
Teeeeeeeetttttttt....... Bell masuk kelas berbunyi, tanpa berkata\-kata Alia langsung meninggalkan Zizi dan Mita, ia bergegas untuk kembali ke kelasnya. Di jalan ia berpapasan dengan Azam, karena sangat penasaran maka Alia memberanikan diri untuk menyapanya.
"Arrafi!" Alia memanggil dengan sedikit ragu.
"Eh Ragasy? ada apa?"
Seperti biasa, Azam menjawab dengan tersenyum dan nada yang sangat ramah.
"Nanti setelah rapat aku ingin bicara"
Alia bicara dengan sangat singkat lalu pergi meninggalkan Azam dengan ekspresi yang sangat dingin. Sementara itu Azam hanya tersenyum dan melanjutkan jalannya menuju ke kelas.
Alia duduk di bangkunya dan tak lama kemudian guru datang untuk memulai pelajaran, namun Alia masih terlihat tidak fokus karena masih memikirkan hal lain. Pelajaran itu menjadi terasa sangat lama karena ia sudah tidak sabar ingin mengajukan banyak pertanyaan kepada Azam untuk membuang rasa penasarannya.
Setelah menunggu lama akhirnya bell pulang sekolahpun berbunyi, semua siswa membereskan buku masing\-masing dan bergegas untuk pulang.
"Alia aku pulang dulu ya"
Ucap Nida sembari meninggalkan Alia.
"Iya hati\-hati"
Alia pun bergegas menuju keruang rapat bersama dengan Mayra, di jalan ia berpapasan dengan Nafisah.
"Alia aku ingin bicara denganmu!"
Ucap Nafisah dengan tatapan yang masih sangat dingin seperti sebelumnya. Nafisah juga melihat ke arah Mayra seakan memberitahu bahwa ia hanya ingin bicara dengan Alia saja. Mayra pun berpamitan untuk berjalan duluan dan membiarkan Alia dan Nafisah bicara berdua saja.
"Apa yang ingin dibicarakan?" tanya Alia.
"Jauhi Azam!"
"Apa maksudnya! memangnya aku sedang mengejarnya! tidak sama sekali!"
Alia merasa kesal mendengar perkataan Nafisah, dia merasa seolah-olah Nafisah sedang menyalahkan nya karena mendekati Azam.
"Sudah dua kali kau membuatnya terluka! apa itu belum cukup? apa kau ingin membuat dia menderita?"
Nafisah bicara sambil menggenggam tangan kiri Alia dengan sangat kencang karena dirinya merasa sangat kesal. Alia pun balik menggenggam pergelangan tangan Nafisah, mereka saling menggenggam dengan sangat kuat. Nafisah memegangi pergelangan tangan kiri Alia, sementara Alia memegangi pergelangan tangan kanan Nafisah.
"Ah! "
Tiba-tiba Nafisah terdorong menjauh dari Alia, dia memegang pergelangan tangan kanannya yang memerah dan mulai melepuh. Sementara Alia masih terdiam dengan tatapan kemarahan nya kepada Nafisah.
Nafisah pun pergi meninggalkan Alia tanpa berkata-kata, dia terus memegangi tangannya yang kesakitan.
__ADS_1
Alia masih berdiri di tempat yang sama dan masih menatap Nafisah yang mulai menjauh, rasa marah itu belum juga hilang dari dirinya.
"Hey kendalikan dirimu! jangan sampai orang lain melihatnya!"
Seseorang tiba-tiba datang dan menepuk pundak Alia dari belakang. Alia pun berbalik badan dan melihat orang itu. Seketika rasa marah Alia seolah luntur saat melihatnya, orang itu ternyata adalah Irfan.
"Eh ka Irfan"
Alia bicara sambil tersenyum ramah dan berusaha menyembunyikan tangannya yang juga membiru.
"Jangan ladeni dia, percuma! hanya membuang tenaga!"
"Oh hehe tadi itu..."
"Sudahlah jaga dirimu, jangan sampai tak terkendali"
Belum selesai bicara, ucapan Alia sudah dipotong oleh Irfan, dia tersenyum lalu pergi meninggalkan Alia, sementara itu Alia masih terus senyam-senyum sendiri.
"*Dia perhatian padaku? duh senangnya*..." Alia bicara dalam hati sambil terus tersenyum.
"Aw! kok sakit si!"
Tiba-tiba Alia merasa kaget karena tangannya merasa sakit. Saat ia lihat pergelangan tangan kirinya ternyata membiru dan terasa sangat dingin.
"Duh kok bisa biru gini yah? apa jangan\-jangan ini gara\-gara Nafisah itu? duh sakit lagi!"
Alia melanjutkan perjalanannya menuju ruang rapat, saat Alia sampai, hampir semua anggota sudah sampai dan Alia yang terakhir. Alia melirik ke arah Nafisah dan melihat tangan kanannya yang melepuh.
Alia berguman dalam hati sambil berusaha menyembunyikan tangan kirinya agar tidak terlihat oleh orang lain.
"Alia! bagaimana dengan rancangan keuangan?"
Amar tiba-tiba mengagetkan Alia yang masih fokus melihat Nafisah.
"Ah iya aku sudah selesaikan"
Alia membawa berkas yang sudah ia kerjakan semalam dan memberikannya kepada Amar untuk di periksa. Dari kejauhan Azam memperhatikan tangan Alia yang membiru dan terlihat kaku, dia terlihat begitu khawatir dengan Alia.
"Jadi hari ini adalah rapat terakhir, setelah itu kita akan bertemu lagi hari Kamis sore untuk memulai persiapan acara"
Amar mengakhiri rapat dan semua anggota bergegas untuk pulang. Alia menyuruh Mayra untuk menunggunya di parkiran dengan alasan ingin ke toilet sebentar. Alia berjalan dengan pelan dan melihat Nafisah yang berjalan dengan cepat karena ingin cepat jauh dari Alia.
"Ragasy!"
Azam memanggil alia dengan suara pelan namun Alia terus berjalan dan berpura-pura tidak mendengar apapun. Dia menjadi tidak ingin bicara dengan Azam karena mengingat ucapan Nafisah yang tadi.
"Tunggu! bukannya tadi kau bilang ingin bicara?"
"Lupakan saja! aku sudah tidak ingin!"
Alia terus berjalan tanpa menghiraukan Azam yang berjalan di belakangnya. Namun Azam terus berusaha agar dapat bicara dengan Alia. Dia terus membujuk Alia sampai akhirnya Alia mau berhenti dan mendengarkan ucapannya.
__ADS_1
"Tanganmu itu kenapa? boleh aku lihat?"
Azam masih memperhatikan tangan kiri Alia yang membiru dan terlihat kaku, ia penasaran apa penyebabnya.
"Ah itu tidak penting!"
"Tenanglah, aku tidak akan menyentuhnya"
Azam terus membujuk Alia agar bisa melihat luka ditangannya, sampai akhirnya Alia bersedia. Alia menunjukkan pergelangan tangan kirinya yang membiru dan sangat kaku.
"Luka ini, apakah dari mba Nafis?"
Azam melihat luka ditangan Alia dengan teliti dan dapat menyimpulkan sesuatu. Dia bertanya kepada Alia untuk memastikan, namun Alia hanya terdiam dengan wajah yang terlihat kesal ketika mendengar nama yang di sebutkan Azam.
Azam mencoba meletakkan tangan kanannya di atas tangan Alia yang terluka, dia berusaha mengusapnya namun tidak sampai menyentuhnya. Dia juga membacakan beberapa doa untuk mengurangi rasa sakit dan juga kaku.
"*Dinginnya agak berkurang, rasa kakunya juga mulai menghilang*" Alia berucap dalam hati dan merasa heran.
"Bagaimana?"
Tanya Azam sambil menjauhkan tangannya dari tangan Alia.
"Lebih baik" Alia menjawab dengan singkat.
"Syukurlah"
Azam tersenyum dan merasa lega.
"Tanganmu itu bagaimana?"
Alia akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan hal yang sejak pagi ingin dia tanyakan.
"Ini tidak papa, hanya gejala kusta saja"
Azam mencoba menyembunyikan tangannya karena tidak ingin Alia terus melihatnya.
"Huh dasar pembohong! kali ini luka itu tidak akan sembuh dengan mudah! minyak yang di berikan oleh Nafisah juga tidak akan berguna. Menjelang Maghrib itu akan terasa panas, dan terjadi selama 3hari. Saat rasa panas itu datang, rendam tanganmu dengan air garam dan bacakan Al-fatihah 7kali" Alia bicara dengan cepat dan tanpa berpikir, seolah bukan dia yang sedang bicara.
"Terimakasih sarannya, nanti saya lakukan"
Azam menjawab sambil tersenyum dan dengan nada yang sangat lembut.
"*Eh kenapa aku jadi bicara ngawur ya? kok kaya ada yang ngendaliin ucapan aku si*?" Alia bergumam dan heran dengan ucapannya sendiri.
"Eh tadi itu cuma ngarang aja, jangan terlalu di pedulikan!"
Alia mulai terlihat gugup karena takut salah bicara. Dia langsung pergi meninggalkan Azam tanpa berkata apapun lagi.
Sementara itu Azam hanya tersenyum dan melihat Alia yang mulai berjalan menjauh.
__ADS_1
"*Akhirnya dia mulai bisa menyeimbangkan*"