
Pandangan Alia masih tertuju pada mahluk berwarna hijau itu, wajah mereka saling bertatapan, kedua tangan Alia memegangi roda di bagian samping kursi dan berusaha untuk menjauh, namun Alia merasa kesulitan karena baru pertama kali ia menggunakan kursi roda.
Karena tangan dari mahluk itu terus saja menjulur seperti ingin mencengkeram kaki Alia, maka Alia pun menjadi panik dan menggerakkan kursinya dengan cepat, namun tanpa sengaja kursinya malah terguling karena bentuk tanah yang rata dan membuatnya terjatuh.
"Aahhh sakit!" teriak Alia sembari terus memegangi kedua kakinya.
"Astaghfirullah Alia!"
Bu Mia melihat Alia yang tergeletak di taman dengan kedua kakinya yang tertindih kursi roda.
Dengan cepat Bu Mia segera menghampiri Alia dan membantunya kembali ke atas kursi, lalu beliau langsung membawa Alia kembali ke kamarnya.
Karena panik, Bu Mia dan Pak Aji pun langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Alia.
Alia terbaring di tempat tidur dan dengan perlahan dokter mengeluarkan sebuah palu kecil yang ia bawa.
"Kamu tenang yah, jangan panik" ucap dokter sembari mengetukkan palu itu ke bagian lutut Alia dengan perlahan.
Dokter mengetuk kedua lutut Alia beberapa kali, namun Alia benar-benar tidak merasakan apapun, dan juga tidak ada respon dari kakinya.
"Keadaan kakinya masih sama, belum ada perubahan, dan saat jatuh tadi juga tidak menyebabkan hal yang buruk" ucap sang dokter.
"Syukurlah kalau begitu" Bu Mia menghela nafas.
"Tapi Alia tidak boleh stress! kalau sampai dia stress berlebih itu akan mempengaruhi syarafnya, dan bisa memperlambat kesembuhan kakinya" imbuh dokter.
"Tuh kan Alia, kamu dengar apa kata dokter" ucap Bu Mia sembari melihat ke arah Alia.
"Iya mah..."
"Nah supaya kamu nggak stress, kamu sudah boleh pulang, tapi 3 hari lagi harus kontrol dan juga terapi buat kaki kamu yah"
Alia sangat senang saat mendengar pernyataan dokter bahwa dirinya sudah bisa pulang, dia mengangguk dengan cepat tanda mengiyakan perintah dokter.
Bu Mia dan Pak Aji pun merasa sangat senang mendengar hal itu.
Dokter meminta Pak Aji untuk segera menyelesaikan administrasi supaya Alia bisa segera pulang, sementara itu Bu Mia memulai untuk membereskan semua barang-barangnya supaya tidak terlalu repot.
Alia duduk dengan wajah yang terlihat bercahaya karena merasa bahagia, sebentar lagi ia akan keluar dari ruangan yang menurutnya sangat membosankan itu.
"Assalamualaikum..."
"Walaikumsalam..."
Terdengar suara pelan dari balik pintu, dan Bu Mia pun segera membukanya.
"Eh Sita, kamu datang nak"
__ADS_1
"Iya Mah"
Sita langsung masuk dan duduk di kursi yang berada di samping kanan tempat tidur Alia.
"Gimana keadaan kakak?" tanya Sita.
"Alhamdulillah udah boleh pulang" jawab Alia sembari tersenyum.
"Wah syukurlah..."
Sita menengok ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu, namun ia enggan untuk bicara pada Alia.
"Kamu kenapa dek?" tanya Alia.
"Aku kok kaya dengar suara erangan binatang gitu yah?" ucap Sita.
Alia terdiam dan mencoba melihat ke sekelilingnya, dan benar saja, sosok mahluk berwarna hijau itu ternyata sudah ada di bawah tempat tidur Alia di bagian kirinya.
"Ya ampun... dia lagi!" Alia bicara dalam hati.
Tadinya Alia sempat merasa terkejut, namun karena sudah melihat mahluk itu beberapa kali, kini dirinya sudah merasa biasa saja saat melihatnya.
"Kenapa kak?" Sita heran melihat Alia yang tiba-tiba terdiam.
"Nggak papa, cuma ada serangga aja".
"Serangga? mana ada?" ucap Sita sembari mencari-cari dimana serangga itu.
Alia teringat dengan perkataan dokter bahwa dirinya tidak boleh stress, jadi dia berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya.
Alia hanya terus melihat ke arah mahluk itu yang terus mendekatinya, dia terdiam karena penasaran sebenarnya apa yang diinginkan mahluk itu.
"Kak!" ucap Sita sembari memegang tangannya.
"Eh ya kenapa?" Alia langsung kaget karena dirinya sedang fokus melihat ke arah mahluk hijau itu.
"Emmm aku kok nggak lihat temen kakak yang ganteng itu?" tanya Sita.
Alia hanya terdiam, dia menatap adiknya sambil mengernyitkan dahinya seolah bertanya siapa yang di maksud.
"Itu loh... teman kakak yang tiap hari ke sini waktu masih koma" jelas Alia.
"Oh dia... aghh!!"
Belum selesai Alia menjawab ucapan Sita, tiba-tiba saja Alia kembali merasakan sakit di kakinya. Dia langsung melihat ke arah kedua kakinya yang ternyata sudah di cengkeram oleh mahluk yang sejak tadi berada di dekatnya. Namun rasa sakit itu tidak bertahan lama, sehingga membuat Alia kembali terdiam.
"Kak? kakak kenapa?" tanya Sita.
Alia terus memandangi mahluk itu dengan tidak berkedip sama sekali, dia merasa heran dan juga terkejut karena mahluk itu sedang berusaha menggigit sebuah rantai yang terlihat masih mengikat kedua kakinya.
Dengan giginya yang panjang dan juga tajam, mahluk hijau itu terus mencoba mematahkan rantai yang bahkan tidak bisa terlihat oleh Alia sebelumnya.
__ADS_1
"Kak? kakak kok diam aja?"
Sita menjadi semakin panik ketika kakaknya hanya terdiam dan tidak menjawabnya. Dia melihat ke sekelilingnya dan ternyata Bu Mia yang sejak tadi sedang membereskan barang-barang sudah tidak ada di dalam ruangan.
"Aduh Mama kemana lagi? kok nggak ada?" gerutu Sita.
Tanpa berpikir lagi Sita pun segera bangun dan keluar untuk mencari kedua orangtuanya karena Alia hanya terus diam seperti orang yang sedang kerasukan.
"Aw!!"
Baru saja Sita keluar dari pintu ruangan, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seseorang.
"Astaghfirullah... pelan-pelan dek" ucap orang itu.
"Em maaf mas, eh mas temennya kak Alia kan?" tanya Sita yang langsung mengenali orang itu.
"Iya, saya mau menjenguk kakak kamu" ucapannya.
"Wah kebetulan mas, ayo cepetan masuk" ujar Sita.
Azam hanya terdiam heran saat Sita mengajaknya untuk masuk ke ruangan Alia dengan cepat.
"Assalamualaikum..." ucap Azam
Alia masih terdiam dengan terus menatap mahluk itu, ia bahkan tidak mendengar ucapan salam Azam karena begitu fokusnya. Azam terkejut saat melihat mahluk berwarna hijau itu sedang menempelkan gigi taringnya yang panjang pada kaki Alia.
"Ragasy!!"
Azam langsung berlari mendekat dan berusaha untuk mengusir mahluk itu, namun saat Azam baru ingin memulainya, mahluk itu tiba-tiba saja langsung menghilang, dan kedua pergelangan kaki Alia berubah menjadi biru.
"Arrafi? kamu kapan datang?" tanya Alia yang sama sekali tidak menyadari kedatangan Azam.
Azam hanya terdiam sembari menatap kedua pergelangan kaki Alia yang semakin membiru.
"Kak? kakak nggak papa?" tanya Sita.
"Nggak papa kok, emangnya ada apa?"
"Yah dari tadi kakak cuma diam kaya orang kesambet, bikin orang panik aja!" ucap Sita dengan nada ketus.
Alia hanya tertawa kecil menanggapi celotehan Sita, sementara itu Sita kembali heran karena kini giliran Azam yang hanya terdiam.
"Ragasy... coba kamu gerakkan kaki kamu" Azam langsung bicara setelah sadar bahwa Sita mulai heran melihat sikapnya yang aneh.
Alia hanya mengangguk, dengan pelan ia mencoba mengangkat kakinya dan menurunkannya dari tempat tidur.
"Wah bergerak kak!" ujar Sita yang kegirangan melihat Alia bisa menggerakkan kakinya.
"Alhamdulillah..."
Alia terus berusaha untuk menapakkan kedua kakinya ke lantai, dan dengan pelan ia mencoba untuk berdiri meskipun harus tetap berpegangan.
__ADS_1
"Alia... kamu berdiri nak?" ujar Bu Mia yang masih berdiri di depan pintu dan terkejut melihat perkembangan kaki Alia.