Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Dua pihak yang bertentangan


__ADS_3

Keesokan harinya disekolah Alia.



Nida bergegas berangkat menuju kelas.


"Mayra! gimana Alia, kemarin kamu ketemu sama dia?"


Mayra hanya menggelengkan kepalanya.


"Maksudnya apa? Alia ngga dirumah?"


"Ya! dia ngga dirumah, kata mamanya dia lagi ke rumah mbahnya buat nenangin pikiran"


"Tapi dia baik-baik aja kan?"


"Ya dia baik kok, beberapa hari lagi mungkin berangkat"


"Syukurlah"


Sementara itu diluar kelas Azam sedang menunggu Amar datang, namun Amar tidak datang-datang. Akhirnya Azam memberanikan diri untuk bertanya kepada Mayra.


"Mayra!" Azam memanggil nya dari depan pintu kelas Mayra.


"Eh sebentar ya Nida" Mayra meninggalkan Nida dan menghampiri Azam.


"Ada apa?" tanya Mayra.


"Kamu kemarin ikut kerumah Ragasy kan? bagaimana keadaan nya?" tanya Azam.


Mayra terdiam, dia memasang wajah yang sangat jutek dan menatap Azam dengan tatapan sengit.


"Kamu suka sama Alia yah...." tiba-tiba ekspresi wajah Mayra berubah menjadi mengejek Azam.


"Apa si, aku cuma nanya saja kok" Azam tersenyum malu.


"Ngaku saja!"


"Enggak!" Azam tetap berusaha untuk mengelak.


Sementara itu di depan gerbang sekolah.


"Zizi kamu berangkat?" ucap Mita dan langsung menghampiri nya.


"Iya Mita, aku udah baikan, dan tubuhku rasanya udah ringan banget"


"Oh aku juga, serasa energiku sudah 90% pulih hehe"


"Udah kaya baterai aja!"


Tiba-tiba Zizi melihat seorang siswi dengan aura yang sangat kuat.


"Eh itu siapa si Mit?" tanya Zizi yang penasaran.

__ADS_1


"Dia itu kan anak pesantren juga, tapi masih kelas XI, dengar-dengar di Syarifah (sebutan bagi anak perempuan keturunan Habib atau dengan kata lain keturunan dari nabi Muhammad Saw yang nashab keturunannya tidak terputus)"


"Oh pantas saja auranya begitu kuat, apa kamu tahu siapa namanya?"


"Kalau tidak salah namanya itu Nafisah, iya itu namanya" ucap Mita.


Nafisah, merupakan santri yang berasal dari luar pulau itu, dia merupakan keturunan seorang ulama besar. Dia juga mempunyai kemampuan yang tidak biasa, namun sikapnya memang sangat cuek dan juga dingin. Matanya yang hitam dan berpandangan tajam terkadang membuatnya terkesan galak dan menakutkan.



Nafisah merupakan siswa kelas XI IPS, teman sekelas Sifa, dan dia juga yang waktu itu memperingati Alia untuk berhati\-hati meskipun mereka belum saling mengenal, namun mereka bisa saling merasakan aura masing\-masing.


Nafisah juga akrab dengan Azam, karena latarbelakang mereka yang tidak jauh berbeda, bahkan tak terelakkan lagi jika Nafisah benar-benar mengagumi sosok Azam. Namun jika di bedakan dengan derajatnya, maka Nafisah lebih tinggi dan lebih terhormat dari Azam. Semua santri senior yang mengetahui identitas Nafisah juga sangat menghormati nya. Tidak ada satupun santri yang berani memanggil namanya secara langsung, mereka semua memanggilnya sebagai mba Nafis, termasuk Azam dan juga Amar.


_____----------_______


Hari ini adalah hari ke delapan Alia tinggal di rumah mbah Hadi, saat itu pagi\-pagi sekali bu Mia dan pak Aji datang kerumah mbah Mida dan menceritakan soal keadaan Alia, mereka juga mengatakan bahwa Alia mungkin tidak akan tinggal di sana lagi, namun mereka tetap akan saling bersilaturahmi. Sebelum pulang mbah Mida menyarankan kedua orangtuan Alia untuk menemui seorang ustad di dekat rumahnya, orang itu sudah dikenal mampu menangani orang\-orang dengan keadaan seperti Alia, dia berharap bahwa orang itu bisa membantu. Bu Mia dan Pak Aji pun menerima saran dari nenek Mida.



Pak Aji dan Bu Mia datang kerumah ustad yang dimaksud oleh nenek Mida.


Disana Bu Mia menceritakan semua hal yang terjadi pada Alia. Ustad itu hanya mengangguk-angguk, lalu ia pergi ke kamarnya. Setelah beberapa saat ia akhirnya keluar dan membawa sesuatu.


Ustad itu memberikan sebuah bungkusan kain yang sangat kecil berwarna putih.


"Berikan ini pada anakmu, bawa ini saat anakmu pergi ke sekolahnya, insyaallah dia tidak akan merasa sakit lagi" ucap ustad itu dengan singkat.


"Ketahui lah, bahwa seseorang yang terpilih dan akan menerima pertolongan Allah itu tidak akan bisa menghindar"


"Maksudnya apa pak?" tanya bu Mia.


"Pihak disini menginginkan anakmu menjadi penerus mereka, atau untuk menjadi tokoh agama besar"



"Tapi apa anak saya itu pantas? dia bukan keturunan kyai atau semacamnya"


"Anda salah! saat Allah sudah memilih, maka seorang preman yang tidak bisa mengaji pun akan menjadi mampu dengan sendirinya"


Bu Mia menjadi semakin bingung dengan perkataan ustad itu.



"Tapi pihakmu tidak bisa terima jika keturunan mereka di rebut" imbuh ustad itu lagi.



Bu Mia dan pak Aji hanya terdiam, mereka belum paham betul apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh ustad itu.



"Jaga anak kalian baik\-baik, biarkan dia memilih apa yang ingin dia pilih dan jangan memaksanya"

__ADS_1



"Baik pak ustad, kalau begitu kami pamit dulu" Bu Mia dan pak Aji pun pergi dan langsung menuju kerumah mbah Hadi untuk menjemput Alia pulang.



"Mia! jangan lupa nanti ini berikan pada putrimu setiap habis maghrib selama 3 hari ya" ucap mbah Hadi sambil menyodorkan sebotol air putih.


"Baik mbah, saya akan kasihkan" menerima sebotol air itu dan memasukannya kedalam tas.


Setelah selesai bersiap, Alia akhirnya pergi dari rumah mbah Hadi bersama kedua orangtuanya.


Setelah sampai dirumah Alia langsung masuk me kamarnya untuk beristirahat, sementara bu Mia dan pak Aji masih duduk di ruang tamu.


"Bu saya kok agak kurang paham dengan ucapan ustad tadi ya?" ucap pak Aji.


Bu Mia terdiam, dia berpikir agak lama dan setelah itu akhirnya dia mulai paham.


"Kalau saya sudah paham pak"


"Jadi maksudnya apa bu?"



"Sesepuh ku kan dulu kebanyakan dukun pak, ilmu mereka kebanyakan beraliran hitam, sampai ke almarhum mbah Arsa. Tapi kalau mbah Arsa sudah mau mengerjakan sholat, ya meskipun dia masih suka memberikan sesaji, karena masih belum bisa sepenuhnya meninggalkan kebiasaan itu" jelas bu Mia.


"Jadi maksudnya Alia ini sedang dibuat rebutan oleh kedua belah pihak itu?"


Bu Mia mengangguk.


"Jika diminta memilih untuk menjadi penerus dukun atau menjadi seorang ulama, tentu saja saya lebih suka jika dia menjadi seorang ulama" tegas pak Aji.


"Tapi keadaan ini ngga semudah yang kita inginkan pak, para sesepuh jelas tidak akan terima jika keturunan mereka tidak meneruskan ilmunya mereka" ucap bu Mia.


"Yah jadi mungkin kita memang harus menngikuti keputusan Alia saja, karena dia yang akan menjalani"



Sementara itu, dari kamarnya Alia samar\-samar mendengar percakapan mama dan papanya.



"*Apa maksudnya itu? apa itu yang menyebabkan aku merasa sakit setiap kali masuk kawasan sekolah*?" ucap Alia dalam hati.


"Ah sudahlah tidak usah dipikirkan! nanti malah aku jadi tambah stres! lebih baik aku tidur!" Alia berbaring dan mencoba untuk tidur, namun tiba-tiba ada cahaya putih yang sangat terang dan menyilaukan.Cahaya itu berada tepat diatas tubuhnya.


"Apa ini! silau sekali!" teriak Alia.



"*Dengarkan apa yang ada di dalam hatimu! jangan sampai terpengaruh oleh orang lain*!"


suara itu terdengar berbisik di telinga Alia, dan tak lama kemudian cahaya itupun pergi.

__ADS_1


__ADS_2