
Semua orang terdiam, mereka seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan pak Sutrisno.
"Saya tahu pak" Alia tiba-tiba bicara.
"Maksud kamu apa nak?" tanya Pak Aji yang masih bingung.
"Mungkin itu karena aura kuat yang berasal dari tubuh Alia pah, yang mengundang mereka untuk datang dan mencoba menguasai Alia"
Pak Aji dan Bu Mia terdiam, karena tidak ingin membicarakan lebih lanjut, Pak Aji menyuruh Bu Mia untuk membawa Alia ke kamarnya.
"Kamu istirahat ya nak, sudah malam" ucap Bu Mia sambil mengecup kening Alia lalu keluar dari kamarnya.
Bu Mia kembali duduk diruang tamu dan melanjutkan pembicaraan dengan Pak Sutrisno.
"Jadi maksudnya apa pak?" tanya Bu Mia.
"Alia itu, memang sangat istimewa. Auranya itu mengundang mahluk tak kasat mata untuk mendekat padanya" Pak Sutrisno mengambil secangkir kopi yang sudah disediakan diatas meja dan menyeruput nya.
"Tapi tadi Bapak bilang soal mbah buyutnya?" Pak Aji kembali bicara.
"Ya! selama ini mereka menjaga Alia, tapi jin wanita itu mampu merasuki Alia dan mereka tidak terima, akhirnya mereka juga memaksa untuk masuk ke dalam tubuhnya" jelas pak Sutrisno.
"Pantas saja tadi sikapnya berubah\-ubah, sebentar teriak mengamuk, lalu tertawa dan juga nembang" Bu Mia teringat dengan sikap putrinya tadi.
"Lalu apa hal seperti itu bisa terulang lagi?"
"Tentu saja! jika dia tidak bisa mengendalikan dan juga tidak punya penangkal"
"Tapi..." Pak Aji kembali khawatir dengan putrinya.
"Tadi saya sudah memberi doa untuk menangkal, insyaallah dia sudah tidak apa\-apa"
"Syukurlah kalau begitu"
Dikamar nya, Alia tidak bisa tidur. Dia diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua orangtuanya dengan pak Sutrisno. Setelah menghabiskan secangkir kopinya, Pak Sutrisno akhirnya pamit untuk pulang.
Esok harinya jam sudah menunjukkan pukul 06.15 namun Alia belum juga bangun.
"Bu Alia belum bangun?" tanya Pak Aji sambil menyeruput secangkir kopi hitam.
"Belum pak, saya ngga berani bangunkan, kasian mungkin dia masih merasa lelah" ucap Bu Mia yang masih sibuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Sewaktu Alia tidak sadarkan diri, dia terus mengamuk bahkan tak jarang memukul dirinya sendiri, jadi beberapa bagian tubuh Alia mengalami luka lebam dan bengkak.
"Eh kamu sudah bangun nak?" Bu Mia menyapa putri sulungnya yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Mah aku hari ini ngga sekolah dulu yah, capek bangat mah" ucap Alia sambil memegang pergelangan tangannya yang masih membiru.
"Iya ngga papa nak, nanti mama ijinkan kamu, eh ini apa sayang?" Bu Mia kaget melihat leher Alia yang bengkak dan membiru.
"Aw sakit mah!" Alia berteriak ketika Bu Mia mencoba menyentuh lehernya.
"Ya Alloh, kok bisa sampai begini,, sini mama obatin, ayo duduk!" langsung mengambil kotak obat dan mengolesinya dengan obat luka.
"Mah kok bisa pada luka-luka gini ya, kaya abis di gebukin aja" ucap Alia yang masih bingung dengan keadaan dirinya.
Sementara Bu Mia hanya terdiam, dia teringat akan penyebab luka di leher dan pergelangan tangan Alia.
Lehernya tergores dan berdarah ketika tanpa sadar dia menarik tasbih yang dikalungkan oleh Pak Aji hingga putus, dan pergelangan tangannya bengkak karena Pak Sutrisno menekan telapak tangan sampai melukai pergelangan nya.
"Ya Allah,, kenapa ini harus terjadi pada putriku?" Bu Mia bergumam dalam hati.
"Mah! mama kenapa?" tanya Alia yang heran ketika melihat Mama nya melamun.
"Ah ngga kok, ngga papa" Bu Mia melanjutkan untuk mengobati luka Alia.
_---------_
Sementara itu di pesantren putri...
Semua orang mengira bahwa Zizi sedang tertidur lelap sejak semalam karena dia memang masih sakit, namun Mita paham betul dengan apa yang sedang dirasakan oleh Zizi, karena dia juga merasakan.
Karena fisiknya yang lemah, Zizi tidak mampu menahan rasa sakit itu dan pingsan, berbeda dengan Mita yang memiliki tubuh sehat. Meskipun sakit tapi dia Mita masih bisa menahannya.
Tak lama kemudian Zizi membuka matanya
"Uhuk uhuk!! leher aku sakit Ta! sakit banget!"
"Nih minum dulu" Mita langsung memberikan segelas air putih kepada Zizi.
"Mita! kamu ngga papa kan?" ucap Zizi yang langsung menggenggam tangan Mita.
"Aw! sakit!" Mita langsung menyembunyikan pergelangan tangannya yang membiru.
"Ya Alloh Ta... ini pasti sakit banget?"
"Aku ngga papa kok, kamu juga sakit kan? dan dia pasti juga lebih sakit daripada kita" ucap Mita sambil mengingat tentang Alia.
"Mba Zizi, mba Mita kalian ngga ke sekolah?" Nida Tiba\-tiba datang.
__ADS_1
"Oh aku masih belum bisa berangkat Da" ucap Zizi.
"Kalau mba Mita?"
"Ini tanganku sakit Da, kayaknya bakal ngga bisa nulis deh, aku istirahat dulu boleh?"
"Perasaan semalem masih ngga papa? oh ya udah aku ambilkan obat dulu yah" Nida sempat kaget melihat luka di tangan Mita, namun sebagai pengurus, dia berusaha menjalankan tugasnya dengan baik dan mengobati luka Mita.
Setelah selesai mengobati Mita, Nida bergegas untuk berangkat ke sekolah. Nida terus menengok kearah pintu kelasnya dan menanti kedatangan Alia, namun sampai guru datang dia belum juga berangkat.
Amar diberi tahu oleh Bu Yanti bahwa hari ini Alia tidak berangkat, dia pun mulai merasa khawatir.
"Apa kamu baik-baik saja?" ucap Amar dalam hatinya.
"Alia hari ini ngga berangkat Da, tadi Bu Yanti bilang kalau dia masih sakit" ucap Amar, ketua kelas Alia.
Nida menunduk dan merasa sedih karena sahabat nya tidak datang ke sekolah. Hari itu bagi Nida terasa sangat lambat, dia terus terpikir dengan sahabatnya.
Teeeeeeeetttttttt!!!!!!!! bell istirahat siang pun berbunyi sementara Nida masih duduk melamun di kursinya.
"Da! udah mau adzan dzuhur! kamu ngga pulang?" Amar tiba\-tiba mengagetkan Nida.
"Astaghfirullah,, makasih Amar sudah mengingatkan" Nida langsung keluar dari kelas dan pulang ke Pesantren.
Amar ma'ruf adalah ketua kelas yang sangat bijaksana dan dewasa dalam mengatur teman sekelasnya. Dia juga masih merupakan keluarga dari Abah kyai, ayahnya adalah saudara sepupu Gus Hafid, atau dengan kata lain almarhum kakek Amar adalah kakak kandungnya Abah kyai. Rumahnya pun berada disamping pesantren putra. Amar juga memiliki satu sahabat yang sangat dekat dan sangat ia hormati, yaitu Azam. Mereka sudah bersahabat sejak awal masuk Mts dan sampai sekarang.
Setelah semua teman sekelasnya keluar, Amar pun keluar dan hendak menuju ke masjid untuk mengikuti sholat dzuhur berjamaah. Dijalan dia berpapasan dengan sahabatnya, yaitu Azam. Dia mendapati raut wajah sahabatnya itu sangat khawatir lalu menegurnya.
"Assalamualaikum Azam"
"Walaikunsalam Amar"
"Kamu kenapa? wajahmu terlihat sangat gelisah, tidak biasanya kamu seperti itu?"
"Aku tidak papa Amar, hanya saja aku ingin bertanya apakah dia tidak masuk sekolah hari ini?"
"Maksudmu Alia?"
Azam mengangguk penuh harap mendengar jawaban Amar.
"Ya, hari ini dia tidak masuk, mungkin masih sakit"
__ADS_1
Azam terdiam, dia menunduk dan wajahnya semakin terlihat khawatir.
Tiba-tiba suara adzan terdengar, Azam dan Amar menghentikan pembicaraan mereka dan bergegas menuju ke masjid.