Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Mayra


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, bell istirahat pun berbunyi. Alia kembali mencoba menghubungi nomor ponsel Mayra namun masih saja di luar jangkauan, dia juga banyak mengirim pesan namun sepertinya tidak satupun yang terbaca.


Alia menengok ke arah pintu dan di luar dia melihat Amar dan Azam sedang bicara di depan pintu kelasnya, karena penasaran dia pun langsung menghampiri mereka berdua.


"Kalian lagi ngomongin apa"



"Alia hari ini kamu ngga berangkat bareng Mayra?" tanya Amar.



"Ngga, dia bilang mau di antar sama pacarnya, tapi ngga tau sampai sekarang ngga ada kabar" jelas Alia.



"Ini Al, tadi Amar dapat kabar tentang Mayra" imbuh Azam.



"Kabar apa?"


Alia menatap ke arah Amar dan Azam, dia menjadi sangat penasaran dan ingin cepat mendengarkan kabar yang di dapat oleh Amar, namun Alia heran ketika melihat wajah Amar dan Azam terlihat sangat tidak senang.


"Mayra kenapa?"



"Mayra kecelakaan tadi pagi" ucap Amar.



"Apa? kecelakaan? terus sekarang gimana? dia baik\-baik aja kan? lukanya ngga parah kan? dirumah sakit mana sekarang?"


Alia sangat kaget mendengar ucapan Amar, dia terus saja mengajukan banyak pertanyaan dan itu membuat Amar semakin tidak berani untuk melanjutkan ucapannya.


"Kenapa diam? Mayra sekarang gimana?"


Amar hanya menunduk, dia merasa tidak tega untuk mengatakan hal yang sebenarnya namun Alia terus saja mendesak mereka. Dari kejauhan Nida melihat mereka bertiga yang sedang berdiri di depan pintu kelas, Nida pun menghampiri mereka bertiga dan ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Arrafi! kenapa kamu diam juga? ayo ngomong Mayra sekarang gimana keadaannya!?"



"Kamu tenang dulu"



"Gimana aku bisa tenang? dari kemarin aku udah lihat kalau ada yang aneh sama Mayra!"

__ADS_1


Azam terdiam mendengar pertanyaan Alia, dia juga sudah tahu apa yang sedang dimaksud oleh Alia, namun dia sungguh tidak tega untuk memberitahukan.


"Mayra... dia meninggal dalam kecelakaan"


Amar akhirnya mengatakan yang sebenarnya. Nida dan Alia sangat terkejut mendengar hal itu. Alia terdiam membisu, bibirnya membeku tak dapat lagi berkata-kata, tanpa terasa air matanya mulai mengalir dengan sendirinya, tubuhnya menjadi sangat lemas seolah tak mampu lagi untuk berdiri.


Alia pun terjatuh, dia terduduk diam di lantai, tatapan matanya berubah menjadi sangat sayu, pikirannya melayang entah kemana, dia bahkan hampir kehilangan kesadarannya.


"Alia!!!!"


Amar, Azam dan Nida menjadi sangat khawatir melihat ekspresi nya yang begitu terkejut mendengar kabar tentang Mayra. Nida meraih tangan Alia, memeluknya dan mencoba untuk menenangkan nya.


"Alia kamu tenang yah, yang sabar"


Nida berucap sembari menggenggam tangan Alia dan memeluk tubuhnya, namun Alia masih terdiam dan tidak bicara.


"Da kamu tolong bantu Alia ke UKS yah"


Amar meminta Nida untuk membawa Alia ke UKS, dia pun mulai membawa Alia dan memapahnya untuk berjalan. Begitu sampai di UKS Nida langsung membaringkan tubuh Alia di atas matras, dia menjadi gugup karena sangat khawatir.


Nida terus menggosok-gosok tangan Alia menggunakan minyak angin, karena tangannya terasa begitu dingin dan sangat lemas.


"Mayra... kenapa!?"



Alia mulai menyebutkan nama Mayra terus menerus dan itu membuat Nida semakin khawatir. Hingga beberapa saat kemudian akhirnya Alia mulai tenang kembali. Nida pergi ke dapur sekolah untuk meminta segelas teh hangat dan di berikan kepada Alia.


"Da dimana Amar?"



"Dia mungkin sedang di ruang guru, kenapa?"



"Aku mau tanya sama dia, tentang Mayra"


Nida pun pergi keluar dan memanggilkan Amar untuk Alia, sementara itu Alia masih duduk diam di atas matras tipis di ruang UKS. Dia masih saja terbayang wajah Mayra.


"Alia kamu yang sabar yah"


Amar datang memasuki ruang UKS bersama Nida, dia kembali meminta Alia untuk tetap tenang.


"Kamu tolong ceritakan gimana Mayra"



"Jadi tadi aku dengar dari anak IPS, dia yang melihat langsung kejadiannya"

__ADS_1


Amar mulai menceritakan tentang Mayra yang ia ketahui dari teman yang melihat kejadian itu secara langsung.


Waktu itu Mayra berangkat dari rumahnya pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya dia berangkat dengan di antar oleh seorang lelaki, dan lelaki itu adalah pacarnya.


Mereka berdua mulai berjalan menaiki sepeda motor dengan pelan, setelah beberapa menit berjalan mereka melewati sebuah jembatan yang biasa dilewati Mayra dan Alia ketika berangkat ke sekolah.


Disana terdapat sebuah bus dengan banyak penumpang yang sedang berhenti, bus itu sedang menaikkan satu penumpang. Pacar Mayra itu berusaha untuk mendahului bus tersebut dan mempercepat laju sepeda motornya, namun nahas.


Roda depan dari sepeda motor itu tanpa sengaja masuk ke dalam jalan yang berlubang dan membuatnya kehilangan keseimbangan lalu terpeleset dan jatuh di depan bus tadi. Sementara supir bus tadi baru saja menginjakkan gas dan melaju cukup kencang.


Pacar Mayra dan motornya terlempar kepinggir jalan, namun sayangnya Mayra terlempar ke tengah jalan dan tepat berada di depan bus yang sedang mulai melaju cepat.


"Aaaaagggghhhhhhh!!!!!!"


Suara teriakkan itu terdengar sangat keras, bahkan semua orang yang berada di sekitar bisa mendengarnya dari jarak puluhan meter.


Suara itu adalah teriakkan Mayra, dan bisa dibilang teriakkan terakhir Mayra. Sungguh sangat tidak bisa di bayangkan saat Mayra terlempar ke tengah jalan ternyata kepalanya berada tepat di depan ban besar dari bus itu.


Duaaarrrr!!!!


Semua orang yang mendengar suara itu sangat kaget ketika akhir dari teriakkan itu di lanjutkan dengan suara letusan yang sangat keras. Supir bus tersebut mencoba untuk menghentikan busnya, namun itu semua sudah terlambat.


Saat bus itu berhenti, pak supir langsung berlari keluar dan melihat ke arah bawah bus, dia juga meminta semua penumpang untuk turun.


Tidak butuh waktu lama, semua orang yang berada di sekitar langsung mendekat dan mulai berkerumun. Supir bus itu merasa sangat terkejut dan juga takut ketika melihat genangan darah itu mulai mengalir di bawah busnya.


"Astaghfirullahaladzim angkat pak angkat!"


Teriak salah seorang warga yang melihatnya seseorang yang tergeletak di bawah bus. Mereka mengangkat tubuh Mayra dengan darah yang terus mengucur deras dari kepalanya.


"Astaghfirullah ini pecah pak!" teriak salah satu orang yang mengangkat tubuh Mayra.


Warga merasa sangat prihatin melihat keadaan Mayra, meskipun dia memakai helm yang aman, namun takdir tetap tidak bisa di bantah, kepalanya terlindas ban depan bus dan helm itu pecah.


Tak lama kemudian pacar Mayra berusaha untuk bangun dan berlari ke arah Mayra, dia berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Tak kuasa melihat keadaan Mayra yang sudah tidak dapat lagi di kenali wajahnya karena penuh dengan darah, mereka bahkan tidak berani melepas helm yang sudah hancur itu karena terlihat jelas bahwa kondisi kepalanya juga tidak bisa di prediksi apakah masih utuh atau tidak.


Dari situ mereka tahu bahwa saat itu juga Mayra sudah tidak bernafas lagi, cukup lama mereka menunggu mobil namun tidak ada yang lewat, mereka juga menelfon ambulance tapi belum datang juga, hingga akhirnya ada mobil bak yang lewat dan mereka terpaksa meminta supir mobil bak tersebut untuk mengantarkan Mayra ke rumah sakit terdekat, sementara pacarnya di bawa ke pinggir jalan, dan bus itu juga di pinggirkan agar tidak mengganggu jalan pengendara yang lain.


"Cukup!"


Alia meminta Amar untuk berhenti, dia rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk mendengarkan. Nida terus memeluk Alia dan juga menangis tak kuasa mendengar cerita Amar.


"Jadi... darah yang tadi pagi aku lihat itu? ya Alloh... kenapa? aku bahkan tidak pernah melihat darah menggenang sebanyak itu!"



"Alia kamu tenang, yang sabar"


Alia kembali teringat hal yang tadi pagi ia lihat, dia benar-benar tidak menyangka sama sekali bahwa bekas kecelakaan yang ia lihat tadi pagi adalah Mayra.

__ADS_1


__ADS_2