
Sore harinya Alia pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat senang, dia tidak berhenti tersenyum sembari terus mengingat kejutan yang di berikan oleh Irfan.
Begitu sampai di rumah ia langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan adiknya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Eh itu kak Alia kenapa yah? pulang-pulang kok senyum-senyum sendiri kaya orang kesambet aja!" ujar Sita yang heran melihat tingkah laku kakaknya.
Alia berdiri di depan cermin yang berada di lemari bajunya, dia mengambil kalung monel yang berada di leher boneka beruang itu dan mencobanya.
"Wah bagus juga ini" gumam Alia sembari melihat bayangan dirinya di cermin.
Cukup lama Alia berdiri di depan cermin, sampai tak terasa suara adzan Maghrib mulai berkumandang, namun ada hal tidak biasa yang mulai di sadari oleh Alia, yaitu dia sama sekali tidak melihat Mama atau Papa nya berada di rumah.
Alia pun segera keluar untuk mengeceknya, namun ia sama sekali tidak melihat Mama dan Papanya, ia hanya melihat Sita yang masih asyik membaca buku di ruang tamu.
"Dek, kamu dengar adzan kan?" tanya Alia.
"Iya dengar" jawab Sita dengan santai.
"Terus kenapa masih duduk? sholat lah!"
"Iya bentar lagi kak, nanggung nih!" Sita masih saja sibuk dengan buku yang ia baca.
Alia berjalan mendekat dengan perlahan, ia langsung mengambil buku itu dari tangan Sita tanpa permisi.
"Kirain lagi belajar, ternyata malah baca novel!" teriak Alia.
"Kakak apaan si, orang lagi asyik juga!"
"Wudhu! ayo kita sholat bareng!"
Sita pun bangun dari tempat duduknya dengan wajah kesal karena sikap kakaknya yang sangat jahil. Dia langsung menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan diikuti oleh Alia.
Setelah itu, sita dan Alia melaksanakan sholat Maghrib berjamaah dengan Alia sebagai imamnya. Begitu mereka selesai sholat, Sita langsung beranjak bangun dan kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan kegiatannya membaca buku yang tadi sedang ia baca.
"Sita..." teriak Alia.
"Kenapa si kak?"
Sita hanya menjawab seperlunya saja, karena sejak kecil dia memang anak yang cuek dan tidak banyak bicara, dia juga agak susah bergaul dengan teman sebayanya karena sikapnya yang sangat cuek, berbeda dengan Alia yang bisa memiliki banyak teman, meskipun dia juga sering menjadi anak yang pendiam.
__ADS_1
"Mama sama Papa kemana?" tanya Alia.
"Oh iya, tadi siang Mama sama Papa pergi ke rumah kak Rio"
"Kok jam segini belum pulang?"
"Menginap"
"Menginap? emang ada acara apa?"
"Nggak tahu, katanya si ada selamatan apa gitu lah lupa"
Alia hanya terdiam, dia bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, meskipun Alia dan Sita memang jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing, namun Alia merupakan sosok kakak yang sangat perhatian kepada adiknya. Alia tahu betul bahwa Sita pasti belum makan, karena Sita tidak bisa memasak jadi dia segera menyiapkan makanan agar bisa makan bersama.
"Sita! ayo makan dulu!"
"Ya kak"
Sita pun segera meletakkan bukunya di atas meja dan menuju ke ruang makan.
Alia dan Sita menikmati makan malam seadanya, setelah itu mereka berdua masuk ke kamar masing-masing untuk melakukan kegiatan seperti biasa. Sehabis makan malam biasanya Sita masuk kamar untuk belajar setelah itu tidur, tidak berbeda jauh dengan Alia, saat malam biasanya Alia mengerjakan tugas kuliahnya lalu tidur, itulah mengapa mereka jarang sekali menghabiskan waktu bersama meskipun hanya sekedar untuk mengobrol.
Di dalam kamarnya, Alia masih saja memeluk boneka Teddy bear hijau itu dengan penuh senyuman sampai tanpa sadar ia tertidur.
"Aduuhhh kakak ini lagi ngapain si! udah malam juga masih aja nyanyi nggak jelas!" gerutu Sita.
Cukup lama Sita berusaha untuk tidur kembali dan mengabaikan suara tembang Jawa itu, namun semakin lama suaranya justru menjadi semakin keras sampai membuat Sita benar-benar tidak bisa tidur.
Sita pun memutuskan untuk bangun dan menghampiri Alia ke kamarnya.
"Astaghfirullah masih jam 2 pagi!"
Sita berjalan menuju ke kamar Alia sambil menggerutu kesal. Begitu sampai di kamar Alia, dia langsung membuka pintu dan terlihat dengan jelas bahwa Alia sedang tidur dengan sangat lelap. Meskipun suara itu sama sekali tidak mirip dengan suara Alia, namun Sita selalu bersikeras bahwa itu adalah Alia yang sedang mengkidung sambil tidur.
"Kak bangun kak!" Sita mencoba membangunkan Alia.
"Apa si dek emang udah pagi yah?"
"Belum, aku nggak bisa tidur!"
"Kenapa?" Alia bangun dan berusaha untuk duduk sambil menyender ke dinding.
"Kakak itu berisik banget! dari tadi nyinden terus!"
__ADS_1
"Nyinden?"
Alia bingung dengan ucapan Sita, akhirnya Sita pun menjelaskan bahwa sejak tadi Alia mengkidung, namun kidung yang dinyanyikan malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Sejak beberapa hari terakhir Sita memang sudah mendengar Alia mengkidung saat tidur, tapi kidung yang kemarin-kemarin itu sepertinya lagu yang sedih, seperti seseorang yang sedang meluapkan emosi dan rasa kesalnya lewat tembang Jawa, kidung sedih itu di dengar oleh Sita saat Alia terlihat sedih karena Irfan mengalami kecelakaan.
Namun kidung yang sejak tadi ia dengar sampai membuatnya tidak bisa tidur itu sepertinya lagu yang mengungkapkan sebuah kebahagiaan.
"Kamu itu telinganya awas banget deh! dari tadi kan kakak tidur, emang tadi kamu nggak lihat?" ucap Alia sembari tertawa.
"Kakak tuh ya! masih aja nggak ngerasa!" Sita tetap saja bersikeras bahwa itu adalah suara nyanyian Alia, karena ia hanya mendengar suara itu dari dalam kamar kakaknya itu.
"Hehe maaf deh, kakak emang nggak ngerasa, tapi emang si hari ini kakak lagi senang" ucap Alia.
"Tuh kan bener! setiap kidung yang dinyanyikan itu seperti menggambarkan suasana hati!" ujar Sita.
Alia menceritakan semua kebahagiaan yang ia alami hari ini kepada Sita, cerita itupun membuat keduanya menjadi tidak lagi mengantuk.
"Oh iya kak, kampus kakak itu gimana?" tiba-tiba saja Sita menjadi antusias.
"Gimana apanya?" tanya Alia heran.
"Ya maksudnya gedungnya gimana, fakultasnya apa aja, terus fasilitas lengkap nggak?"
"Kamu ngapain tiba-tiba kok nanya kaya gitu?"
"Aduh kakak, dua bulan lagi kan aku ujian, dan habis ujian pasti lulusan dong"
"Oh jadi kamu mau lanjut di kampus kakak?"
"Yah tergantung"
"Tergantung apa?"
"Kalau sesuai sama ekspektasi"
"Hu dasar kamu! emang kamu mau ambil jurusan apa?" tanya Alia.
"Aku pengen ekonomi kak"
"Hahahaha kamu itu aneh yah! jurusan kamu sekarang kan IPA, masa mau lanjutin ekonomi, nggak nyambung tahu!"
"Ih kok sirik si! biarin aja kali!"
__ADS_1
Alia dan Sita begitu asyik mengobrol sampai tidak mengantuk sama sekali, sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka berbagi cerita sebagai sesama perempuan. Mereka berdua menghabiskan sisa malam itu untuk berbincang-bincang sampai adzan subuh berkumandang.