
Pagi harinya Alia terbangun ketika mendengar suara adzan Subuh. Meskipun dia sedang tidak sholat, namun ia tetap bangun karena sudah terbiasa.
Alia masih berbaring di tempat tidur dan ingin menunda sebentar sebelum ia beranjak dari kasur kesayangannya. Saat Alia membuka kedua mata dan menengok ke arah samping, terlihat Azam yang masih terlelap.
"Astaghfirullah! apa ini mimpi? jadi aku sudah benar-benar menikah dengan orang ini?" ujar Alia sembari menepuk jidatnya.
Rambut Azam terlihat agak berantakan dan menutupi keningnya. Wajahnya yang putih bersih, dengan bentuk bibir yang tipis semakin terlihat menawan saat matanya terpejam.
Alia kembali menatapi Azam yang sedang tertidur dengan perasaan kagum. Dia masih belum percaya bahwa mereka kini benar-benar sudah menjadi suami istri.
Tanpa sengaja pandangan Alia turun ke bawah dan melihat telapak tangan kanan Azam yang terlihat memerah seperti terkena luka bakar.
"Eh kok... perasaan semalam masih baik-baik saja" ujar Alia.
Dengan pelan Alia mencoba memegang tangan Azam dan melihat lebih dekat untuk memastikan bahwa itu benar luka bakar atau bukan.
"Ah!"
Tanpa sengaja sentuhan tangan Alia mengenai bagian tangan Azam yang terluka sampai ia terbangun.
"Eh maaf maaf. Aku nggak sengaja" ucap Alia dengan nada gugup.
"Kamu sudah bangun? jam berapa ini?" tanya Azam yang langsung duduk dan mencoba menyembunyikan tangannya dari Alia.
"Emm ini sudah masuk waktu Subuh" jawab Alia pelan.
"Astaghfirullah... bagaimana bisa aku terlambat bangun seperti ini, kalau begitu aku ke masjid dulu yah" ucap Azam.
__ADS_1
Azam pun segera bangun dan mengambil air wudhu, ia lalu berjalan menuju masjid yang berada di dekat rumah Alia. Ia sengaja tetap pergi ke masjid meskipun suara adzan sudah lama terdengar, selain ia tahu bahwa Alia sedang tidak sholat, ia juga tidak ingin Alia melihat luka di tangannya.
Sepulang dari masjid, Azam mendapati Alia yang sudah sibuk di dapur bersama Bu Mia dan juga saudara yang lain, karena hari ini mereka akan mengadakan lungan yaitu tradisi bagi keluarga pengantin perempuan yang datang ke rumah keluarga pengantin laki-laki dan sekaligus mengantarkan pengantin baru itu untuk tinggal di rumah pengantin laki-laki.
Setelah selesai sarapan pagi, Alia menghampiri Azam yang sedang sibuk membereskan beberapa barang di dalam kamar.
"Eh Ragasy... kamu kenapa? capek yah sejak pagi buta sudah harus membantu di dapur?" tanya Azam.
Alia hanya menggelengkan kepala lalu duduk di kursi meja belajarnya.
"Lalu kenapa?"
"Tangan kamu!" Ucap Alia pelan sambil mengulurkan tangannya kepada Azam.
Awalnya Azam hanya terdiam dan pura-pura tidak mengerti apa maksud perkataan Alia, namun dengan cepat Alia langsung menarik tangan kanan Azam dan mengarahkan telapak tangannya ke tas.
Alia lalu mengeluarkan salep yang sudah ia bawa dan langsung mengoleskan perlahan di bagian tangan Azam yang terluka.
"Kamu nggak perlu repot-repot, ini cuma luka kecil aja kok, nanti juga sembuh sendiri" ucap Azam.
Azam hanya terdiam dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nggak mau bilang juga nggak papa, lagian kita ini kan sudah menikah, masa iya kamu terluka lagi karena pegang tangan aku?" Alia bicara tanpa henti sambil terus mengoleskan salep ke tangan Azam.
Sementara itu Azam hanya tersenyum lalu mencium kening Alia.
"Kamu cepat siap-siap yah, sebentar lagi kita berangkat, kendaraan juga sudah siap, aku tunggu di luar yah" ujar Azam lalu pergi meninggalkan Alia begitu saja.
"Ih, ternyata sikap nyebelin nya sama sekali nggak berubah!" Alia menggerutu.
Sekitar jam 9 pagi semua orang sudah siap untuk berangkat menuju ke rumah Azam. Tanpa menunggu lama lagi mereka segera berangkat dan menempuh perjalanan sekitar satu jam.
__ADS_1
Keluarga besar Alia tidak tinggal lama di rumah Azam, Mereka semua langsung pergi begitu acara inti sudah selesai, sementara itu Azam dan Alia masih harus mendatangi rumah saudara Azam satu persatu sesuai adat dan tradisi yang sudah berlangsung lama.
*****
Kurang lebih jam 8 malam Alia dan Azam baru bisa beristirahat di kamar Azam. Alia melihat sekeliling dan merasa kagum ketika melihat suasana di dalam kamar itu, kamarnya cukup luas, dan yang pastinya lebih luas dari kamar Alia, semua barang-barangnya juga tertata dengan sangat rapi. Namun ada satu hal yang sangat menarik perhatiannya, yaitu sebuah golok yang cukup panjang lengkap dengan tempatnya terpajang di sebuah dinding sebelah pintu kamar.
"Apa kamu mau berdiri terus di situ?" tanya Azam.
Fokus Alia pecah seketika mendengar suara Azam. Dia lalu duduk di kursi meja belajar dan tanpa sengaja melihat burung kertas berwarna hitam yang ia buat dulu.
Senyuman kecil mulai terpancar di wajah Alia, entah kenapa hatinya merasa senang sekali hanya dengan melihat benda yang mungkin tidak berarti itu.
"Kamu benar-benar menyimpan ini" ucap Alia pelan.
"Kan aku sudah pernah bilang kalau aku akan menyimpannya di kamarku".
"Emm itu..."
Alia tidak berani menyelesaikan ucapannya, dia kembali melihat ke arah golok panjang yang berada di dinding. Rasa penasarannya semakin besar saat ia merasakan aura yang cukup kuat berasal dari benda itu.
"Ah itu... itu adalah golok kesayangan Abah ku, sebelum meninggal beliau memberikannya padaku untuk di simpan, karena bingung harus di taruh di mana, jadi aku gantung saja di sana, itu juga sekaligus untuk mengobati rasa rindu pada Abah" jelas Azam.
"Tapi aku merasakan ada aura di sana" ujar Alia.
"Ah mungkin itu cuma perasaan kamu saja, lagi pula aku dan keluargaku tidak pernah menyimpan barang-barang yang keramat seperti itu" imbuh Azam.
Alia diam sembari mengangguk, tanda bahwa ia sudah mengerti. Tak lama kemudian Azam keluar untuk mengambil air wudhu karena dirinya belum sempat sholat isya, kini Alia sendirian di dalam kamar itu.
Alia mencoba bangun dari tempat duduknya dan mendekati golok itu karena masih penasaran. Rasanya tangan Alia ingin sekali menyentuh benda itu, namun entah kenapa tangannya terasa sangat berat. Akhirnya dia pun berjalan menuju ranjang besi tempa model jadul dengan kasur kapuk yang terletak di atasnya.
Perlahan Alia duduk di atasnya dan masih mengarah kepada benda yang tergantung di dinding itu, entah kenapa perasaannya berubah seketika dia duduk di atas ranjang itu. Pikirannya seperti melihat sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya, tiba-tiba saja muncul asap putih yang berasal dari golok yang tergantung itu, asap putih itu kemudian membentuk sosok laki-laki yang agak tua dengan mengenakan jubah putih, peci putih dan juga sorban. Sosok laki-laki tua itu mempunyai jenggot panjang yang sudah berwarna putih, dia berdiri di sudut kamar dan tersenyum kepada Alia.
__ADS_1
Sementara itu Alia masih kaget melihat penampakan dari sosok yang berada di kamar itu, dia hanya terdiam dengan mata yang terus menatap sosok laki-laki tua itu tanpa berkedip, tak lama kemudian sosok itu kembali berubah menjadi asap putih dan masuk ke dalam golok panjang yang sejak tadi membuat Alia penasaran.
"Ragasy? kamu kenapa? apa yang kamu lihat sampai tidak berkedip seperti itu?" tanya Azam yang tiba-tiba saja masuk dan menyapa Alia.