
Tanpa terasa jam istirahat siang hampir berakhir, Alia berpamitan untuk kembali ke kamar Nida dan bersiap masuk ke kelasnya.
"Kamu dari mana Al? bukanya istirahat malah keluyuran!" Nida menggerutu karena mendapati Alia tidak berada di kamar nya.
"Aku udah ngga papa kok Da" jawab Alia singkat.
"Mba, perempuan itu meninggal dan kehilangan salah satu matanya kan?" Alia tiba-tiba bicara asal saat melihat mba Lila datang.
Mba Lila terdiam dan menatap Alia dengan dingin lalu berkata "Kamu dengar dari siapa?"
Alia menggelengkan kepalanya, "Dia yang kasih tau aku"
Mba Nida kaget mendengar ucapan Alia, karena dari kemarin dia seperti tidak percaya dengan ucapan Alia, namun kali ini ucapan Alia benar-benar membuatnya menjadi semakin khawatir. Mba Lila akhirnya mau untuk menceritakan segala yang ia dengar dan ketahui.
"Dia itu dulu mau kabur dari pesantren, malam-malam lewat lantai atas, niatnya mau lompat pagar, tapi ngga tau apa yang buat dia jadi bunuh diri dengan lompat ke lantai bawah yang ada sumurnya itu. Dia jatuh di pinggir sumur dan kepalanya terbentur pompa air sampai membuat dia kehilangan salah satu bola matanya, pihak pesantren sudah berusaha buat mencari, tapi tidak ketemu dan akhirnya keluarga nya pun pasrah lalu menghentikan pencarian itu." Mba Lila bicara dengan nada gemetar.
"Dia tidak bunuh diri! tapi dia terpeleset karena lantai yang licin, dan dia sebenarnya tidak ingin kabur, tapi dia menunggu seseorang" Alia bicara dengan tatapan mata yang kosong, seolah bukan dirinya yang sedang bicara.
"Maksudnya?" mba Lila tidak mengerti dengan yang dikatakan Alia.
"Ya! dia menunggu seseorang, tapi orang itu tidak datang, dia gelisah dan berjalan kesana kemari, sampai akhirnya dia terpeleset, dan kebetulan saat itu balkon lantai atas sedang di perbaiki, jadi tidak ada pembatas dan dia langsung jatuh ke lantai bawah kan?" imbuh Alia
"Jadi, yang sebenarnya terjadi seperti itu?" mba Lila bergumam dalam hati.
Tiba-tiba Alia tertawa terbahak-bahak dan langsung menangis. Nida sadar bahwa itu tidak beres.
"Astaghfirullah sadar Alia!!" Nida langsung menepuk pundak Alia.
"Astaghfirullah, aku kenapa?"
__ADS_1
"Udah dulu ceritanya! sekarang ayo kita ke kelas, nanti terlambat!" ujar Nida.
Alia hanya mengangguk, tanpa berkata apapun lagi, Nida dan Alia bergegas untuk pergi ke kelasnya. Dikelas Alia kembali merasa lemas, dia duduk dan menyandarkan kepalanya diatas meja.
"Ini gurunya kok ngga datang-datang si!" Nida menggerutu, sementara Alia masih terdiam.
Tak lama kemudian Alia memutuskan untuk duduk dilantai, namun ia merasa itu belum juga cukup, ia menggunakan tasnya sebagai bantal dan berbaring dilantai di dekat tempat duduknya. Nida merasa heran dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Alia kamu ngapain tiduran dibawah? nanti sakit ayo bangun!" Nida mencoba membangunkan Alia namun dia tidak bergeming.
"Masyaallah,, tangan mu kenapa dingin begini, Alia kamu kenapa?" Nida mulai panik mendapati tubuh Alia mulai mendingin dan kaku, matanya hanya menatap ke satu arah dengan tatapan yang sangat kosong.
Tak lama kemudian mulai terdengar suara tangisan lirih, Nida menjadi semakin panik, dia terus mencoba menyadarkan Alia, namun tidak berhasil.
"Ya Allah Alia kamu kenapa!?" Nida terus menggenggam tangan Alia sambil membisikkan beberapa do'a ke telinganya.
"Da Alia kenapa?" tanya Mayra yang juga teman sekelas Alia dan Nida.
"Ya Alloh Da! ini dia kesurupan! kita harus panggil guru atau pak ustad!" ucap Mayra yang juga panik melihat keadaan Alia.
"Darimana kamu tahu?" tanya Nida heran, Nida memang sering mendengar tentang orang kesurupan, namun ia belum pernah melihatnya sendiri, jadi dia tidak terlalu paham dengan hal itu.
"Aku bisa lihat, ya aku mampu melihatnya!" ucap Mayra dengan tegas.
Nida langsung meminta salah seorang siswa laki-laki untuk memanggil guru, sementara teman sekelas yang lain membantu memegang tubuh Alia yang sangat kaku dan dingin.
"Da mba Zizi ngasih ini, katanya suruh diminumkan" kata salah seorang teman yang tadi disuruh Nida untuk pergi ke kamar Zizi, dia membawa segelas air putih dan mencoba untuk meminumkannya ke Alia. Namum tiba-tiba braakkk!!! Alia menepis gelas itu hingga terlempar jauh.
Tangisan keras itu tiba-tiba menjadi teriakan yang semakin menjadi-jadi,dan dia mulai berkata "Aaaaaa lepaskan aku!!! lepaskan aku!!"
__ADS_1
Suasana kelas menjadi semakin gaduh, semua siswi kelas itu berkumpul mencoba memegangi tubuh Alia sembari membacakan doa-doa.
Tak lama kemudian Gus Hafid datang ke kelas dan semua siswa diam, tak ada satupun yang berani bicara (Gus: sebutan untuk putra kiyai).
Dia mendekati Alia dan mencoba memegang tangannya sambil membacakan doa, namun teriakan itu justru semakin menjadi dan semakin keras, dia bahkan mencoba melepaskan tangan Gus Hafid dan terus menepisnya. Semua siswa heran melihat tenaga Alia yang begitu kuat.
"Kamu! kamu yang buat aku jadi begini!! kamu yang buat aku jadi begini!!" Alia terus berteriak sambil menuju ke suatu arah, matanya terus melotot seolah sedang menatap seseorang yang sangat dia benci.
"Kamu harus tanggung jawab!! ayo kembalikan mataku!! kembalikan mataku!!" Alia kembali berteriak dan semua teman sekelasnya kaget mendengar pernyataan itu. Bahkan beberapa siswa dari kelas sebelah pun mencoba untuk masuk dan ingin melihat kejadian itu, namun Amar, ketua kelas Alia menutup pintu dengan rapat agar tidak ada siswa lain yang masuk, hal itu dilakukan supaya tidak terjadi keributan yang lebih.
"Amar! itu Ragasy ya!?" tanya Azam yang langsung tahu begitu mendengar teriakan itu.
"Iya Zam, kamu sebaiknya kembali ke kelasmu dulu, suruh teman-teman sekelasmu untuk tenang dan ikut mendoakan saja" ucap Amar dengan nada cemas.
"Sebaiknya cepat panggil Abah!" Azam bicara dengan tegas.
"Tapi Gus sudah ada di dalam" jelas Amar.
"Kamu percaya aku kan? cepat panggil Abah! biar aku yang jaga pintu"
Amar langsung bergegas untuk memanggil Abah kyai, sementara Alia masih terus berteriak, Gus Hafid bahkan tidak bisa menanganinya. Nida dan teman yang lain masih memegangi tubuh Alia yang mulai bertingkah seakan ingin mengamuk, Mayra bahkan sempat kena pukul wajahnya oleh Alia karena saking kuatnya tenaga Alia.
Tak lama kemudian Abah kyai datang bersama dengan guru yang juga paham dengan hal-hal semacam itu. Semua siswa yang memegangi Alia diminta untuk menjauh dan hanya tersisa Nida saja, karena kepala Alia bersandar di pangkuannya.
"Kamu!! kamu harus buat dia tanggung jawab! dia yang sudah membuatku jadi seperti ini!" Alia langsung berteriak kepada Abah seolah-olah sudah lama mengenalnya, padahal ini baru pertama kali Abah dan Alia bertemu.
"Ya saya tau! dia yang buat kamu jadi begini, tapi kamu tidak boleh seperti ini!" Abah kyai bicara menggunakan bahasa Jawa halus dengan sangat lembut.
"Tapi kamu juga harus tanggung jawab!" teriakan itu semakin keras dan membuat seluruh siswa merasa takut.
__ADS_1