Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Pulang


__ADS_3

 


Alia tersenyum ke arah Bu Mia. Dengan cepat Bu mia berlari menghampiri Alia dan langsung memeluknya, air mata bahagia pun membasahi pipi Bu Mia.


 


Bu Mia langsung menyuruh Alia kembali duduk agar tidak terlalu lelah karena kakinya baru saja bisa digerakkan.


"Eh nak Azam, kamu kapan datang?" tanya Bu Mia yang baru menyadari kedatangan Azam.


"Baru saja Bu" jawab Azam dengan ramah.


Bu Mia lalu mengambilkan beberapa air mineral gelas dan juga cemilan untuk menyuguhi Azam.


"Tidak usah repot-repot Bu..." ucap Azam.


"Ah tidak papa, hanya air saja", oh iya Ibu tinggal dulu yah, mau menyusul Bapak di bagian administrasi" ucap Bu Mia sembari berjalan keluar.


"Emm kalau gitu aku keluar dulu ya kak" ujar Sita yang juga langsung berjalan keluar ruangan.


"Eh Sita!" Alia berusaha menghentikan adiknya, namun Sita tidak menghiraukan dan berlalu.


Alia kembali merasa canggung karena hanya ada Azam, dia tidak tahu harus bicara apa setelah mengetahui semua kebenaran yang diucapkan Nafisah.


"Aku bawa sesuatu buat kamu" ucap Azam sembari meletakkan kantong kresek sedang berwarna putih.


"Apa itu?" tanya Alia.


"Alhamdulillah kakak perempuanku udah buka kedai ayam goreng, dan itu aku bawain beberapa".


"Promosi ceritanya?"


Azam hanya tersenyum mendengar pertanyaan Alia. Dia bercerita bahwa kakak perempuannya itu menjual ayam dari hasil peternakan yang ia kelola.


Mereka berdua terlihat asyik mengobrol. Tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka, jarak dan kesalahpahaman yang dulu selalu ada di antara mereka pun sudah mulai luntur karena Alia sudah mengetahui semuanya.


"Emm soal mahluk yang tadi itu..." Alia tidak berani meneruskan ucapannya.


"Nggak usah dipikirkan, tadinya aku mengira kalau mahluk itu mau berniat jahat, tapi ternyata nggak sama sekali" jelas Azam.


"Darimana kamu tahu?"

__ADS_1


"Yah... dia sebenarnya adalah penghuni kamar ini, sebelumnya dia selalu berusaha menakuti pasien yang ada di kamar ini, tapi setelah melihat kamu, dia merasakan aura kuat di tubuh kamu".


"Maksudnya?" Alia merasa tidak paham dengan perkataan Azam.


"Alia Ragasy... apa kamu tahu? semenjak bangun dari koma, aura kamu justru semakin kuat dan mengundang banyak mahluk seperti mereka untuk mendekati kamu".


"Tapi... bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan diri lagi?" Alia berucap sambil menunduk, karena teringat kejadian sebelumnya saat dirinya di rasuki sampai membuat orang di dekatnya terluka.


"Kamu pasti bisa!" tegas Azam.


Alia hanya tersenyum kepada Azam. Tak lama kemudian Bu Mia dan Pak Aji datang, mereka juga bersama dokter yang langsung datang saat Bu Mia mengatakan bahwa putrinya sudah bisa berdiri.


"Loh kok, Mama sama Papa datang bareng sama dokter?" tanya Alia yang merasa panik saat dokter datang dengan raut wajah yang cukup menakutkan.


"Kamu jangan takut nak, dokter hanya ingin melihat keadaan kamu, karena tadi sempat terkejut saat mendengar kamu berdiri, jadi beliau langsung buru-buru ke sini untuk melihatnya" jelas Bu Mia.


Pak dokter hanya tersenyum sembari menatap Alia. Beliau kembali mengeluarkan palu kecil yang tadi dan mengetukkan palu itu dengan pelan ke bagian lutut Alia.


Secara refleks kaki Alia langsung terangkat saat dokter mengetuk lututnya, tanda bahwa kakinya sudah bisa memberikan respon positif.


"Coba kamu angkat kaki kanan" ucap dokter pada Alia.


"Ini benar-benar keajaiban! kaki kamu bisa langsung pulih dalam sekejap, saya baru pernah melihat yang seperti ini!" ujar dokter itu.


Semua orang yang berada di dalam ruangan itu merasa sangat bahagia mendengar ucapan dokter. Dokter juga berkata bahwa Alia bisa segera pulang hari itu setelah proses administrasi selesai, namun ia juga harus tetap kembali Minggu depan untuk kontrol dan juga mengecek kondisi kakinya.


"Ragasy selamat yah".


Azam kembali memberikan selamat kepada Alia dengan penuh ketulusan.


"Pah, Mah, aku udah Charter mobilnya Om Muhammad nih, kak Alia jadi pulang kan?" tanya Sita yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.


"Jadi dong!" tegas Alia.


"Oh syukurlah, kira-kira 2 jam lagi kayaknya Om Muhammad sampai deh" jelas Sita.


"Berarti sekarang kita tinggal menunggu kendaraan untuk pulang saja kan..." ujar Pak Aji.


"Tunggu resep obat dulu dari dokternya Pak" sahut Bu Mia.


Keluarga itu terlihat sangat bahagia, begitu juga Azam yang masih duduk di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Tak lama kemudian Azam berpamitan untuk pulang karena merasa tidak enak jika harus berlama-lama di sana.


"Loh kok buru-buru nak?" tanya Bu Mia.


"Nggak Bu, kebetulan saya masih harus mengurus ternak saya"


"Oh ya sudah kalau begitu hati-hati yah"


Azam pun berlalu pergi dari ruangan itu, sementara Sita mulai menggoda Alia tanpa henti.


Di samping tempat tidur bagian kiri juga terlihat sosok kakak perempuan Alia yang berdiri dengan tersenyum.


Setelah menunggu beberapa jam akhirnya Alia bisa benar-benar sampai di rumah. Mereka semua tiba di rumah sekitar jam 6 sore dan tak lama kemudian terdengar suara adzan Maghrib.


Pak Aji dan keluarga melaksanakan sholat Maghrib berjamaah di rumah mereka dengan Alia yang masih duduk di kursi roda karena belum benar-benar pulih.


*****


Satu Minggu berlalu sejak kepulangan Alia dari rumah sakit. Selama itu dia masih harus duduk di kursi roda karena saran dokter agar kakinya tidak merasa terkejut, namun Alia juga tidak berhenti untuk belajar berjalan meskipun hanya beberapa langkah dalam sehari, selama satu Minggu itu Afi tidak pernah melewatkan sehari pun untuk datang ke rumah Alia dan menemaninya sepulang kuliah.


Alia baru bisa lepas dari kursi roda setelah pulang kontrol kemarin, jadi hari ini adalah hari pertama dia benar-benar merasa bebas dan hidup kembali setelah 7 hari koma dan hampir dua Minggu berada di rumah sakit.


Malam harinya Alia duduk di kamarnya dan di temani sosok kakaknya, ia juga sempat melihat sosok mahluk berwarna hijau yang membantunya sewaktu di rumah sakit, namun sosok itu tidak bisa masuk ke dalam rumah Alia karena batas perlindungan yang di buat oleh sesepuhnya.


Klunting...


Tiba-tiba ponsel Alia berbunyi. Ada satu pesan masuk yang ternyata dari Azam.


"assalamualaikum Ragasy... bagaimana keadaan kamu? sudah lebih baik?"


Begitulah isi pesan singkat yang tertulis di ponsel Alia dan dia pun segera membalasnya.


"Walaikumsalam... Alhamdulillah sekarang aku sudah tidak perlu memakai kursi roda lagi".


Alia langsung mengirimkan jawaban itu setelah selesai mengetiknya.


"Alhamdulillah... aku ingin bersilaturahmi ke rumah kamu besok, apakah boleh?".


Alia sempat tercengang dengan balasan dari Azam. Dia berpikir pertanyaan macam apa itu? jika ingin main ke rumah maka main saja, kenapa harus meminta izin?. Dan kata itu juga yang ia kirimkan sebagai balasannya kepada Azam.


Setelah balasan Alia yang terakhir, Azam tidak lagi membalas pesan Alia, entah kenapa perasaannya menjadi kurang enak, seperti akan ada sesuatu yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2