Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Emosi membawa kesialan


__ADS_3

Saat jam istirahat, Alia memilih diam di kelasnya sambil membaca buku.


"Kamu nggak ke kantin Al?" tanya Afi.


"Nggak Fi kebetulan ini hari Kamis jadi aku puasa" jawab Alia.


"Rajin banget si, kamu puasa bukan buat dapetin Aldi kan!?" Afi meledek Alia.


"Apaan si ya nggak lah! aku cuma pengen lulus dengan nilai bagus" jelas Alia.


Mereka berdua asik bicara dan tertawa di kelas, karena hanya ada mereka berdua, jadi bisa bicara apa saja tanpa takut ada orang lain yang mendengar.


Saat mereka berdua sedang asyik bercanda, tiba-tiba Dina dan kedua temannya datang menghampiri mereka.


Braaakkk!!!!


"Bahagia kamu yah di atas penderitaan aku!" ucap Dina sambil menggebrak meja Alia.


"Maksudnya apa nih!" Ucap Afi kesal dan bangun dari duduk nya, sementara Alia masih duduk dengan tenang di kursi nya.


"Minggir! aku nggak ngomong sama kamu!" teriak Dina sambil mendorong Afi.


Braakkkk!!!


Tiba-tiba Alia bangun dan menggebrak mejanya. "Kamu bisa nggak? nggak kasar sama temen aku!" teriak Alia sambil menatap tajam ke arah Dina.


" Oh berani juga kamu yah! eh denger yah kamu itu nggak usah sok kecentilan!" ucap Dina sambil menunjuk ke arah Alia.


"Maksudnya apa!?" tanya Alia.


"Mulai sekarang nggak usah lah kamu deket-deket sama Aldi! nggak pantes tahu!"


Alia hanya terdiam mendengar semua ucapan Dina. Dia terus saja diam karena tidak ingin bertengkar dengan Dina, sampai Dina mengucapkan suatu kata yang membuat Alia benar-benar marah.


"Cukup!" teriak Alia.


"Kenapa? kamu marah? atau jangan-jangan benar kalau keluarga mu itu semuanya pake ilmu hitam yah" ucap Dina dengan santai nya. Sementara Alia menjadi sangat marah mendengar ucapan Dina itu.


"Cukup Dina! kalau kamu mau aman lebih baik kamu diam! atau aku nggak yakin besok kamu masih bisa berangkat sekolah!" tanpa sadar Alia kembali mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal karena sangat kesal.


Kedua teman Dina hanya terdiam, menatap satu sama lain, mereka merasa ada yang aneh dengan ucapan Alia.


"Din udah kita ke kelas aja yuk" ajak salah seorang teman Dina.


"Kamu kenapa? takut sama anak aneh ini? udahlah nggak bakalan kenapa-kenapa kok!" ucap Dina dengan sangat sombong.

__ADS_1


Alia masih diam dan terus menatap wajah Dina dengan sangat kesal.


"Kamu berani menghina keluarga ku! kamu akan tahu akibat nya! dan saat kamu tahu, kamu akan mengingat aku!" ucap Alia dengan nada kesalnya.


"Din lebih baik sekarang kamu pergi!" ucap Afi.


"Dih ni anak emang beneran aneh! ayo kita pergi" ucap Dina sembari mengajak kedua temannya untuk pergi meninggalkan kelas itu.


Alia duduk kembali, dia masih kesal mengingat kata-kata Dina yang menghina keluarga nya.


"Udah Al,, kamu tenang, jangan di pikirin lagi, Dina kalau ngomong kan emang nggak pernah mikir dulu" Afi mencoba menenangkan Alia yang masih sangat kesal.


"Kamu lihat aja Fi, dia bakalan tahu akibatnya!" ucap Alia sambil melihat kearah pintu kelasnya.


Afi hanya terdiam, dia tahu betul apa yang dikatakan oleh sahabat nya itu, dia mencoba diam agar Alia tidak menjadi lebih kesal lagi.


Alia masih saja diam hingga bell pulang sekolah berbunyi, Afi bahkan tidak berani menegurnya.


Tak lama setelah bell pulang sekolah berbunyi, Alia langsung mengemasi barang-barang nya dan berjalan untuk pulang.


"Alia!" teriak Aldi yang sudah menunggu nya di gerbang sekolah.


Alia hanya terdiam bahkan tidak menengok kearah suara itu berasal. Aldi yang melihat itu, merasa heran dengan tingkah Alia.


Afi mencoba menghampiri Aldi, dia menceritakan semuanya kepada Aldi.


"Ya ya. Aku ngerti kok" ucap Aldi.


Alia pun pulang kerumahnya, dia berdiam diri di kamarnya dan masih memikirkan semua kata-kata Dina di sekolah tadi.


" Pokoknya kamu akan tahu apa akibatnya!" ucap Alia pada dirinya sendiri.


Keesokan harinya...


Alia berangkat sekolah seperti biasa, sikapnya pun sudah kembali seperti semula.


"Fi ke kantin yuk!" sembari bangun dari duduknya.


Afi kaget, tak biasa nya Alia mengajak nya ke kantin, biasanya dia lebih senang berdiam di kelasnya saat jam istirahat.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Afi yang heran.


"Menurut kamu? udah ayo aku lapar nih!" Alia berjalan keluar kelas dan menuju ke kantin.


"Eh tunggu aku lah" Afi mengejar Alia yang sudah berjalan meninggalkan nya.

__ADS_1


Di kantin begitu ramai, Alia dan Afi sampai tidak kebagian tempat duduk. Jadi mereka memutuskan untuk membeli makanan ringan dan memakannya di kelas.


Saat mereka berdua berjalan keluar dari kantin, tiba-tiba tidak sengaja mendengar percakapan dari kedua teman Dina.


"Kasian banget ya si Dina"


"Iya, nanti pulangnya kita jenguk dia yah"


"Ya aku setuju"


Alia pun melirik kearah mereka berdua dan mencoba untuk menghampiri nya.


"Dina kenapa!?" tanya Alia penasaran.


"Apa pedulinya!" jawab Yanti dengan sangat cuek.


"Tinggal jawab aja susah amat si!" ucap Afi yang ikut penasaran.


"Dia sakit" jawab Yanti dengan singkat nya.


"Hahaha seorang Dina bisa sakit juga ya? aku pikir bisanya cuma nyakitin orang aja" ucap Afi sambil tertawa lepas.


Alia masih terdiam, sementara kedua teman Dina hendak pergi, namun Alia kembali menghentikan mereka.


"Tunggu!" kata Alia sambil memegang tangan Yanti.


"Apa lagi! kamu seneng kan lihat Dina sakit!?" ucap Yanti sambil menarik tangannya dari genggaman Alia.


"Sakit apa?" tanya Alia lagi.


"Dia keserempet motor, kemarin pas pulang sekolah, dan itu aneh banget, kita nyebrang bertiga, nggak tahu juga kenapa cuma Dina yang kena" jelas Yanti.


"Uhuk uhuk uhuk!! " Afi yang sedang minum langsung keselek mendengar penjelasan dari Yanti, dia teringat dengan kata-kata Alia kemarin.


Kedua teman Dina pun pergi meninggalkan mereka berdua, dan Afi segera menyeret Alia menuju kelasnya.


"Kamu kenapa Fi?" tanya Alia yang masih bingung dengan sikap Afi.


"Kamu tanya kenapa!? kamu nggak ingat kemarin ngomong apa ke Dina!?" ucap Afi sambil berbisik.


"Aku ngomong apa!? astaga!!" Alia memukul kepalanya sendiri. Dia pun masih bingung dengan sikapnya sendiri.


"Tapi kemarin itu aku beneran kesel banget sama Dina! nggak sadar juga kalau sampai ngomong kaya gitu" jelas Alia.


"Gila yah! si Dina itu bener-bener sial tahu nggak! tapi itu memang karena ulahnya sendiri si" ucap Afi yang masih tidak percaya.

__ADS_1


Alia hanya terdiam, dia jadi merasa bersalah karena ucapannya yang kemarin ternyata menjadi kenyataan.


"Udah kamu jangan takut, mulai sekarang kamu cuma harus lebih hati-hati aja supaya nggak mudah emosi" Afi mencoba menenangkan Alia, sementara Alia hanya terdiam dan masih memikirkan soal Dina.


__ADS_2