Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Kekecewaan


__ADS_3

 


Alia sampai di rumah dengan wajah pucat dan tubuh yang sangat lemas. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan tidak memberikan jawaban apapun kepada Mama nya yang bertanya heran saat melihatnya pulang di jam yang masih sangat pagi.


 


Dia berbaring di atas kasur dengan memasang headset di kedua telinganya lalu memutar lagu-lagu favoritnya.


Meskipun sebenarnya dia tidak mendengar jelas lagu-lagu itu karena pikirannya masih teringat akan perkataan Meisya tadi.


Tanpa terasa Alia mulai terlelap sampai sore, tidak ada yang membangunkannya saat siang karena Mama nya pergi ke perkumpulan ibu-ibu PKK dan baru pulang saat sore hari.


Ibu Mia menengok ke dalam kamar anaknya dan mendapati Alia terpejam dengan headset yang masih terpasang di telinganya.


"Masyaallah nak... tidur sambil pakai beginian itu nggak baik!" ujar Bu Mia sembari melepaskan headset itu lalu membangunkan Alia.


"Sudah sore ayo bangun! mandi dulu lalu makan!" ucap bu Mia.


"Ya Mah" Alia pun bangun dan melihat jam tangannya, ia terkejut karena ternyata hari sudah sore.


"astaghfirullah... aku tidur seharian dari pagi?" gumam Alia dalam hati.


Alia pun beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas untuk mandi lalu makan.


Setelah selesai makan ia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengurung diri lagi.


_____------______


Malam harinya sekitar jam 8 malam Alia pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi hitam. Sita tanpa sengaja melihat Alia yang sedang membuat kopi dan terheran-heran melihatnya.


"Kamu kenapa dek? kok lihat kakak gitu?" tanya Alia.


"Kakak serius mau minum itu?" Sita balik bertanya dan menunjuk ke secangkir kopi yang sedang di pegang oleh Alia.


"Kenapa emang? ada yang aneh?" Alia melihat ke secangkir kopi itu.


"Kak. Kakak serius minum kopi hitam kental kaya gitu, nggak pakai gula sedikitpun lagi, kakak lagi kekurangan sajen yah?" ujar Sita.

__ADS_1


"Apaan si kamu dek! ya nggak lah! kakak minum kopi itu biar nggak ngantuk karena mau lembur kerjain tugas!"


Alia pun segera pergi meninggalkan Sita dan menuju ke dalam kamarnya sambil membawa secangkir kopi hitam yang sudah ia buat.


"Kakak mulai lagi deh anehnya!" gumam Sita dalam hati.


Alia duduk di lantai dan mulai membuka laptopnya meskipun hanya menyalakan saja. Perlahan ia mulai menyeruput kopi panas tadi sebelum menjadi dingin. Meskipun kopi itu tidak menggunakan gula, namun Alia sungguh sangat menikmatinya tanpa merasakan pahit sedikitpun. Ini kali pertamanya Alia meminum kopi hitam tanpa gula karena dirinya sedang ingin mencoba hal baru untuk bisa melupakan masalahnya sejenak.


"Uhuk uhuk!!"


Saat sedang menikmati kopi panas itu tiba-tiba Alia terkejut dan tersedak karena melihat sesosok makhluk tinggi besar yang berdiri di hadapannya. Mahluk itu menggunakan jubah berwarna putih dengan memancarkan cahaya yang begitu terang sampai membuat matanya silau.


Alia masih melongo saat melihat mahluk itu terus berdiri di hadapannya, dia bertanya-tanya dalam hati, siapakah makhluk itu, dan apa tujuannya, karena baru kali ini dia melihat sosok berjubah yang menggunakan warna putih, biasanya dia selalu melihat sosok berjubah hitam dengan aura mencekam dan juga rupa yang mengerikan.


"Mahluk apa itu? aku baru pernah lihat yang seperti itu!" gumam Alia.


*****


Pagi harinya pagi-pagi sekali Sita sudah ada di dalam kamar Alia dan segera membangunkannya.


"Kak bangun udah subuh!" teriak Sita.


"Ini tu udah subuh! lagian semalaman kakak nembang terus si, makanya sekarang ngantuk" ujar Alia.


"Nembang?" Alia kembali heran.


"Oh iya kak, semalam kakak nyanyinya dalem banget deh, kaya sambil nangis gitu, aku sampai merinding. Kakak lagi ada masalah yah?" tanya Sita.


Alia hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Sita, dia memang sedang ada masalah tapi ia selalu tidak sadar jika dirinya suka mengkidung saat sedang tidur.


Alia mencoba mengingat kejadian semalam tentang mahluk yang mendatanginya, setelah itu ia benar-benar tidak mengingat apapun lagi, dia bahkan masih bertanya-tanya kenapa bis ada mahluk seperti itu di dalam kamarnya.


*****


Beberapa hari berlalu, meskipun luka di hatinya belum sembuh betul namun dia tetap berusaha menjalani hari-hari seperti biasanya.


Tak lama kemudian gosip tentang kehamilan Meisya pun mulai menyebar hingga akhirnya dia di DO dari kampus karena telah melakukan kesalahan yang sangat besar, terlebih lagi universitas tempatnya kuliah masih berbasis agama, jadi pihak kampus benar-benar tidak bisa mentolerir kesalahan itu, sementara Irfan karena ia sudah lulus maka ia tetap aman.

__ADS_1


"Al aku nggak nyangka ternyata Meisya bisa seperti itu!" ujar Sandra.


"Udahlah San, nggak usah ngomongin kejelekan orang lain lagi, mendingan sekarang kita fokus kuliah aja, karena kita kan udah masuk semester akhir" jelas Alia.


"Iya, kamu benar juga Al" Sandra berkata sambil tersenyum pada Alia.


"Aku pikir kehamilan itu cuma akal-akalan Meisya saja, tapi ternyata... itu semua benar adanya. Aku benar-benar nggak nyangka, sudah 3 kurang lebih tahun, dan ternyata 3 tahun itu benar-benar tidak berarti apa-apa! itu benar-benar tersingkir oleh hubungan yang baru berlangsung selama 6 bulan?" ucap Alia dalam hati.


Begitu selesai kelas Alia langsung menuju ke kantin, dia memesan segelas kopi hitam tanpa gula sama seperti yang ia minum beberapa hari belakangan.


"Alia!"


Afi yang baru datang langsung menghampiri Alia begitu melihat sahabatnya itu sedang duduk sendirian di kantin. Dia sempat heran saat melihat Alia memesan segelas kopi hitam, karena biasanya kopi kesukaannya adalah kopi mix, namun Afi sama sekali tidak berani berkomentar karena tahu keadaan hatinya masih belum stabil.


"Astaghfirullah!"


Alia menyeruput kopi itu selagi panas, namun lagi-lagi ia melihat sosok mahluk berjubah putih yang berdiri dan terlihat sedang mengawasi dirinya dari kejauhan. Sejak beberapa hari terakhir Alia selalu melihat sosok mahluk berjubah putih itu mengawasinya dan berada di dekatnya. Entah dari mana asalnya, dan entah apa tujuannya, namun Alia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Selama mereka bisa berteman, maka itu baik. Terkadang Alia juga mengajak ngobrol sosok mahluk berjubah putih itu, meskipun tidak pernah ada respon apapun.


"Kenapa Al? rasa kopinya aneh?" tanya Afi.


"Oh nggak kok, nggak papa" ucap Alia.


"Kamu masih mikirin si brengsek itu!?" tanya Afi.


"Ah nggak lah, buat apa lagi aku mikirin dia coba!"


Alia mencoba mengelak meskipun sebenarnya dalam hati ia masih memikirkan tentang Irfan. Dia tidak bisa begitu saja melupakan semua hal yang sudah ia jalani selama kurang-lebih tiga tahun bersama dengan Irfan.


"Al kamu udah lihat pengumuman?" tanya Afi.


"Pengumuman apa?"


"Awal bulan depan kita KKN"


"Oh ya? terus kenapa?"


"Aku udah dapat daftar kelompoknya, kita satu kelompok" jelas Afi.

__ADS_1


"Oh ya? wah bagus dong, kita bisa satu kelompok! senangnya satu kelompok sama Afia!" ujar Alia.


__ADS_2