan sekarang Alia bahkan mulai jarang mengalami hal-hal aneh seperti biasanya, dan itu membuat nya merasa tenang.
Selama beberapa bulan sekolah disana, tak ada yang tahu dengan kelebihan Alia, diapun enggan untuk memberitahu siapapun termasuk Nida yang kini mulai menjadi teman dekatnya.
Siang itu, kebetulan sekolah Alia pulang cepat. Dia berencana untuk bertemu dengan Afi di sekolah lamanya. Saat itu Alia sampai duluan dan seperti biasa ia menunggu Afi di taman sekolah.
"Woy udah datang. Cepat juga!" ucap Afi mengagetkan Alia.
"Kamu apaan si Fi, janjinya jam sebelas ini udah setengah 12!" Alia kesal karena telah menunggu cukup lama.
__ADS_1
"Ya maaf, aku kan naik bus tadi nungguin ngga datang-datang." ucap Afi memelas.
Mereka berdua bergegas menuju kantor sekolah dan mengambil apa yang diperlukan.
Esok harinya seperti biasa Alia berangkat sekolah pagi-pagi sekali, hari itu ia tak sempat sarapan jadi Mama nya menyiapkan kotak makan untuk dibawa.
Hari itu berjalan seperti biasa, sampai jam istirahat siang tiba. Semua murid wajib menjalankan ibadah sholat dzuhur berjamaah di masjid Pesantren.
Biasanya Alia hanya ke masjid untuk sholat dzuhur saja, namun kali ini ia menerima ajakan Nida untuk masuk ke Pesantren dan main ke kamarnya. Karena siswa yang tinggal di Pesantren akan pulang untuk makan siang, jadi Alia berpikir untuk bisa makan siang bersama.
Hari itu, pertama kalinya Alia masuk ke pesantren itu. Ternyata di dalam sangat ramai sekali, banyak juga siswa yang tinggal, Alia berjalan mengikuti Nida sambil melihat kanan kiri.
Tak lama kemudian mereka sampai di kamar Nida, mereka langsung bergegas mengambil air wudhu dan ikut sholat berjamaah di masjid. Setelah selesai sholat Alia dan Nida makan siang bersama dan akhirnya kembali ke kelas.
Pelajaran selesai dan bell pulang sekolah berbunyi, Alia bergegas pulang kerumahnya.
Sesampainya di rumah ia langsung masuk ke kamar dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi dirinya sedang di kelilingi asap putih yang begitu tebal, mencoba untuk masuk kedalam tubuhnya, namun ternyata di tubuhnya sudah menempel asap hitam yang sangat tebal.
"Astaghfirullah!! aku mimpi apa si? kok gitu amat!" Alia menggerutu seraya terbangun dari tidurnya.
Tak lama kemudian Alia merasa mulai sulit untuk bernafas, ia terus mencoba menarik nafas dalam namun makin lama semakin sulit. Saking sulitnya untuk bernafas, tubuhnya mulai kaku, tangannya dingin seperti membeku.
Nida yang berada si samping Alia merasa kaget dengan keadaan itu, ia langsung memanggil guru untuk membawanya ke UKS.
Sesampainya di UKS guru yang biasa menangani murid yang sakit merasa sangat terkejut dengan keadaan Alia.
Seluruh tubuhnya kaku seperti orang yang terkena stroke, tangan dan kakinya sangat dingin seperti es, nafasnya pun ter engah\-engah seperti orang yang sakit asma.
Guru itu memutuskan untuk segera membawa Alia ke puskesmas terdekat. Begitu sampai di puskesmas, perawat yang menerima pun merasa kaget melihat kondisi Alia, seakan\-akan sedang melihat pasien dengan penyakit yang sangat parah.
__ADS_1
Perawat itu langsung memasang selang oksigen untuk membantunya bernafas. Mereka memijat tangan dan kakinya yang begitu kaku. Mereka meminta pihak sekolah untuk melakukan tes laboratorium tentang penyakit apa yang sebenarnya di derita Alia, dan gurunya pun langsung menyetujui.
Setelah beberapa jam berlalu, tubuh nya mulai melemas dan nafasnya mulai kembali normal.
Alia langsung melepas selang oksigen itu dan mencoba bangun dari tempat tidurnya.
"Kamu ngapain! jangan bangun dulu, tiduran aja dulu!" ucap Bu Yanti, guru jaga UKS sekolah yang menemani Alia di Puskesmas.
"Tapi saya udah ngga papa kok bu" jelas Alia.
"Sudah ngga papa, istirahat saja dulu"
Alia pun hanya bisa menuruti ucapan gurunya dan berbaring kembali.
"Alia,, kamu pernah punya riwayat sakit apa?" tanya Bu Yanti pelan.
Alia hanya menggelengkan kepalanya, karna dia merasa tidak pernah punya penyakit yang parah.
"Kamu yakin?" Bu Yanti mencoba meyakinkan.
Alia hanya mengangguk.
"Tadi perawat bilang, kalau kamu mungkin harus dirujuk kerumah sakit, atau harus opname disini" kata Bu Yanti.
"Apa? opname? aku kan ngga papa Bu, aku ngga mau lah Bu, aku mau pulang aja" Alia kaget mendengar pernyataan Bu Yanti.
"Ya nanti kita tunggu hasil laboratorium dulu ya, keputusannya ada di hasil itu"
Alia merasa bingung, harus bagaimana dan harus apa.
Ia tidak tahu harus berkata apa pada Mama nya, ia sendiri bahkan tidak tahu mengapa tubuhnya mengalami keadaan seperti itu, karena sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal semacam itu.
__ADS_1
Sudah dua jam berlalu, hari mulai sore. Alia semakin gelisah menunggu hasil tesnya. Sebenarnya bukan sakitnya yang ia khawatir kan, tapi ia takut jika harus menginap disana, ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Mama nya jika ia harus dirawat inap. Alia berpikir bahwa Mama nya pasti akan merasa sangat khawatir.