
Waktu sudah berlalu sekitar setengah jam semenjak Pak Aji pergi untuk memanggil Pak ustadz. Bu Mia semakin panik saat memegang tangan Alia yang terus bertambah panas.
Pak Aji datang bersama Pak ustadz, Bu Mia diminta untuk menunggu di luar.
Alia terbaring di kasur tipis di atas lantai kamarnya, dia terus saja berteriak, Pak ustadz meminta Pak Aji untuk tidak menyentuh atau memegang Alia dulu, jadi dia hanya duduk di samping Alia dan membantu Pak ustadz membaca doa.
Dua orang bersama-sama berdoa untuk mengusir mahluk yang sedang menyiksa Alia.
Leher, pergelangan tangan dan pergelangan kaki Alia semuanya membekas merah seperti habis diikat kencang menggunakan tali.
Pak Aji bahkan sampai heran melihat hal itu bisa terjadi pada anaknya, dia ingin sekali mendekap dan memeluk putri sulungnya itu, namun ia teringat kata pak ustadz untuk tidak menyentuh tubuh Alia sebelum selesai membaca doa.
Suara teriakan Alia mulai melemah karena lelah, air matanya keluar, menahan sakit yang teramat sangat, Bu Mia memeluk Sita dan melihat Alia dari balik pintu kamarnya.
Sementara itu di kamar Azam, ia masih bergelut batin dengan mahluk mengerikan itu, nafasnya semakin terasa sesak dan seluruh tubuhnya mulai membiru, dia terus berjuang untuk melawan mahluk itu, sampai dia benar-benar tidak bisa bernafas untuk beberapa saat.
Hampir satu jam sudah Azam fokus berdoa untuk melawan mahluk itu, dia terus memejamkan mata tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya, sampai ia benar-benar bisa menyelesaikan bacaan doanya.
Perlahan-lahan cengkeraman yang seperti akar melingkar di lehernya itu mulai mengendor sampai akhirnya terlepas.
Mahluk itu pun menghilang tanpa jejak, dan belatung yang berhamburan di dekat Azam mulai berhenti bergerak. Belatung itu berubah menghitam seperti gosong dan tergeletak di sekitar Azam.
Perlahan Azam mulai membuka matanya, ia tidak lagi melihat sosok itu, namun hanya melihat bangkai belatung yang sangat bau.
"Alhamdulillah..."
Azam berucap pelan sambil melihat ke sekelilingnya. Dia bangun dari duduknya dan mulai membersihkan bangkai-bangkai itu.
*****
Teriakan Alia perlahan-lahan berhenti dan sudah tidak merasakan sakit lagi, namun bekas luka merah itu tidak hilang, dia juga kehilangan kesadarannya.
Bu Mia mendekati Alia, dia khawatir karena Alia kehilangan kesadaran, namun Pak ustadz mengatakan bahwa itu bukan masalah.
Pak ustadz pun berpamitan dan pergi, Bu Mia kembali duduk di samping Alia dan memegang tangannya. Dia mulai mengompres luka di bagian leher, tangan dan kaki Alia menggunakan air hangat.
__ADS_1
"Anak kita kok bisa begini ya Pak?"
Bu Mia sungguh merasa sedih melihat keadaan putrinya, dia mengompres luka-luka itu sambil terus menitikkan air matanya.
"Sabar Bu, yang penting sekarang sudah lebih baik" ucap Pak Aji.
"Kalau boleh memilih, saya ingin punya anak yang biasa saja, yang normal seperti anak lainnya, nggak yang seperti ini Pak"
"Ya sabar Bu, lagi pula itu kan gara-gara leluhurnya Ibu"
"Ibu tahu Pak, tapi pasti ada orang pintar yang bisa membuang kemampuannya itu kan?"
"Mau cari yang dimana lagi Bu? kita kan sudah datangi puluhan orang pintar serta kyai dan meminta untuk me ruqyah anak kita supaya ditutup mata batinnya, tapi mungkin ini sudah takdirnya Bu, kita jalani saja, dan disyukuri"
Bu Mia hanya terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa. Dia terus mengompres tubuh Alia sampai larut malam dan tanpa sengaja tertidur sampingnya.
Sampai pagi tiba, Alia masih belum sadar juga. Bu Mia terbangun dari tidurnya, tanpa sadar hari sudah siang. Ia meminta Pak Aji untuk menelfon Afi dan berkata Alia tidak bisa berangkat kuliah karena sakit.
Pak Aji mengundang dokter untuk memeriksa keadaan Alia, namun dokter itu malah heran saat melihat Alia yang masih tak sadarkan diri karena semua keadaan tubuhnya baik-baik saja kecuali luka memar.
Dokter hanya memberikan obat salep untuk luka luar saja dan setelah itu pergi.
Setelah melihat Alia, Afi pun berpamitan untuk berangkat kuliah, dia juga dititipi surat keterangan dokter untuk mengijinkan Alia.
**********
Afi sampai di kampus, dia berjalan melewati parkiran dan hendak berjalan menuju ke kelasnya namun ia melihat banyak orang yang berkerumun di taman dekat parkiran.
"Apaan ya itu, kok rame banget si?"
Karena penasaran, Afi pun mencoba mendekat dan melihat apa yang terjadi.
Betapa terkejutnya Afi saat melihat hal yang terjadi di sana.
Pohon Cherry besar itu tumbang sampai ke akar-akarnya, dan di bawah akar tersebut ada tengkorak manusia utuh, dan yang lebih mengagetkan lagi ternyata bagian tengah dari pohon itu kosong, seperti hanya kulit pohon saja, tidak ada bagian dalam kayunya, tapi sampai kemarin pohon itu bahkan masih bisa berdiri kokoh.
__ADS_1
"Aneh banget si, pohon yang cuma tinggal kulit gitu tp sampai kemarin masih berdiri dan berbuah lebat, apa jangan-jangan pohon itu tumbang karena di makan belatung? tapi nggak mungkin belatung bisa makan isi kayu dalam semalam kan?"
Tak lama kemudian polisi datang dan mengangkat kerangka tengkorak yang ada di bawah akar pohon itu, dan pihak kampus juga sudah memanggil petugas untuk mengurus pohon yang tumbang tersebut.
*****
Afi pergi menjauh dari tempat itu dan berjalan menuju kelas. Tanpa sengaja Afi berpapasan dengan Azam.
"Woy Azam!"
Afi langsung menghentikan Azam karena melihat ada hal yang berbeda darinya hari ini.
"Eh Afi, kenapa?"
"Nggak papa, cuma aneh aja lihat orang panas-panas begini pakai syal tebal gitu. Kayak orang patah leher aja!"
"Oh ini, aku cuma agak nggak enak badan aja"
"Eh leher kamu kenapa?"
Afi penasaran melihat luka memar yang terlihat sedikit dari leher Azam, meskipun sudah ditutupi namun mata Afi memang sangatlah awas.
"Ah nggak papa kok"
Afi semakin penasaran ketika menyadari bahwa suara Azam juga sangatlah lemah seperti hampir kehilangan suara karena tercekik.
Karena tidak ingin terus ditanyai, maka Azam mencoba untuk menghindar dengan alasan pergi ke kelas.
"Eh kok pergi gitu aja sih! tapi yang di leher itu kayaknya aku tadi juga lihat deh, tapi dimana yah? oh iya! itu sama persis kaya yang ada di lehernya Alia, aku yakin banget kalau itu beneran luka yang sama! sebenarnya itu anak abis ngapain si? kok bisa punya luka yang sama kaya Alia, dan tiba-tiba pohon Cherry itu juga tumbang, atau jangan-jangan..."
Afi terus saja bicara sendiri, sampai beberapa orang yang lewat mulai melihat ke arahnya.
Dia pun langsung pergi karena tidak ingin orang-orang berpikir aneh tentangnya.
Dari kejauhan Pak Yahya melihat ke arah pohon tumbang itu, entah apa yang ia pikirkan, tidak ada seorangpun yang tahu.
__ADS_1
"Akhirnya pohon itu tumbang juga..."
Pak Yahya berucap pelan sambil terus memandangi bangkai pohon Cherry itu.