Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Fakta baru


__ADS_3

Alia dan Sandra sampai ke kantin. Pikiran Alia masih tertuju pada sosok gadis kecil yang mengikuti Meisya tadi.


"Al hari ini aku traktir kamu soto yah"


Ucapan Sandra langsung mengagetkan Alia yang agak sedikit melamun.


"Eh kok gitu, nggak usah lah"


"Nggak papa kok, anggap aja itu sebagai tanda pertemanan kita"


Alia tidak bisa menolak perkataan Sandra, dia hanya tersenyum sembari menerima semua yang dilakukan Sandra.


Drrrrrttt... drrrrtttt...


Tiba-tiba ponsel Alia bergetar, dia pun langsung mengecek siapa yang menelpon.


"Fahmi? tumben dia telfon aku, ada apa yah?"


Alia bergumam dalam hati. Fahmi adalah teman satu kelasnya di MA Ma'arif dulu yang menjabat sebagai ketua OSIS.


Tanpa berlama-lama Alia pun langsung mengangkat telefon dari temannya itu.


"Assalamualaikum Fahmi"


"Walaikumsalam Alia, kamu apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, oh ya ada apa kamu telfon aku? tumben."


"Ya aku mau ngundang kamu datang ke acara LDK OSIS di MA kita tahun ini, buat jadi pendamping sekaligus pengisi acara malamnya, kamu bisa?"


"Oh kapan?"


"Sabtu ini, ntar aku kirim undangan sama jadwal kegiatannya yah"


"Oh oke aku tunggu"


Alia menutup telepon dan kembali berbincang dengan Sandra.


Dia mulai bertanya tentang Meisya kepada Sandra, karena Alia jadi penasaran kepada seorang Meisya sejak melihat sosok yang berada di belakangnya itu.


Tanpa keberatan, Sandra pun menceritakan semua tentang Meisya, mulai dari keluarga, saudara, hobi hingga kebiasaannya. Sandra tau cukup banyak mengenai Meisya karena mereka sudah satu sekolah sejak masih SD, dan kebetulan rumah mereka juga satu desa.


"Jadi maksudnya dia itu indigo?"


Alia agak terkejut saat mendengar cerita Sandra bagian terakhir.


"Yah gitu si kata dia, aku sendiri juga nggak terlalu paham sama yang begitu, dan aku juga nggak terlalu suka sama Meisya karena dia terlalu sombong"

__ADS_1


"Iya sih, sikapnya itu terlalu angkuh, aku pikir itu semua karena dia anak dari orang yang mampu"


"Nggak gitu! aku baru tahu kalau dia indigo sejak kami SMA, itupun dia sendiri yang bilang, dan sejak saat itu dia jadi sombong, angkuh, seperti mengandalkan indigo nya dia untuk membuat semua temannya takut dan mau menghormatinya."


"Oh pantas dia selalu bicara keras dan semua teman di kelas itu diam saja, apa mereka semua juga sudah tahu?"


Sandra mengangguk, informasi yang diberikannya itu membuat Alia menjadi semakin penasaran kepada Meisya, bagaimana di bisa bersikap seperti itu dan sengaja memamerkan kemampuan yang seperti itu.


Setelah jam istirahat selesai, Alia dan Sandra kembali ke kelas untuk mengikuti kuliah terakhir. Kuliah terakhir itu berlangsung sekitar dua jam dan setelah itu semua orang keluar dari kelas.


Alia pun keluar dan bergegas untuk pulang. Ia menuju ke parkiran dan menunggu Irfan untuk mengantarnya pulang.


"Alia!"


Teriak seorang laki-laki yang bukan berasal dari universitas itu. Dia berjalan menghampiri Alia yang sedang duduk sendirian di parkiran.


"Eh Fahmi, kamu kesini sendiri si?"


"Iya nih aku kebetulan lewat juga. Oh ya ini undangan sama jadwal kegiatan besok, kamu jangan lupa datang yah buat bantuin aku"


"Loh acaranya mulai jam satu? tapi aku ada kelas sampai jam 4, gimana dong?"


"Ya udah kamu datang kalau udah selesai kuliah aja nggak papa kok, lagian jadwal kamu isi acara juga malam"


"Wah gitu yah, insyaallah aku pasti datang!"


Fahmi langsung pergi setelah menyampaikan apa yang ingin di sampaikan. Tak lama kemudian Irfan datang dan langsung menghampiri Alia.


Karena hari semakin sore, Irfan langsung mengajak Alia untuk segera pulang.


Di jalan, dia sempat berkata bahwa besok akan ada kuliah sampai malam karena pergeseran jadwal, jadi tidak bisa mengantarkan Alia pulang.


"Oh nggak papa besok aku bawa motor sendiri aja" ucap Alia.


"Syukurlah kalau kamu mengerti"


**********


Keesokan harinya Alia berangkat dengan mengendarai motornya sendiri. Hari itu semua kuliahnya berjalan lancar sesuai jadwal. Tepat jam 4 sore dia keluar dari kelas dan buru-buru untuk menuju ke sekolah MA nya.


Sekitar jam lima sore Alia sampai di MA. Saat itu acara masih berlangsung di dalam ruangan, jadi Alia hanya duduk di ruang panitia.


"Kak Alia?"


"Eh Dista? ya ampun makin cantik aja kamu"


"Ah kak Alia jangan mengejek"

__ADS_1


"Nggak kok emang beneran"


Mereka berdua berbincang sembari melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu.


Alia melihat kembali jadwal kegiatan yang sudah di buat. Kemarin Alia tidak sempat melihat bahwa hari Minggu pagi akan di adakan kegiatan naik gunung untuk mengunjungi sebuah petilasan syech yang lumayan terkenal di kota itu.


"Eh ini serius yah besok naik gunung?"


"Iya kak" jawab Dista


Alia mencari Fahmi untuk berdiskusi dengannya. Dan ternyata Fahmi memang sudah menyiapkan dengan matang-matang semua kegiatan itu.


Jarak gunung itu dengan sekolah tidak terlalu jauh karena masih berada dalam kabupaten yang sama dengan letak sekolah mereka, namun itu berada dekat dengan perbatasan kabupaten lain dan merupakan daerah di ujung Utara bagian timur kota tersebut. Sebenarnya tempat itu lebih tepatnya adalah sebuah bukit yang merupakan bukit tertinggi di kabupaten itu, jadi orang-orang di sana sudah terbiasa menyebut tempat itu sebagai gunung.


"Emang kamu udah pernah ke sana?"


"Udah Al, dan di sana tempatnya itu enak banget, pemandangan bagus udara segar, bisa sekalian refreshing juga, dan nggak melupakan kegiatan religi nya juga yaitu mengunjungi petilasan" jelas Fahmi.


"Tapi kamu udah hubungi pawangnya dulu? soalnya dari yang aku tahu tempat itu terkenal dengan hal yang kaya gitu lah..."


"Kamu tenang aja, semuanya udah aku atur, bahkan aku udah penuhi semua syarat yang di minta sama pawang itu"


Alia terdiam sejenak, dia agak terganggu dengan perkataan syarat itu. Karena setau Alia mereka hanya akan mengadakan kegiatan outdoor sambil menikmati pemandangan alam, tapi kenapa harus dimintai syarat.


"Emang syaratnya apaan?"


"Agak aneh si emang, tapi kamu tenang aja, semuanya udah aku siapin"


"Ya apaan?"


Belum sempat Fahmi memberitahu syaratnya pada Alia, tiba-tiba salah satu junior memanggil Fahmi dan dia pun pergi meninggalkan Alia yang masih penasaran.


Hati Alia mulai merasa tidak tenang, pikirannya masih bertanya-tanya tentang syarat yang dibilang aneh oleh Fahmi itu.


"Duh kok tiba-tiba perut aku sakit si, huh pasti maag aku kambuh lagi nih, aduh sakit banget!"


Alia merintih kesakitan di perutnya karena memang sejak siang dia belum makan dan hanya sarapan pagi saja.


Dista menghampiri Alia yang sedang kesakitan dan mengetahui penyebabnya.


"Ayo ikut aku kak"


"Kemana?"


"Udah ikut aja!"


Dista mengajak Alia ke ruang panitia dan menyuruhnya makan karena kebetulan makan siang yang di pesan masih ada. Tadinya Alia menolak, namun Dista memaksa dan akhirnya Alia memakan makanan itu dan sebelum makan Dista memberi Alia obat maag terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah Alia selesai makan, Dista juga membuatkan teh hangat agar tubuhnya tidak lemas dan pusing.


__ADS_2