
Alia melepaskan pelukannya dan mendapati Azam dengan wajah yang sangat terkejut.
"Mas... kamu kenapa? mukanya kaget begitu, apa ada yang aneh lagi sama aku?" tanya Alia.
"Eh enggak kok, malam ini kamu cantik sekali!" ucap Azam sambil tersenyum.
"Apaan si bohong banget!" Alia kembali mencubit hidung Azam dengan kencang, hal itu selalu ia lakukan setiap kali merasa di ejek oleh Azam.
"Ya ya maaf... sebenarnya aku kaget karena tadi aku nyentuh rambut kamu, dan nggak merasa sakit!" ujar Azam yang masih memegangi hidungnya.
Alia terdiam, dia menatap Azam dengan tatapan yang sangat dalam, raut wajahnya terlihat sangat serius dan mulai mendekati wajah Azam.
"Kamu serius?" tanya Alia pelan.
Azam hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, itu artinya kamu nggak akan terluka karena aku lagi kan?" ujar Alia.
Azam hanya diam sembari menatap dalam istrinya, dia mengecup kening Alia dengan lembut lalu membelai kepalanya.
"Aku sama sekali tidak pernah merasa terluka karena kamu" ujar Azam.
Alia hanya tersenyum mendengar perkataan itu, dia merasa sangat malu namun juga senang ketika Azam berpikiran seperti itu.
Dirinya merasa sangat beruntung sekali memiliki suami yang sangat sabar dan juga menyayanginya dengan tulus tanpa rasa pamrih sedikitpun. Dulu... tak pernah sedikitpun Alia berpikir bahwa ia akan menikah dengan orang yang kini berada di hadapannya, orang yang mau menerima semua sifat buruknya, kekurangannya dan juga mencintai setiap kelemahan yang ia miliki.
Dalam pikiran Azam, dia merasa sangat bahagia sekali karena bisa menikah dengan perempuan yang selama ini selalu ia sebut namanya dalam doa ketika melakukan sholat malam. Rasa sakit yang seringkali ia rasakan itu tidak seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang.
Hari sudah semakin malam, suasananya pun semakin hening, hanya ada suara serangga malam yang terus berbunyi menemani malam mereka.
"Ragasy... apa boleh?" tanya Azam pelan.
Alia hanya diam dan menundukkan kepalanya, dia merasa sangat malu sampai tidak bisa mengucapkan kata-kata, Azam lalu meraih kedua tangan Alia dan menggenggamnya dengan erat.
"Tidak apa jika kamu belum siap" ujar Azam.
__ADS_1
"Aku... aku takut..." jawab Alia dengan terbata-bata.
Alia semakin menundukkan kepalanya karena merasa takut jika Azam akan merasa marah dengan jawabannya. Seluruh tubuhnya terasa dingin karena sangat gugup, tangannya bahkan sampai gemetaran meskipun sedang di genggam oleh Azam.
Alia merasa sangat canggung sekali karena itu pertama kalinya dia berada dalam posisi itu, tidak tahu harus berkata apa dan hanya bisa terus diam sambil menundukkan kepalanya.
Dengan pelan Azam mengangkat wajah Alia dan mulai mendekatinya, dia mengecup bibir Alia dengan sangat lembut sampai membuatnya membisu. Jantung Alia berdebar sangat kencang, terlalu kencang sampai rasanya mau copot.
"Jangan takut Ragasy..." ucap Azam pelan.
Azam kembali mencium lembut bibir Alia, cukup lama dia mencobanya sampai akhirnya Alia pun mulai menerimanya, pikiran Alia melayang entah kemana, ia seperti sudah kehilangan akal dibuatnya.
Tubuh Alia yang merasa kaku karena terlalu gugup dan juga takut, kini bahkan menjadi lebih tenang dan menikmati setiap sentuhan lembut dari Azam, sampai ia mengeluarkan teriakan pelan karena merasa sangat kesakitan, namun ia berusaha untuk menahannya karena tidak ingin mengecewakan suaminya.
Perlahan-lahan buliran air mata mulai menetes dan membasahi pipi Alia, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum sampai Azam selesai melakukannya.
"Sakit sekali yah?" tanya Azam.
Alia hanya menggelengkan kepalanya sembari terus tersenyum, Azam pun langsung memakai kan selimut pada Alia agar merasa lebih hangat dan setelah itu ia memakai kembali pakaiannya.
"Aku mau mandi dulu, karena ingin sholat dan membaca Al-Qur'an, kamu istirahat saja dulu, tidak papa jika kamu tidak mau langsung mandi" jawab Azam.
Alia pun melepaskan tangan Azam dan membiarkannya pergi, namun sebelum itu Azam tidak lupa untuk mencium kening Alia.
"Terimakasih sayang..." ucap Azam sambil tersenyum lalu pergi.
Sementara itu Alia masih terbaring di tempat tidur karena merasa belum bisa bangun. Dalam pikirannya masih terngiang-ngiang bagaimana cara Azam memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
Alia menjadi tidak bisa tidur karena terus terpikir hal itu, padahal sebenarnya tubuhnya merasa sangat lelah sekali, ia masih saja tersenyum sendiri karena tidak bisa melupakannya.
Tak lama kemudian Azam kembali setelah selesai mandi, dia melakukan sholat sunah dan setelah itu membaca surat Al-Qur'an.
Alia terus saja memandangi wajah suaminya yang memancarkan aura putih itu, meskipun sudah sering mendengar Azam membaca Al-Qur'an, namun hatinya masih selalu merasa kagum.
Alia begitu fokus mendengarkan Azam yang sedang mengaji, sampai akhirnya dia mulai memejamkan matanya dan terlelap.
__ADS_1
Setelah selesai, Azam lalu menghampiri Alia di tempat tidur dan duduk di sampingnya. Dengan pelan ia membelai rambut Alia dengan penuh kasih sayang, hatinya selalu merasa bersyukur sekali karena Allah telah memberikan kebahagiaan dan kesempurnaan kepadanya.
Tak lama kemudian Azam pun berbaring di samping Alia dan memejamkan matanya. Mereka berdua tertidur dengan sangat lelap.
*****
Suara adzan Subuh mulai berkumandang, Alia masih tertidur dengan sangat lelap karena tubuhnya merasa lelah, sementara itu Azam mendengar suara adzan dan langsung bergegas bangun.
Dia berjalan menuju ke dapur untuk melakukan sesuatu. Sekitar 10 menit kemudian dia pun kembali ke kamar dan menghampiri Alia yang masih tertidur.
Perlahan-lahan Azam mencoba untuk membangunkan Alia yang terlihat masih sangat lelap.
Dalam hati sebenarnya ia tidak tega jika harus mengganggu tidur Alia, namun ia juga tidak bisa membiarkan istrinya untuk meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim.
"Ragasy... bangun..." ucap Azam dengan pelan sembari terus membelai lembut kening Alia.
Tak lama kemudian Alia pun membuka matanya, namun ia tidak langsung bangun karena masih merasa sakit, wajahnya bahkan terlihat pucat karena masih menahan rasa sakit di bagian kewanitaannya.
"Mas..."
"Bangun yuk,, aku sudah siapkan air hangat untuk kamu mandi, kita sholat Subuh bersama" ujar Azam.
Alia hanya terdiam, dalam hatinya merasa sangat bahagia sekali mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya. Sebenarnya ia masih ingin tidur untuk sebentar lagi, namun ia merasa tidak enak karena suaminya sudah bangun dan bahkan membuatkan air hangat untuknya mandi.
"Kamu itu nggak perlu repot-repot Mas, lagi pula harusnya kan aku yang bangun lebih dulu" ujar Alia.
"Nggak apa-apa kok, lagian kamu kan pasti masih sakit, jadi biar aku bantu kamu" jawab Azam.
Alia masih merasa sulit untuk berjalan, jadi Azam membantunya bangun dan berjalan ke kamar mandi. Tanpa berlama-lama lagi, Alia pun segera mandi junub dan mengambil air wudhu.
Setelah itu ia kembali ke kamarnya, Azam sudah menunggu Alia untuk menjadi imam dalam sholat Subuh kali ini.
Alia pun bergegas menggunakan mukena dan menjadi makmum bagi Azam. Mereka berdua melakukan sholat subuh bersama dengan sangat khusyuk.
Setelah selesai sholat, seperti biasa Alia mencium tangan Azam dan Azam pun mencium kening Alia.
__ADS_1