Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Hitam putih


__ADS_3

Keesokan harinya Alia berangkat ke sekolah seperti biasa, hari itu adalah hari Selasa dimana ia ada kegiatan ekstrakurikuler.


Hari itu Alia merasa sangat tidak semangat, ia bahkan menyerahkan tugasnya kepada wakil ketua PMR untuk memimpin rapat.


Karena mereka sudah memasuki kelas XII jadi Alia harus mulai menjalankan program kerja terakhir nya yaitu memilih calon ketua baru untuk organisasi PMR yang selama ini ia pimpin, begitu juga dengan organisasi yang lain. Mereka semua mulai menyeleksi juniornya untuk dijadikan penerus kedepannya.


Setelah kegiatan selesai Alia masih berdiri di balkon depan ruangan PMR. Dia menatap ke sekeliling, hatinya masih terasa sakit mengingat soal kejadian kemarin.


Ia lalu mengeluarkan cincin batu hitam yang berada di sakunya dan meletakkannya diatas telapak tangan. Alia memandangi cincin itu, hatinya masih tidak percaya jika hal yang ia alami kemarin disebabkan oleh orang yang ia sukai.


"Apa itu benar-benar kamu yang melakukannya?"


Dari kejauhan Azam melihat Alia yang sedang berdiri sendirian, dia mencoba mendekatinya namun langkahnya terhenti ketika ia melihat sesuatu yang berada di tangan Alia.


"*Cincin itu*?"


Azam bergumam dalam hati, ia ingin melihatnya lebih jelas namun Alia menyadari kedatangan Azam sehingga dia langsung menyimpan kembali cincin yang tadi ia pegang.


"Kamu ngapain ke sini?"


Alia kaget, dia bertanya kepada Azam sembari menyembunyikan cincin yang masih berada di genggamannya.


"Ah kita di tunggu diruang rapat"



"Oh, ya aku ke sana"


Alia langsung pergi meninggalkan Azam begitu saja dan menuju ke ruang rapat.


Pembahasan rapat kali ini adalah milik organisasi OSIS, karena mereka telah mendapatkan calon ketua OSIS baru beserta para anggotanya, jadi mereka akan mengadakan LDK(latihan dasar kepemimpinan).


Para ketua organisasi yang lain diminta untuk menjadi tamu undangan dan membantu organisasi OSIS untuk memberikan beberapa motifasi kepada senior yang akan meneruskan kerja seniornya.


**********


Dan akhirnya hari Sabtu pun tiba, hari itu adalah hari yang sudah di jadwalkan untuk melaksanakan kegiatan OSIS yang sudah di rapatkan kemarin.


Acara itu sudah di mulai sejak jam 2 siang dan rencananya akan terselesaikan pada hari minggu jam 11 pagi. Karena jadwal Alia untuk mengisi acara adalah jam 8 malam, jadi ia memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu dan berangkat lagi sehabis maghrib.


Pak Aji melarang Alia untuk berangkat sendirian karena waktu sudah malam dan lokasi sekolahnya juga cukup jauh, namun setelah beberapa lama Alia membujuknya, akhirnya Pak Aji mengijinkan.


Sekitar pukul 18.45 Alia berangkat dari rumah menggunakan sepeda motornya dan sampai di sekolah kurang lebih pukul 19.45.

__ADS_1


Begitu Alia sampai, ternyata semuanya masih dalam waktu istirahat sholat isya, dan acara akan di mulai kembali tepat jam 8 malam.


Alia masih punya waktu 15 menit untuk menyiapkan materi yang akan ia sampaikan nanti.


Tak lama kemudian para panitia mulai berdatangan dan menyapa Alia yang sedang duduk sendirian diruang panitia.


Tepat jam 8 malam acara di dalam aula di mulai. Waktu itu Alia yang pertama mengisi acara dan diikuti oleh pengisi lainnya. Tak hanya materi, game kecil juga dilakukan agar para peserta tidak merasa bosan. Dalam acara kali ini terdapat kurang lebih 20 orang yang menjadi calon penerus organisasi OSIS.


Waktu menunjukkan pukul 22.45. Mereka diberi waktu istirahat selama 15 menit sebelum melanjutkan acara selanjutnya yaitu renungan malam.


Pukul 23.00 semua peserta diminta berkumpul di lapangan dalam posisi duduk. Masing-masing dari mereka di tutup matanya dan di renggang kan posisi duduknya.


Kali ini bagian yang bertugas mengisi acara renungan malam adalah anggota dari organisasi Pramuka, dan orang itu adalah Mayra.


Para panitia yang lain duduk di pinggir lapangan dan mengawasi. Sementara itu Alia hanya duduk di depan ruang panitia dan melihat mereka dari jauh.


Renungan malam itu cukup sukses, banyak peserta yang terbawa perasaan hingga menangis, dan ada juga panitia yang ikut hanyut dalam renungan itu.


Tepat jam 12 malam renungan yang diisi oleh Mayra itu berakhir. Para peserta satu persatu di papah untuk berjalan memasuki ruang aula di lantai atas masih dengan keadaan mata tertutup.


Acara selanjutnya adalah renungan tentang keagamaan yang akan diisi oleh Azam, acara itu berlangsung di dalam aula, namun para peserta masih tetap dalam keadaan mata tertutup.


Mayra menghampiri Alia yang masih duduk di depan ruang panitia dan duduk di sampingnya.



"Nggak, aku disini aja"



"Ngapain disini? reunian sama temen hantu kamu yang ngga kelihatan?" ucap Mayra dengan nada cukup keras.


Alia diam lalu menatap Mayra dan berkata "Kamu sendiri? lupa kalau kamu juga bisa lihat hantu!?"


"Hehe bercanda aja kok, eh ini apaan?"


Mayra bicara sambil menepuk paha Alia dan tanpa sengaja merasakan ada sesuatu yang mengganjal di saku rok Alia.


"Apaan?"


Alia yang juga penasaran akhirnya merogoh sakunya dan mengeluarkan apa yang ada di dalam.


"Loh kok?"

__ADS_1


Alia heran karena ternyata yang ada di sakunya adalah batu yang ia temukan tempo hari di kamarnya.


"Wah apaan nih, kok keren si bisa nyala gini"


Mayra langsung merebut batu itu dari tangan Alia dan kagum melihatnya karena bisa menyala dalam gelap.


"Eh ini batu yah? " Mayra mencoba mengetokan batu itu ke atas meja untuk memastikan.



"Ra kamu ngelihat ngga si?"



"Apa?"


Alia kembali terdiam, Mayra lalu masuk ke dalam ruang panitia untuk memastikan lagi dan melihat benda itu di bawah cahaya lampu.


"Wah ini beneran batu ya, kalau terang gini emang terlihat batu, tapi kalau gelap kok bisa nyala yah"


Alia pun bangun dari duduknya dan mencoba menyusul Mayra untuk masuk ke dalam. Saat berada di depan pintu Alia tiba-tiba melihat sesosok mahluk laki-laki dengan tubuh yang sangat tinggi, kakinya begitu panjang dan kepalanya bahkan menyentuh langit-langit karena sangat tinggi.


Alia berdiri terdiam di depan pintu sambil menatap mahluk itu. Dia memiliki rambut hitam yang panjang dan berdiri tepat di belakang Mayra yang masih memegangi batu putih milik Alia.


"Woy ngapain kamu bengong disitu!?"


Mayra bicara pada Alia, namun Alia masih saja diam tanpa ekspresi. Dia mencoba mendekati Alia dan menarik tangannya untuk membawanya masuk ke dalam ruangan.


Saat melewati pintu tiba-tiba tubuh Alia terasa sangat lemas dan terjatuh. Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Alia.


"Alia kamu kenapa!?"


Mayra menjadi sangat panik ketika Alia memejamkan matanya. Dia mencoba memanggil orang lain untuk membantunya mengangkat Alia masuk ke dalam ruangan.


Mereka mengangkat Alia dan membaringkan dia di lantai yang beralaskan tikar sponge, Mayra tidak berani mengatakan apapun kepada yang lainnya karena ia tidak merasakan apapun yang berhubungan dengan hal yang tidak terlihat.


Salah seorang panitia bertanya kepada Mayra, namun Mayra hanya berkata jika Alia mungkin kelelahan sehingga ia jatuh pingsan.


Mayra duduk di samping Alia, dia meminta yang lain untuk melanjutkan tugasnya dan berkata bahwa dia akan menjaga Alia sendiri saja.


Sudah 10 menit dan Alia masih memejamkan matanya, tubuhnya menjadi sangat lemas dan juga dingin.


"Alia kamu cepat lah sadar, jangan buat aku jadi khawatir"

__ADS_1


Mayra terus berdoa sambil memegang tangan Alia.


__ADS_2