Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Salah paham


__ADS_3

Alia berjalan menuju kelas dan tidak sengaja berpapasan dengan Nafisah di jalan. Seperti biasanya, Nafisah masih saja menatap Alia dengan tatapan kebencian.


"Duh kenapa harus ketemu dia sih"


Alia bergumam dalam hati, dia mencoba untuk menghindari Nafisah karena tidak ingin terlibat pertikaian lagi, namun Nafisah malah terlihat mendekat ke arah Alia dan dia pun tidak bisa lagi menghindar.


"Duh gimana ini, dia ke sini lagi, males banget kalau harus debat sama dia" Alia masih berucap dalam hati.


Nafisah menjadi semakin dekat dan masih menatap Alia dengan tajam. Ia kemudian menyodorkan sebuah amplop putih kepada Alia.


"Apa ini?" tanya Alia.


"Baca lah!"


Nafisah lalu pergi tanpa berkata-kata lagi. Alia penasaran dengan amplop itu dan langsung membukanya. Ternyata isinya adalah surat undangan untuk datang ke sebuah organisasi keagamaan yang beranggotakan semua alumni dari MA Ma'arif yang kuliah di kampus itu.


"Duh harus banget nih aku datang? tapi kalau ngga datang nggak enak juga si sama senior, apalagi ini ikatan para alumni MA"


Alia tiba-tiba teringat perkataan Irfan mengenai orang yang berusaha menutupi aura Alia. Dia sempat berpikir bahwa itu adalah Nafisah, namun setelah tadi bertemu Alia tidak merasakan ada yang aneh dengan Nafisah, dan Alia juga merasa bahwa Nafisah sepertinya sangat tidak ingin berurusan dengannya.


"Jadi apa mungkin orang itu adalah Arrafi? tapi apa tujuannya? aku beneran harus tanya langsung sama dia!"


Alia berjalan sambil terus memikirkan hal yang mengganggu pikirannya sampai tanpa sengaja dia bertabrakan dengan teman sekelasnya di depan pintu kelas.


"Woy jalan lihat-lihat dong! buta apa!"


Orang itu berteriak keras sampai semua orang yang berada di dalam kelas melihat ke arah mereka.


"Ma maaf aku nggak sengaja"


"Nggak sengaja kamu bilang!"


Alia sudah berusaha untuk minta maaf, namun tampaknya dia masih marah dan langsung pergi meninggalkan Alia yang masih berdiri di depan pintu.


Namanya Meisya Kurnia, dia adalah alumni dari SMA negeri favorit di kotanya, sikapnya memang agak keras dan juga kasar, dia sangat menonjol di antara mahasiswa lainnya sejak awal masuk, dan sekarang dia menjadi teman sekelas Alia yaitu mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa Inggris.


"Hey udahlah jangan bengong di situ, ayo cepat masuk sebentar lagi dosen datang"


Salah seorang teman sekelas Alia berusaha untuk menenangkannya dengan pelan.


"Sudah jangan dimasukkan ke hati, dia memang sikapnya begitu dari dulu"


"Kamu udah kenal dia dari dulu?" tanya Alia.

__ADS_1


"Ya, aku satu sekolah sama dia waktu SMA, bahkan satu kelas"


Alia mencoba untuk tidak menghiraukan sikap kasar Meisya tadi, ia hanya fokus untuk mengikuti kelas terakhir dan setelah itu ia harus benar-benar mencari kebenaran tentang orang yang sudah menutupi auranya itu.


**********


akhirnya kelas pun selesai, waktu yang sudah ditunggu-tunggu Alia sejak tadi. Alia keluar dari kelasnya dan mencoba untuk mencari Azam.


"Aduh ini gedung fakultas keagamaan di mana si? jauh banget kayaknya!"


Setelah cukup lama berkeliling akhirnya Alia pun menemukan Azam yang sedang berjalan menuju ke mushola.


"Hey Arrafi!"


Alia berteriak sembari menghampiri Azam yang sudah berdiri di depan mushola.


"Ragasy? kamu ngapain? mau ke mushola? emang di gedung fakultas kamu ngga ada musholanya?"


Azam heran melihat Alia yang datang menghampirinya jauh-jauh ke gedung kampus yang ada di bagian paling belakang.


"Aku mau nanya sama kamu penting!"


"Hal penting apa sampai kamu datang ke sini?"


Azam sangat terkejut saat Alia menanyakan hal itu, dia menjadi salah tingkah dan bahkan salah bicara, itu juga membuat Alia semakin yakin bahwa Azam lah orang yang sengaja menutupi auranya.


"Kamu ngga usah ngelak lagi! aku tahu rasa sakit itu dari mana!"


"Maksudnya apa?"


Alia mulai emosi, wajahnya sudah menunjukkan bahwa dia sedang kesal dan ingin segera mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari Azam.


"Kamu kan yang sengaja menutupi aura aku? mengelabuhi mata batin semua orang agar mereka tidak bisa melihat kalau sakitnya aku kemarin itu sebenarnya karena di ganggu mahluk pohon itu?"


"Ya itu aku!"


Azam menjawabnya tanpa ragu sedikitpun, namun Alia malah menjadi semakin marah dan tangannya pun menjadi refleks sehingga ia menampar wajah Azam.


"Gila yah! aku ngga nyangka kamu sejahat itu! kalau kemarin aku sampai mati di cekik sama mahluk itu dan ngga ada yang tahu gimana? gara-gara kamu mereka semua mungkin mengira kalau aku hanya pura-pura sakit!"


"Tapi..."


Azam mencoba untuk menjelaskan namun Alia langsung pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan apapun lagi.

__ADS_1


Tanpa sengaja Nafisah melihat Alia dan Azam saat sedang berbicara, dan dia juga melihat saat Alia menampar Azam. Hal itu juga membuatnya marah kepada Alia karena Azam masihlah orang yang sangat di sukai oleh Nafisah.


Nafisah menghampiri Azam yang berusaha untuk mengejar Alia.


"Mau sampai kapan?"


"Kamu kapan datang?" tanya Azam kaget.


"Kamu jangan bodoh Azam, itu tidak akan berguna!"


Azam hanya diam dan tidak bisa berkata-kata. Nafisah kembali mengingatkan Azam untuk tidak membuang-buang tenaganya hanya untuk melindungi orang yang bahkan tidak mau melihatnya.


"Maaf itu urusan saya, saya permisi dulu Mba Nafis."


**********


Alia berjalan pergi dengan perasaan yang campur aduk, hatinya sangat marah ketika orang yang mulai ia hormati malah membuatnya kecewa.


"Alia!"


Afi berteriak saat melihat Alia berjalan sendirian dengan terburu-buru.


"Kamu dari mana? eh kamu nangis?"


Afi menghampiri Alia dan tanpa sengaja melihat air matanya menetes. Afi mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu dan mengajaknya untuk pergi ke kantin agar mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Jadi kamu kenapa?"


"Gila yah! padahal aku udah mulai respect sama dia, dan menganggap dia teman, tapi aku beneran ngga nyangka dia mau aku berakhir karena mahluk pohon itu!"


"Siapa?" tanya Afi penasaran.


"Dia yang katanya orang Sholeh, anaknya ulama besar, dan nggak pernah sentuhan tangan sama lawan jenis, tapi sama aku pernah!"


Afi justru bingung harus bereaksi bagaimana, dia sedih melihat sahabatnya menangis, namun dia juga ingin tertawa melihat cara Alia mendeskripsikan orang yang membuatnya menangis itu.


"Azam maksudnya?"


Alia hanya mengangguk, Afi cukup terkejut saat mendengar pernyataan Alia tentang Azam, dia berpikir kalau sebenarnya maksud dari Azam bukanlah untuk mencelakai Alia, terutama saat Afi melihat sorot mata Azam yang menatap benci ke arah Alia saat sedang kesakitan. Tatapan itu seperti bukan ditujukan kepada Alia, melainkan kepada sesuatu yang ada bersama Alia.


Tapi Afi juga tidak bisa langsung mengucapkan pendapatnya sekarang, karena ia sudah paham betul dengan sifat Alia, jadi dia memilih untuk diam sementara sampai suasana hatinya tenang.


Tak lama kemudian Alia mengajak Afi untuk segera pulang karena sudah tidak ada kelas lagi.

__ADS_1


__ADS_2