Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Kucing hitam


__ADS_3

 


Alia sudah sampai di parkiran dan Afi menghampirinya, dia bahkan tidak berani berkata\-kata ataupun menanyakan sesuatu kepada Alia.


 


"Aku ikut bareng kamu yah?" tanya Afi.


Alia hanya mengangguk tanpa ekspresi. Alia lalu menyalakan motornya dan langsung bergegas untuk pulang. Selama perjalanan tidak sepatah katapun keluar dari mulut Alia, dia hanya terdiam sembari terus fokus mengendarai motornya.


Saat sampai di rumah ia langsung masuk ke kamarnya tanpa berkata apapun pada Mama dan papanya, dia juga tidak menghiraukan Afi yang masih mengikutinya sampai ke dalam kamar.


Alia duduk menyender ke dinding dengan tatapan mata sayu, Afi mencoba untuk duduk di samping Alia dan memegang pundaknya.


"Al... jangan terlalu dipikirkan yah, aku tahu perasaan kamu..." ucap Afi pelan.


"Aku nggak papa kok, kamu kalau mau tidur, tidur aja" jawab Alia dengan pandangan yang terus mengarah ke depan.


Afi hanya terdiam dan tidak berani berkata-kata lagi, dia tetap duduk di samping Alia meskipun hanya untuk menemani dalam diam.


Alia memandang ke arah dinding yang berada di hadapannya, samar-samar mulai terlihat bayangan hitam berbentuk kucing yang sangat besar.


"Kucing itu... apakah kucing itu pertanda hal ini akan terjadi?" gumam Alia pelan.


Alia masih duduk termenung dengan tatapan mata yang kosong, sementara itu Afi mulai merasa lelah dan mengantuk sehingga dirinya tertidur di samping Alia.


Keesokan harinya Afi terbangun dan mendapati Alia masih duduk dengan posisi yang sama persis saat ia belum terlelap.


"Al, sholat subuh bareng yuk" ucap Afi.


Alia pun hanya mengangguk dan terus diam, mereka berdua mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh bersama di dalam kamar Alia.


Setelah selesai sholat subuh Alia baru bisa memejamkan matanya dan tertidur, Afi pun bisa memaklumi keadaan Alia dan membiarkannya, saat langit mulai terang Afi berpamitan untuk pulang dan membiarkan Alia untuk beristirahat dengan tenang.


Siang itu Afi mencoba menghubungi Lana dan mengajaknya untuk bertemu, dia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya membuat Alia sampai merasa sangat marah dan tidak bisa tenang semalaman.


"Apa!!? jadi Irfan memang pacaran sama Meisya?" teriak Afi.


"Ssttt jangan keras-keras kenapa!" ujar Lana.

__ADS_1


"Gila yah! teman kamu itu benar-benar udah gila! Alia itu kurang baik apa coba?"


"Aku juga udah berulang kali mengingatkan, tapi sepertinya sia-sia saja" ujar Lana.


"Heh kalau aku jadi Alia, pasti udah aku tampar bolak-balik itu mukanya Irfan!"


Afi merasa sangat marah mendengar semuanya, dia bahkan tidak bisa menahan emosinya terhadap Irfan.


*****


Hari berikutnya Alia berangkat ke kampus seperti biasa, namun suasana hatinya masih sama seperti kemarin, dia berjalan seperti orang yang tidak punya tujuan, dia bahkan merasa sangat malas untuk masuk ke kelas karena pasti akan bertemu dengan Meisya.


Akhirnya Alia pun memutuskan untuk pergi ke taman dan duduk sendirian di bawah pohon besar yang sudah biasa ia tempati.


"Ragasy? kenapa dia nggak ke kelas? wajahnya terlihat tidak biasa, sepertinya sedang ada masalah" gumam Azam yang tanpa sengaja melihat Alia berjalan ke arah taman.


Hembusan angin yang cukup kencang membuatnya merasa lebih sejuk di kala hatinya yang sedang sangat panas.


"Alia..."


Tiba-tiba Irfan datang dan menyapa Alia dengan suara pelan, dia paham betul jika Alia pasti masih marah terhadapnya.


Irfan pun duduk di samping Alia dan meraih tangannya.


"Aku akan jelaskan semuanya..."


"Nggak perlu, aku sudah sangat jelas" ucap Alia yang tidak membiarkan Irfan menyelesaikan kata-katanya.


"Alia... aku benar-benar melakukan kesalahan, aku minta maaf, jujur aku nggak mau kehilangan kamu!" Irfan berkata dengan suaranya yang sangat meyakinkan, dia bahkan memegang tangan kanan Alia dengan erat.


"Oh ya? lalu bagaimana dengan Meisya?" ucap Alia.


Untuk sejenak Irfan terdiam, meskipun Alia sangat marah dan sakit hati, namun ia sungguh tidak mengeluarkan ekspresi kemarahannya sama sekali, dia masih memasang wajah datar dan nada bicara yang sangat biasa.


"Sejak awal aku memang tidak berniat sama sekali untuk menjalani hubungan dengan dia, dia yang selalu memaksa dan mengejar ku, aku janji aku akan putuskan hubungan dengan dia" jelas Irfan.


"Nggak bisa!"


Tiba-tiba saja Meisya datang dan langsung membantah ucapan Irfan.

__ADS_1


Alia dan Irfan merasa kaget dengan kedatangan Meisya, Alia pun langsung melepaskan tangannya dari genggaman Irfan.


"Maksudnya apa? sejak awal kan kamu yang selalu maksa aku!" teriak Irfan.


Sementara itu Alia hanya diam melihat Irfan dan Meisya yang mulai berdebat, dia sama sekali tidak menghiraukan apa yang sedang dibicarakan mereka berdua, dan berniat untuk segera pergi meninggalkan mereka.


"Aku hamil!"


Ucapan Meisya seketika membuat Irfan membisu dan langsung menghentikan langkah kaki Alia yang hendak pergi dari tempat itu.


Alia berbalik lalu menatap tajam ke arah Meisya seolah sedang bertanya apa maksud dari perkataan tadi.


"Benar Alia, aku... aku hamil anaknya Irfan!" ucap Meisya.


"Bohong! kamu pasti bohong kan!" teriak Irfan.


"Aku nggak bohong Alia, sebagai sesama perempuan kamu pasti tahu kan kalau aku nggak akan bohong dalam hal ini?" dalam sekejap ekspresi wajah Meisya berubah memelas, dia bahkan meneteskan air mata dan memohon pada Alia untuk percaya padanya meskipun Irfan terus saja menyangkalnya.


"Heh, luar biasa! sungguh drama yang sangat bagus sekali" Alia bergumam sembari tersenyum sinis.


"Irfan! selamat yah, di hari kelulusan kamu tidak hanya mendapatkan nilai bagus, tapi kamu juga dapat hadiah yang nggak akan pernah kamu lupakan seumur hidup kamu!" imbuhnya.


"Maksud kamu apa Alia?" tanya Irfan.


"Maksudnya, hubungan kita selesai, dan selamat atas hubungan kalian berdua, oh iya aku tunggu undangan pernikahannya yah" Alia berkata sembari tersenyum dengan lebar lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Alia tunggu..." irfan berusaha menghentikan Alia, namun hal itu sia-sia saja.


"Irfan cukup!" teriak Meisya.


Alia terus berjalan menjauh dengan perasaan yang sangat kacau, dia sama sekali tidak tahu harus bersikap seperti apa. Jantungnya terasa seperti akan berhenti, seluruh tubuhnya bergetar lemah namun berusaha untuk tetap tersenyum dan terus berjalan agar segera jauh dari pandangan Meisya dan juga Irfan.


Sementara itu dari kejauhan Azam masih berdiri melihat ke arah Alia, dia mendengar semua pembicaraan termasuk pertengkaran mereka bertiga karena sejak awal dia memang sudah memperhatikan Alia saat masih duduk sendirian di bawah pohon besar itu.


"Ragasy... akhirnya kamu tahu semuanya..." gumam Azam dalam hati sembari terus menatap Alia yang berjalan dengan lemah.


Alia pergi menuju ke parkiran dan berniat untuk pulang ke rumah, karena percuma saja jika dia tetap berada di kampus, dirinya pasti tidak akan bisa fokus dengan pelajaran yang akan diberikan, terlebih lagi dia juga sudah tidak ingin lagi melihat wajah Meisya yang akan semakin membuatnya kesal.


"Kucing hitam, sungguh luar biasa!" ucap Alia pelan.

__ADS_1


__ADS_2