
Dengan cepat Bu Mia menyuruh Pak Aji untuk segera memanggil dokter, dan tak lama kemudian dokter pun segera datang untuk memeriksa keadaan Alia.
Dokter tersenyum sembari berkata "Alhamdulillah, anak Ibu sudah siuman, detak jantungnya juga sudah stabil, jika dalam 8 jam ke depan kondisinya terus meningkat, maka dia bisa segera dipindahkan ke ruang rawat" jelas dokter itu lalu pergi.
Bu Mia keluar dan memberitahu keadaan Alia kepada pak Aji, lalu meminta suaminya itu untuk segera masuk dan melihat putrinya.
"Alia... kamu sudah bangun nak? Papa senang sekali akhirnya kamu sadar" tetesan air mata terus membasahi pipi Pak Aji yang terharu karena setelah menunggu berhari-hari akhirnya Alia membuka matanya.
Alia hanya tersenyum sembari menatap wajah Pak Aji karena dirinya masih belum bisa bergerak.
Setiap dua jam sekali perawat datang untuk mengecek keadaan Alia, seperti yang dijanjikan dokter tadi, beberapa kabel yang menempel di dadanya pun mulai di lepaskan, dan selang yang ada di hidungnya juga di lepas.
Perawat meminta Bu Mia untuk memakaikan baju pasien kepada Alia, kini yang menempel di tubuh Alia hanyalah selang oksigen dan juga alat infus terpasang di tangan kanannya.
Setelah selesai melepaskan semua alat itu, kini Alia di pindahkan ke ruang rawat umum yang berisi dua pasien dalam satu ruangan, namun kebetulan pasien di ruangan itu baru saja pulang sehingga Alia menjadi satu-satunya pasien yang ada di ruangan itu.
Perlahan-lahan dokter mulai menyuruh Alia untuk bicara, meskipun pelan namun Alia bicara cukup lancar, dia juga sudah mulai bisa menggerakkan kedua tangannya.
"Bagus bagus! perkembangan sangat cepat, sekarang kamu hanya perlu istirahat supaya cepat pulih" ucap dokter itu kepada Alia.
Alia hanya tersenyum dan dokter itu pun keluar meninggalkan ruangan.
"Nak... Mama senang sekali akhirnya kamu sudah sadar, oh iya setiap hari teman-teman kamu datang, tapi mereka tidak bisa melihat kamu karena kamu belum boleh di jenguk"
Bu Mia bicara panjang lebar dan menceritakan semuanya kepada Alia karena terlalu senang.
"Se tiap ha...ri?" ucapan Alia agak terputus-putus karena masih kesulitan dalam bicara.
"Iya, setiap hari. Oh iya, ada juga satu teman laki-laki kamu, dia setiap malam datang dan menemani Papa di depan pintu ruangan, anak itu baik sekali, dan setiap malam juga dia selalu meminta ijin pada Mama untuk bisa masuk ke ruangan hanya untuk membacakan Al-Qur'an untuk kamu" imbuhnya.
"Teman laki-laki? siapa?" ucap Alia dalam hati.
Alia melihat ke samping kirinya, di sana terlihat sosok kakak perempuannya berdiri sembari tersenyum kepada Alia. Dia mencoba mengangkat tangannya dan memegang tangan Bu Mia, dia tersenyum sembari menatap wajah Mama nya, dan Bu Mia pun membalas senyuman itu.
"Ma..." ucap Alia pelan.
"Ya sayang? kamu mau minum? tadi dokter bilang kalau kamu sudah boleh makan dan minum" ujar bu Mia.
Alia menggelengkan kepalanya, dia mencoba menggerakkan kakinya namun rasanya sangat sulit sekali. Kedua kakinya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali.
__ADS_1
"Kenapa kaki Alia nggak bisa di gerakkan?" tanya Alia.
"Itu..."
Bu Mia menunduk, ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi muram dan tidak berani menatap Alia.
"Kenapa Mah? kenapa Mama diam?"
"Dokter bilang... kamu mengalami kelumpuhan sementara" ucap Bu Mia dengan sangat pelan.
"Apa? kenapa bisa seperti itu?"
"Itu karena kamu mengalami kejang-kejang yang cukup lama sehingga ada beberapa syaraf otak yang terganggu dan mempengaruhi sistem gerak pada kaki" jelas bu Mia.
Alia merasa sangat terpukul, seketika dia tidak bisa berfikir lagi, dia tidak tahu harus bagaimana menerima kenyataan itu. Air matanya terus menetes membasahi pipinya, Alia berusaha untuk bangun dan melihat kedua kakinya, namun ia masih sangat lemah sehingga belum bisa bangun sama sekali.
"Kamu tenang nak... dokter bilang itu cuma sementara" ucap Bu Mia yang berusaha menenangkan putrinya.
"Sampai kapan Mah?"
Bu Mia hanya menggelengkan kepalanya dan tidak bisa menjawab pertanyaan Alia.
Bu Mia mencoba memanggil Pak Aji untuk membantunya menenangkan Alia.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB.
Sejak siang setelah mengetahui keadaan kakinya Alia hanya diam, melamun memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan keadaan seperti itu, bagaimana dengan kuliahnya, masa depannya...
Namun sosok kakak perempuannya selalu berdiri di sampingnya sambil tersenyum, dia seolah-olah sedang memberikan semangat dan dukungan pada Alia agar tidak merasa putus asa.
Bu Mia dan Pak Aji sedang duduk di teras depan ruangan. Mereka sedang menikmati makan malam dari nasi bungkus yang di beli Bu Mia dari kantin rumah sakit.
Tak lama kemudian muncul seorang anak laki-laki dengan mengenakan baju koko berwarna abu-abu dan celana panjang hitam, juga tak lupa peci polos hitam yang selalu terpasang rapi di atas kepalanya. Laki-laki itu berjalan mendekati ke arah Bu Mia dan Pak Aji.
"Assalamualaikum Pak Bu..."
"Walaikumsalam..."
"Walaikumsalam..."
Jawab Pak Aji dan Bu Mia secara bersamaan.
"Kamu datang lagi nak, Alia sudah sadar sekarang" ujar Pak Aji yang langsung berdiri.
__ADS_1
"Iya Pak Alhamdulillah, tadi saya sempat ke ruang ICU, tapi kata perawatnya sudah pindah kesini jadi saya langsung kemari" ucap Azam.
"Kalau mau lihat Alia, masuk aja... tapi..." Pak Aji tidak meneruskan ucapannya.
"Tapi kenapa Pak?" tanya Azam.
"Alia sepertinya sangat terpukul, karena dokter bilang kedua kakinya sulit untuk berfungsi" jelas Pak Aji.
"Innalilahi... Bapak dan Ibu yang sabar yah"
Pak Aji pun mempersilahkan Azam untuk masuk, ia kembali keluar untuk menyelesaikan makanannya dan meninggalkan Azam sendirian menemui Alia.
_____-----_____
"Assalamualaikum..." ucap Azam pelan.
"Walaikumsalam, kamu... untuk apa lagi ke sini?" ucap Alia dengan nada ketus.
"Apa kamu masih tidak paham? atau kamu masih pura-pura tidak paham?"
"Heh buat apa lagi, kamu sekarang tahu keadaan aku, lalu apa kamu masih akan menyayangi orang cacat seperti aku?" ujar Alia.
"Alhamdulillah, aku sangat bersyukur sekali karena masih bisa melihat kamu sadar dari koma dan mau bicara sama aku" ucap Azam sembari melontarkan senyuman pada Alia.
"Aku..."
Alia tidak bisa melanjutkan ucapannya dan kembali terdiam. Dia memalingkan wajahnya dari Azam.
Azam melirik ke arah sosok perempuan yang berdiri di samping kiri Alia, dia menundukkan kepalanya perlahan sembari tersenyum sebagai tanda untuk menghormati keberadaannya.
"Tadi aku mendengar kabar, kalau Bu Murniati dan Pak Syarif sudah meninggal..." ucap Azam pelan.
"Apa? innalilahi wa innailaihi rojiun. Kapan? kok bisa?"
Alia sangat terkejut saat mendengar kabar kematian itu, dia berubah menjadi sangat antusias karena ingin tahu apa penyebab kematian mereka.
"Tadi pagi, sekitar jam 8 pagi, mereka ditemukan sudah meninggal di dalam rumah karena di gigit ular, anaknya bilang kalau ada ular masuk ke rumah dan menggigit mereka" jelas Azam.
"Jam 8 pagi? bukannya itu waktu aku terbangun dari koma?"
"Yah... aku mengira kalau mereka akhirnya mengorbankan diri demi keselamatan kamu, karena Bu Murniati juga bilang kalau dia tidak ingin lagi ada tumbal baru".
"Masyaallah... kasihan sekali mereka..." gumam Alia.
__ADS_1