
"Kamu kenapa diam? bukankah tadi kamu mau cerita sesuatu sama aku?" tanya Aldi yang kembali penasaran dengan apa yang akan di ceritakan Alia.
"Oh itu,,, kurang lebih 1tahun yang lalu...."
'FLASH BACK KE SATU TAHUN YANG LALU'
"Alia nanti malam kita berangkat ke acara itu bareng yah" ucapnya.
Namanya Ardian, usianya 2 tahun lebih tua dariku, waktu itu dia sudah tidak sekolah dan sudah bekerja.
Aku mengenalnya sejak kecil dan cukup dekat dengannya, perasaan ku padanya juga lebih dari sekedar adik kakak.
Sayangnya... karena pergaulannya yang salah, dia jadi suka mabuk-mabukan, ucapannya jadi kasar dan sikapnya pun menjadi mudah marah.
Malam itu, di desa kami mengadakan acara ruwat bumi, tepatnya di balai desa. Ada pertunjukan wayang kulit yang dilakukan di sana.
Sekitar jam sembilan malam aku keluar, ternyata dia sudah menunggu di depan rumah, dan kami berpamitan pada Papa ku untuk pergi. Kedua orang tuaku sudah tahu siapa dia, keluarga kami juga sudah mengenalnya sejak kecil karena kami memang bertetangga, jadi Papa ku tidak masalah jika aku pergi dengannya.
Saat sampai di tempat pertunjukan, ternyata sudah begitu ramai, baik orang yang menonton maupun para pedagang. Musik gamelan pun sudah dimainkan, namun pertunjukan belum di mulai.
Saat kami bertemu teman yang lain, tiba-tiba dia pergi tidak bilang mau kemana. Cukup lama dia pergi, hingga aku mulai merasa bosan.
Jam setengah 12 malam aku memutuskan untuk pulang, karena sudah merasa mengantuk. Dia pun mengantar ku untuk pulang. Kami berjalan kaki menyusuri malam di desa kami yang sangat sepi, karena hampir semua warga berada di balai desa untuk menonton pertunjukan wayang kulit.
"Baru jam segini, udah mau pulang aja si" ucapnya agak kesal denganku.
"Aku ngantuk! lagian kamu juga nyebelin! pergi nggak ngomong, lama lagi!" aku menggerutu karena kesal ketika ia pergi tadi.
"Maaf... tadi aku ketemu sama temenku" dia berkata sambil cengar-cengir dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
Sementara ku tetap diam karena masih kesal kepada nya. Ia terus bicara untuk meminta maaf, tapi aku masih saja diam, dan lama-kelamaan aku merasakan kalau aku mencium bau sesuatu.
"Kamu habis minum yah!?" tanya ku dengan keras.
"Enggak kok" jawab nya dengan nada gugup karena dia tahu aku akan marah jika tahu dia minum-minuman keras.
"Halah bohong! aku nggak percaya sama kamu!" aku mulai kesal dan berjalan dengan cepat, mencoba untuk meninggalkan nya.
__ADS_1
"Alia tunggu! iya iya aku ngaku... tolong maafin aku" ucapnya dengan nada memelas padaku.
Aku hanya terdiam karena masih marah padanya, namun ia terus saja memohon agar aku memaafkan nya. Sampai akhirnya aku tidak tega untuk tidak memaafkan nya.
"Alia... aku pengin ngomong sesuatu sama kamu" dia berkata dengan pelan, karena takut kalau Aku masih marah.
"Tinggal ngomong aja kok" jawabku dengan singkat.
"Kamu mau nggak jadi pacarku?" dia mulai bicara dengan serius.
"Nggak!" aku menjawab dengan tegas.
Dia terdiam, raut wajahnya menunjukkan rasa kecewa, pelan-pelan dia kembali bertanya dengan nada agak gemetar "kenapa?"
"Karena kamu itu tukang mabuk! aku nggak suka!" jawab ku dengan tegas.
"Jadi kalau aku nggak mabuk, kamu mau jadi pacar aku?" dia kembali bertanya namun aku hanya terdiam, tidak bisa memberikan jawaban dari pertanyaan itu, karena sejak lama aku memang sudah menaruh perasaan yang berbeda padanya.
"Aku janji sama kamu, ini terakhir kalinya aku minum, janji deh beneran!" sambil mengangkat tangannya dan mengarahkan jari kelingking ke arah ku.
Aku langsung meraihnya sambil tersenyum "janji yah ini yang terakhir?"
"Ini buat kamu, aku pakaikan yah" sembari memakaikan sebuah kalung monel dengan hiasan magnet berbentuk love.
"Eh ini apa!?" tanya ku yang masih heran dengan sikapnya.
"Ini tanda kalau kamu itu pacar aku!" dia berkata dengan girang nya.
"Emangnya tadi aku udah bilang mau?" tanyaku
"Lah itu tadi kamu bilang" ucapnya sambil mengejek.
Tanpa terasa kami sudah sampai di depan rumah ku, aku masuk ke dalam rumah dan dia berpamitan untuk pergi.
*****
Beberapa hari berlalu, kami jarang bertemu karena dia sibuk bekerja. Suatu hari, aku mendengar dari teman masa kecilku kalau malam itu Ardian dan temannya mabuk-mabukan, aku tentu sangat kesal mendengar hal itu.
__ADS_1
Malam harinya saat ia datang ke rumah, aku diam dan tidak bicara apapun padanya.
"Kamu kenapa? kok diam aja?" dia bertanya dengan penuh kebingungan.
"Nggak usah pura-pura lah! aku tahu kok di belakang aku itu kamu masih suka minum!" ucapku dengan nada kesal.
"Maaf Alia... waktu itu temanku maksa aku..."
"Lah iya! udah tahu temen nggak bener, masih aja temenan sama dia! atau kita putus aja lah!" aku memotong kata-katanya karena merasa sangat kesal.
"Ya jangan lah,, masa kamu mutusin aku cuma gara-gara hal kaya gitu?" ucapnya dengan nada memelas.
Aku tidak menjawab perkataan nya, karena aku masih sangat kesal padanya, sampai-sampai dia memegang tanganku dengan kencangnya.
"Please... maafin aku lahh" dia terus saja memohon.
"Apaan si! sakit tahu!" aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya.
"Kali ini aku janji sama kamu nggak bakal mabuk lagi, beneran deh" dia berkata dengan sangat serius.
"Alah! nggak percaya! waktu itu juga kamu janji, tapi apa buktinya!" aku masih saja mengumpat kesal padanya.
"Aku berani mati! aku janji sama kamu kalau aku minum lagi, aku berani mati kok!" ucapannya mulai ngawur dan asal bicara.
Aku langsung kaget mendengar pernyataan itu, tiba-tiba aku merasa jantung ku berdebar sangat cepat seolah mau copot.
Entah kenapa perasaan ku menjadi tidak enak, hatiku mulai merasa takut, takut akan kehilangan sesuatu.
"Kamu itu kalau ngomong yang bener! dipikirin dulu! jangan asal ngomong!" ucapku dengan nada khawatir.
"Aku udah pikirin, pokoknya aku janji sama kamu, kalau sampai aku mabuk lagi, aku bakalan mati!" dia mengatakan hal itu lagi, hal yang membuat ku merasa sangat takut.
"Udah jangan ngomong lagi! aku akan pegang janji kamu" dan entah kenapa, aku menyetujui janjinya itu.
"Jadi kamu maafin aku kan?"
Aku menjawab pertanyaan itu dengan senyuman, dan kamipun akhirnya berdamai, aku mencoba untuk meredam kemarahan ku padanya, dia juga berusaha untuk menghibur dan membuat ku tersenyum.
__ADS_1
Sampai tak terasa waktu sudah jam 9 malam, aku menyuruhnya untuk pulang, karena hari sudah malam, dan besok aku masih harus sekolah.