Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Perasaan yang salah


__ADS_3

Cuaca hari itu sangat panas, Afi tidak berhenti mengoceh dan bicara pada Alia, sementara Alia masih tetap diam dan berusaha untuk fokus menyetir, namun pikiran Alia masih saja tidak bisa fokus.


"Alia awas!!" teriak Afi.


Alia pun langsung mengerem mendadak saat sadar bahwa ada seekor kucing yang berlari tepat di depan sepeda motornya.


"Alhamdulillah untung ngga ketabrak, kamu kenapa si Al? bawa motor sambil bengong!?" ucap Afi.


Alia masih terdiam, jantungnya berdegup sangat kencang karena masih kaget. Akhirnya Afi pun mengajak Alia untuk istirahat dan makan siang sebelum melanjutkan perjalanan mereka.


Alia menepi ke sebuah rumah makan yang cukup terkenal di kota itu dan langsung memarkirkan motornya sementara Afi masuk dan memesan makanan.


"Al duduk di sini aja!" teriak Afi yang sudah duduk di dekat pintu masuk.


Alia hanya diam dan langsung menghampiri Afi lalu duduk, dia masih merasa terganggu dengan kejadian tadi yang belum mau pergi dari pikirannya. Karena Alia hanya diam, jadi Afi pun bangkit dari tempat duduknya dan pergi untuk memesan makanan.


"Kok tiba-tiba ada kucing? perasaan tadi aku lihat itu ngga ada!" Alia masih merasa heran dan bergumam dalam hati.


"Woi ngelamun aja si! eh tau ngga tadi itu Cherry nya manis banget loh!" ucap Afi.


"Masa sih?" jawab Alia singkat.


"Beneran! eh tadi aku sempat masukin beberapa ke kantung tas aku loh, kamu mau ngga?"


"Ngga ah buat kamu aja"


"Ah kamu mah gitu! ni.. "


"Aaaghhhhh!!! astaghfirullah! apa itu!"


Afi tiba-tiba berteriak saat mencoba untuk mengambil Cherry yang ia simpan di kantung tas nya.


"Apa si kok teriak, malu lah!" ucap Alia yang mulai kesal melihat tingkah laku Afi.


Afi hanya terdiam ketakutan sambil menatap sesuatu yang tadi ia lemparkan ke lantai. Sementara Alia mencoba melihat apa yang membuat Afi ketakutan.


Dan benar saja, beberapa belatung tergeletak di lantai dan Alia mencoba memungutnya menggunakan tissue agar tidak ada orang lain yang melihat. Ia langsung membuang belatung itu ke tempat sampah lalu kembali kepada Afi dan mencoba untuk menenangkannya karena beberapa orang mulai menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Sumpah Al tadi itu aku masukin nya Cherry! kenapa jadi..."


"Udah jangan ngomong lagi, orang-orang mulai lihatin kamu"


Afi melihat ke sekeliling, dan memang beberapa orang melihat ke arahnya karena tadi sempat berteriak.


"Aku udah ngga ada nafsu lagi buat makan! aku mau pulang aja!" bangkit dari tempat duduknya.


"Lah makanannya gimana? udah di bayar loh?"


"Bungkus aja lah!"


Afi pun pergi keluar dan menuju ke parkiran, sementara Alia mendatangi kasir untuk meminta agar pesanan mereka di bungkus saja.


Setelah selesai Alia langsung menghampiri Afi yang berada di parkiran, wajahnya terlihat pucat dan lesu, rasa takut dan juga terkejut masih terlihat jelas di wajahnya. Alia lebih memilih diam dan tidak menceritakan tentang sosok kakek yang ia lihat di bawah pohon tadi karena tidak ingin membuat Afi menjadi lebih takut lagi.


"Jadi pulang nih?" Alia mencoba meyakinkan.


"Iya! udah ayo cepetan, aku benar-benar udah ngga mood lagi!".


Mereka berdua sampai di depan rumah Afi, Alia menghentikan motornya. Afi pun langsung turun dan bergegas masuk ke dalam rumah tanpa berkata-kata.


Alia kembali menyalakan motornya dan pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah Alia masuk ke kamar dan membuka kembali catatan yang ia dapatkan tadi. Di dalam catatan tersebut berisi tentang semua keperluan dan barang-barang yang harus di bawa untuk acara ospeknya.


Ia juga menerima sebuah amplop besar yang berisi surat pemberitahuan untuk wali dari para calon mahasiswa baru beserta jadwal acaranya.


"Astaga! mulainya jam 5 pagi? aduh ini mah aku beneran harus berangkat jam setengah 4 deh dari rumah" ujar Alia.


Alia mencoba untuk membaca catatan dan melihat benda-benda apa saja yang harus di persiapkan untuk di bawa pada hari pertama, ia membacanya berulang-ulang namun masih bingung yang mana dulu yang harus ia siapkan. Pikirannya masih tidak fokus, ia masih terpikir dengan sosok kakek tadi, ditambah lagi dengan kejadian yang di alami Afi.


"Duuhhh!!!! sebenarnya dia siapa si? apa maunya?" gerutu Alia.


Alia mencoba keluar dan duduk di teras depan rumahnya agar bisa menghirup udara segar dan menenangkan pikirannya.


Namun tanpa sengaja ia malah melihat kembali sosok kakek tadi berdiri dari kejauhan sambil melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah! itu apa?"


Alia mencoba mengusap kedua matanya dan berusaha melihat kembali kalau-kalau dia salah lihat, tetapi pandangannya tetap saja sama. Sosok kakek itu memang mengikutinya sampai ke rumah dan sekarang sedang berdiri di dekat rumahnya sambil menatap ke arahnya.


Alia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan kembali ke kamarnya, suasana hatinya menjadi sangat kesal, dia terus saja mengumpat karena kesal.


"Sejak saat aku datang ke tempat batu besar itu, ini pertama kalinya aku melihat mahluk seperti itu lagi" gumam Alia.


Tadinya Alia sempat berpikir bahwa setelah mengembalikan Mawar ke tempatnya, maka ia tidak akan di ganggu oleh mahluk halus lagi, dan mungkin kemampuannya juga bis hilang dan dia bisa hidup dengan tenang seperti orang awam pada umumnya, namun ternyata pikirannya itu salah.


Dia hanya mengembalikan Mawar, namun tidak menghilangkan kemampuannya. Dia memang sudah tidak pernah lagi melihat sosok Mawar, namun bukan berarti ia tidak bisa melihat sosok yang lain juga.


Seketika Alia merasa tubuhnya sangat panas, dia langsung menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan mensucikan dirinya.


Setelah itu ia kembali ke kamarnya dan tanpa sengaja melihat ke arah cermin.


Entah kenapa Alia begitu tertarik dengan cermin, dia mendekat dengan perlahan dan melihat bayangan wajahnya yang terpantul di cermin lemari bajunya.


Alia terus menatap bayangan wajahnya, awalnya biasa saja, namun setelah beberapa saat ia terus menatapnya bayangan wajah itu berubah menjadi hitam, bahkan tidak berupa bentuk wajah lagi, semuanya rata dan hitam.


Lama-lama bayangan wajah itu menjadi seperti asap hitam yang sangat pekat.


"Astaghfirullah! apa lagi ini? kenapa seperti ini lagi?"


Alia kaget dan langsung memalingkan pandangannya saat ia mulai sadar bahwa bayangan dirinya di cermin sudah seperti sosok yang sangat menakutkan.


Pantulan tubuhnya di cermin terlihat biasa, namun bagian kepalanya menjadi seperti asap hitam seolah itu bukan bayangan dirinya yang sedang bercermin, namun bayangan mahluk lain.


Sudah lama sekali Alia tidak mengalami hal seperti itu, dulunya dia memang pernah seperti itu, namun dulu yang terlihat adalah wajah yang begitu cantik terpantul saat dia melihat ke arah cermin.


"Kenapa ini? kenapa hatiku merasa aneh?"


Alia teringat kembali kepada Mawar, pasalnya saat ia merasa sedang kacau dan tidak tahu harus berbuat apa, Mawar yang selalu muncul dan membuatnya merasa lebih tenang.


Alia sebenarnya merasa senang bisa bersahabat dengan Mawar, namun ia juga merasa bahwa Mawar juga berhak untuk kembali dan menjalani kehidupan yang layak di alam sana.


"Maaf Mawar, jujur saja aku merindukan kamu" ucap Alia dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2