Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Sebuah penglihatan


__ADS_3

Alia masih duduk terdiam di tangga dekat ruang guru. Mayra yang sedari tadi sibuk mencari Alia pun akhirnya bisa menemukan nya.



"Aku cari kamu kemana\-mana, ternyata disini!"


Mayra menghampiri Alia dengan perasaan kesal, dia langsung menarik tangan Alia dan mengajaknya pulang. Tanpa berkata-kata Alia langsung bergegas pulang, di sepanjang jalan ia juga masih diam dan tidak menghiraukan Mayra yang terus saja mengoceh.


Setelah sampai dirumah Alia langsung masuk ke kamar dan beristirahat, dia merasa sangat lelah karena seharian bekerja, dan malamnya juga tidur sangat larut.


Tanpa terasa Alia tidur cukup lama dan ia terbangun saat adzan Maghrib berkumandang. Ia bergegas untuk mandi dan berwudhu, lalu menjalankan sholat Maghrib.


Setelah selesai Alia membuka buku dan belajar sebentar, lalu ia teringat dengan cincinnya. Alia mengeluarkan cincin itu dan memegangnya dengan tangan kanan.


Alia kembali menatap cincin itu dalam-dalam dan lama-kelamaan tangannya mulai terasa panas. Alia langsung meletakkan cincin itu diatas meja belajarnya.


"Apa sebenarnya maksud dia?"


Alia masih saja memandangi cincin itu, lalu perlahan muncul cahaya hitam dan mengelilingi cincin. Melihat itu entah kenapa Alia menjadi sangat mengantuk. Alia pun tertidur dan terbangun saat pagi.


_____------______


Seperti biasa, pagi-pagi sekali Alia sudah berangkat ke sekolah, ia juga tak lupa mampir ke rumah Mayra dan berangkat bersama.


Begitu sampai di sekolah ia langsung menghampiri Nida dan memeluknya, entah kenapa ia merasa sangat khawatir pada Nida.


"Kamu kenapa si? ngga biasanya"


Nida merasa heran melihat sikap Alia, dia juga bertanya apa alasan Alia yang tiba-tiba memeluknya.


"Maaf ya Nida"



"Maaf kenapa?"


Nida menjadi semakin pemasaran ketika melihat Alia yang hanya mengucapkan kata maaf.


"Bukannya aku mendahului, tapi aku lihat kalau besok kamu bakalan sakit"


Alia berucap dengan rasa ragu, ia takut jika Nida tidak percaya dengan ucapannya, terlebih lagi jika Nida menuduh nya mendoakan hal yang tidak baik.


"Kamu serius?"


Nida bertanya untuk menegaskan apa yang dikatakan Alia tadi, dan Alia hanya terdiam karena takut Nida akan marah padanya.


"Kalau memang aku sakit atau sehat, itu semua sudah kehendak Allah kan? kita sebagai manusia hanya bisa menerima, tidak bisa menolak kan?"



"Kamu ngga marah?"



"Buat apa aku marah? yang terpenting kamu ngga lagi mendoakan aku buat sakit kan"



"Tentu saja enggak, aku hanya melihatnya, tapi semoga saja hal itu tidak benar, kamu jangan pedulikan ucapanku yang tadi yah"

__ADS_1


Hari itu di sekolah Alia menjalani pelajaran nya seperti biasa. Dan saat waktu istirahat siang, untuk pertama kali setelah kejadian itu Alia memasuki pesantren lagi. Dia mencoba untuk main ke kamar Nida.


"Kak Alia!"


Tiba-tiba terdengar suara santri putri yang langsung menghampirinya saat Alia baru sampai di depan pintu kamar Nida.


"Eh maaf siapa yah?"


Alia merasa heran karena dirinya ternyata tidak mengenali anak itu, tapi dia terlihat sangat mengenal Alia.


"Aku Dista ka, anak kelas X, aku ngefans banget loh sama kaka!"


Ucapan itu terdengar sangat manja, dan juga ceria, Dista adalah siswa kelas X dan tinggal di pesantren sudah cukup lama. Sejak ia sekolah di Mts dia sudah tinggal di pesantren. Dista sangat mengagumi Alia, namun ia begitu malu untuk menemui Alia, hingga saat ini ia memberanikan diri untuk bicara dengan Alia.


"Ka aku boleh minta tanda tangan?"



"Eh emangnya aku artis apa?"



"Ngga papa, buat simpenan aja"


Dista terus menyodorkan sebuah buku catatan kecil dan sebuah pulpen dengan hiasan kupu-kupu yang menggantung di bagian tutupnya.


Alia akhirnya menerima buku catatan itu dan memberikan tanda tangan serta beberapa informasi tentang dirinya.


"Kamu ikut PMR?"


Alia bertanya sambil memegang pulpen dan buku catatan milik Dista. Dista hanya menggelengkan kepalanya, karena dia tidak mengikuti eskul yang diketuai oleh Alia.



"Kenapa malu? kebetulan besok ada jadwal, besok kamu datang keruang PMR yah, nanti aku daftarkan"



"Beneran ka?"


Alia mengangguk sambil tersenyum, dan Dista pun kegirangan melihat itu, dia lalu berpamitan untuk kembali ke kamarnya dan Alia langsung masuk ke kamar Nida.


Di kamar itu tidak ada seorangpun karena semua yang tinggal di kamar itu sedang berada di dapur untuk membagikan jatah makan siang.


Alia meletakkan tasnya dan membuka kerudung. Dia lalu membaringkan tubuhnya di atas lantai tanpa beralaskan apapun.


"Haaahhh ubin ini terasa dingin sekali"


Alia berbaring terlentang dan menatap ke arah langit-langit. Ia menghembuskan nafas panjang dan mencoba menghilangkan penatnya. Alia mencoba menutup matanya dan berniat untuk tidur sebentar.


"Alia!"


Alia langsung membuka mata karena kaget mendengar panggilan itu. Tiba-tiba Zizi masuk ke dalam kamar dan langsung duduk di samping Alia.


"Apaan si mba? bikin kaget aja?"



"Hehe ini kan pertama kali kamu ke pesantren setelah kejadian itu, kenapa?"

__ADS_1



"Ngantuk! tadi udah merem eh malah ke bangun!"


Alia bicara dengan nada sewot namun Zizi hanya tersenyum.


"Kamu udah makan? ke kamarku yuk aku ada makanan"


Zizi memegang tangan Alia dan Alia pun bangun saat tangan Zizi menarik tangannya. Zizi berniat untuk mengajak Alia pergi ke kamarnya.


"Eh mba mama kamu lagi sakit?"


Tiba-tiba Alia asal bicara begitu Zizi memegang tangannya. Zizi hanya tersenyum melihat Alia karena dia sudah paham dengan kemampuan itu.


"Iya, tapi Alhamdulillah udah baikan kok"



"Oh ya syukur deh"



"Oh ya kamu tu ada hubungan apa sama Irfan!?"



"Irfan? dia bikin ulah lagi?"


Alia mulai merasa malu dan Zizi hanya tersenyum melihatnya, karena Alia diam-diam memang menyukai Irfan jadi dia menjadi malu ketika Zizi menanyakan hal itu.


"Mba, kamu harus hati\-hati!"


Alia tiba-tiba mengalihkan pembicaraan nya karena ingin mengatakan sesuatu yang ia lihat sebelumnya.


"Kenapa?"



"Aku lihat kalau besok salah satu dari santri yang tinggal di kamar kamu itu bakalan ada yang jatuh dari tangga"



"Eh serius kamu?"


Alia mengangguk, ia kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata.


"Aku ngga tau kenapa, tapi hari ini, aku beneran lihat banyak hal, tadinya aku ngga paham kenapa aku lihat itu, tapi dulu aku udah pernah ngalamin, dan hal yang aku lihat sebelumnya itu beneran kejadian"



"Iya aku percaya kok sama kamu, ya udah kalau gitu aku balik ke kamar dulu yah"


Zizi pun pergi meninggalkan Alia sendirian di kamar Nida, tak lama adzan dzuhur berkumandang, Alia kembali membuka matanya dan bergegas untuk mengambil air wudhu.


Setelah selesai sholat berjamaah, Alia kembali ke kamar Nida, dan disana Nida sedang menjalankan sholat dzuhur sendirian di kamar. Para santri pengurus bagian dapur memang sering tertinggal sholat berjamaah di waktu dzuhur, karena mereka harus menyiapkan makan siang untuk para santri.


Alia duduk beristirahat sembari menunggu Nida selesai sholat.


Setelah Nida selesai, ia lalu mengajak Alia untuk makan siang lalu bersiap untuk kembali ke sekolah.

__ADS_1


__ADS_2