
Keesokan harinya Alia berangkat sekitar jam setengah empat pagi dari rumah, saat sampai di kampus bertepatan dengan adzan subuh jadi dia langsung menuju ke masjid untuk sholat terlebih dahulu.
Setelah selesai sholat Alia pergi ke ruang auditorium untuk menyiapkan materi kegiatan hari ini bersama beberapa rekannya, sementara anggota panitia yang lain berada di lapangan utama untuk pelaksanaan apel pagi dan pengecekan atribut.
Setelah agak senggang, Alia menyempatkan untuk menelfon seorang montir bengkel agar bisa memperbaiki motornya yang mogok, dia juga mencari Lana dan mengembalikan kunci motor Irfan tanpa berkata apapun.
*****
Dua hari berlalu sejak hari itu, kegiatan ospek sudah berakhir dengan lancar dan kini adalah awal Alia memasuki semester 5 kuliahnya.
Karena masih Minggu pertama di semester itu, jadi jam kuliahnya tidak terlalu padat, hanya sekitar 1 atau dua mata kuliah saja per hari.
Meskipun kegiatan ospek sudah selesai, namun Alia masih memilik tanggungan untuk membuat laporan hasil akhir, mereka juga masih harus melakukan rapat pembubaran panitia.
Siang itu setelah selesai kelas, Alia berjalan menuju ke taman, dia berniat untuk menyelesaikan laporannya sembari duduk di taman agar bisa fokus berkonsentrasi.
Saat sedang berjalan tanpa sengaja Alia berpapasan dengan Azam dan Azam pun menyapanya. Tadinya Alia juga ingin berbalik menyapa, namun ia kembali teringat akan ucapan Nafisah tempo hari, jadi Alia hanya diam saja dan tidak menghiraukan Azam sama sekali, dia berjalan lebih cepat dan menjauh dari Azam tanpa sepatah katapun.
"Eh Ragasy kenapa yah? aku ucap salam dia bahkan nggak menjawab, apa dia sedang marah lagi denganku? tapi karena apa?" gumam Azam pelan.
Saat masih berdiri menatap Alia yang terus menjauh, tiba-tiba saja ponsel Azam bergetar, dan ternyata itu adalah panggilan dari kakak perempuannya yang berada di rumah.
Azam langsung mengangkat panggilan itu karena berfikir bahwa mungkin saja itu telepon penting.
Setelah selesai mengangkat telepon, seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi muram, tubuhnya bergetar lemas bahkan hampir terjatuh karena kakinya sangat gemetar sampai tidak bisa menopang badannya.
Perlahan-lahan Azam mencoba untuk berjalan dengan berpegangan pada dinding di sekitarnya, lalu dia mulai berjalan dengan terburu-buru dan pergi meninggalkan kampus.
"Azam? kamu kenapa? kok pucat begitu?"
Nafisah melihat Azam yang berjalan dengan terburu-buru, dia mencoba bertanya namun Azam hanya diam dan terus berjalan menuju ke parkiran. Dia dengan cepat menyalakan motornya dan pergi.
"Azam kenapa?" ucap Nafisah pelan.
Sementara itu dari taman Alia melihat seseorang yang mengendarai motor dengan sangat cepat, Alia berdiri dari kursinya dan ingin melihat siapa orang yang ugal-ugalan tersebut.
"Eh itu kan motornya Azam, tapi masa iya si dia ngebut kaya gitu? nggak biasanya deh!" ujar Alia.
__ADS_1
Alia kembali duduk dan melanjutkan laporannya, tadinya dia merasa kurang fokus karena masih terpikirkan hal yang ia lihat beberapa hari lalu, namun ia terus meyakinkan dirinya untuk segera menyelesaikan laporan itu agar ia tidak di kejar-kejar tanggungjawab itu lagi.
Saat Alia sedang fokus pada laptopnya, tiba-tiba saja seseorang datang menghampirinya.
"Alia" ucap Irfan pelan, sembari duduk di sampingnya Alia.
Alia hanya diam dan tidak berbicara sepatah katapun.
"Aku mau ngomong sama kamu" ucap Irfan.
"Maaf kak, aku lagi sibuk" masih fokus pada laptopnya.
"Kamu masih marah yah, aku minta maaf, aku bisa jelasin soal semalam"
"Aduh udah ya kak, aku nggak marah kok, cuma kaget aja, dan kebetulan sekarang aku lagi sibuk, jadi maaf aku pergi dulu yah"
Alia bangun dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Irfan meskipun berkali-kali irfan mencoba menghentikannya.
Alia pergi menuju ke ruang KRS dan melanjutkan pekerjaannya di sana.
Saat baru saja ia akan memulai pekerjaannya, tiba-tiba semua anggota datang ke ruangan itu dan ternyata sebentar lagi akan di adakan rapat.
"Rapat? emangnya sekarang ada jadwal rapat ya kak?" Alia heran mendengar ucapan Vani, karena dirinya sama sekali tidak ingat bahwa sekarang adalah jadwal untuk rapat pembubaran panitia.
"Kamu ini gimana si Alia, masih muda udah pikun" Vani mengejek Alia.
"Eh tapi bukannya rapat pembubaran panitia itu di ruangan BEM yah kak?" Alia kembali bertanya.
"Iya, kita rapat KRS dulu sebentar, nanti baru kita sama-sama ke ruangan BEM" jawab Vani.
Alia pun kembali menutup laptopnya dan dan tidak jadi melanjutkan pekerjaannya yang tadi. Sekitar 30 menit mereka melakukan rapat di ruangan KRS, dan setelah itu mereka semua menuju ke ruang BEM untuk pembubaran panitia ospek.
Saat masuk ke ruangan itu, terlihat sudah banyak anggota dari organisasi lain yang datang, Alia juga melihat Meisya dan Nafisah yang selalu menatapnya dengan sinis, tapi ada satu orang yang tidak ia lihat.
"Kok tumben Arrafi nggak ada, biasanya kan dia yang paling rajin buat ikut rapat" gumam Alia dalam hati.
Rapat berlangsung sekitar dua jam, dan setelah selesai semua orang pun pergi meninggalkan ruangan, sementara itu Alia memilih untuk kembali ke ruang KRS dan melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.
__ADS_1
Dia duduk di ruangan itu sendirian karena semua teman yang lain sudah pulang. Baru sebentar Alia memulai pekerjaannya, suara adzan ashar mulai berkumandang, Alia pun memutuskan untuk kembali menunda dan melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu.
Setelah selesai sholat, Alia kembali fokus pada laptopnya, dia duduk sendirian di ruangan itu, karena tidak ada siapapun diruang itu, jadi suasananya terasa sangat sepi sekali, namun Alia justru sangat nyaman dengan suasana itu karena ia bisa berkonsentrasi dan tidak ada yang mengganggunya.
"Huh akhirnya selesai juga!" Alia melihat ke arah jam tangannya dan ternyata sudah jam setengah lima sore.
"Ya ampun, ternyata udah sore"
Alia segera membereskan peralatannya dan berniat untuk pulang, tak lama kemudian ponselnya bergetar dan ternyata itu panggilan masuk dari Afi.
"Halo assalamualaikum"
"Walaikumsalam Alia kamu dimana?" suara Afi terdengar sangat panik.
" masih di kampus, kenapa emang?"
"Di kampus? jadi kamu belum ke rumah Azam?"
"Ke rumah Azam? ngapain?" tanya Alia heran.
"Aduh kamu belum tahu kalau bapaknya dia meninggal?"
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, kapan? kok aku nggak tahu? terus kamu udah ke sana?" Alia menjadi sangat panik saat mendengar kabar itu.
Afi mengatakan bahwa semua temannya sudah pergi ke sana dan ikut dalam pemakaman, hanya Alia saja yang tidak terlihat. Afi berpikir bahwa Alia sudah tahu lebih awal jadi dia tidak memberitahunya, namun ternyata saat di pemakaman Afi sama sekali tidak melihat Alia.
"Astaga... kenapa aku bisa nggak tahu, nggak ada yang kasih tahu aku!" gerutu Alia.
"Aku nyari kamu, tapi nggak ketemu, jadi aku pikir kamu udah di sana!" ucap Afi.
Alia pun menutup telfonnya dan segera berjalan keluar dari ruangan, dia berjalan dengan terburu-buru menuju ke parkiran.
"Ya Allah, kenapa bisa tiba-tiba si, padahal kemarin aja aku tahu kalau Abah nya dia itu baru ngisi pengajian di acara kampus" gumam Alia.
Saat sampai di parkiran, Alia langsung mengeluarkan kunci motor dan menyalakan motornya. Baru saja motornya menyala dan ia hendak pergi, namun tiba-tiba saja turun hujan yang sangat lebat dengan petir yang menyambar.
"Yah kok pakai acara hujan segala si!"
__ADS_1
Alia terpaksa mematikan motornya kembali dan menunggu sampai hujan agak reda, ia tidak berani menerjang karena petir yang terus menyambar.