Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Arsya


__ADS_3

"Kamu tidak usah memikirkan hal yang tidak-tidak, kakakku memang terkadang seperti itu" ujar Azam.


Alia hanya mengangguk, dia mencoba untuk tidak ambil pusing lagi dengan sikap kakak iparnya. Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja terdengar suara tangisan Arsya yang sangat keras sampai terdengar ke dalam rumah Azam.


Alia pun segera mengajak Azam untuk melihat keadaan keponakannya itu. Saat mereka sampai Fajri masih menggendong Arsya yang tengah menangis kencang, dia sedang kebingungan harus bagaimana menenangkan anak laki-lakinya.


"Astaghfirullah Arsya kenapa Mba?" tanya Azam yang juga ikut panik.


"Nggak tahu, tadi pas Mba mau baringkan di tempat tidur tiba-tiba dia langsung nangis seperti ini" ujar Fajri.


Azam pun segera mengambil segelas air putih dan membacakan beberapa doa. Air itu lalu di oleskan ke ubun-ubun dan juga wajah Arsya yang sedang menangis, tak lama kemudian dia pun menjadi lebih tenang meskipun belum sepenuhnya berhenti menangis.


"Alhamdulillah... terimakasih Azam" ucap Fajri.


"Sama-sama Mba" jawab Azam.


Alia masih terdiam dengan terus melihat ke arah Arsya, dia mencoba mendekat dan berusaha untuk menyentuh anak itu.


Saat Alia sudah berhasil menyentuh Arsya, tiba-tiba saja muncul tiga sosok perempuan yang mengelilingi anak kecil itu.


Ketiga sosok itu mempunyai wujud yang berbeda-beda, yang satu berwujud seperti nenek-nenek dengan menggunakan kebaya jadul dan juga kain jarik, semua rambutnya sudah berwarna putih kusam dengan perawakan tubuh yang sangat kurus dan agak bungkuk, wajahnya juga penuh kerutan seperti orang yang sudah berumur lebih dari seratus tahun, nenek itu terlihat ingin sekali membawa Arsya pergi, tatapannya begitu tajam saat menyadari bahwa Alia dapat melihat wujudnya.


Yang kedua berwujud ibu-ibu yang berpakaian hampir mirip dengan nenek tadi, mereka berdua seperti ibu dan anak yang sedang berusaha untuk merebut Arsya dari ibunya.


Dan yang ketiga berwujud anak kecil yang terlihat seumuran dengan Arsya, sosok anak kecil itu terlihat terus menggoda dan mengajak main Arsya, dan hal itu yang membuat Arsya menangis terus tanpa henti karena terus di ganggu sosok anak kecil perempuan itu.


Mereka bertiga kini menatap Alia dengan tatapan yang sangat tajam karena tidak suka ada manusia yang menyadari dan bisa melihat keberadaan mereka.


Sebenarnya Azam juga bisa melihat ketiga sosok perempuan itu, namun ketiganya tidak merasa terancam saat manusia berjenis kelamin laki-laki yang melihatnya.


"Ini agak sulit" ucap Azam pelan.


"Jadi kamu sudah melihat mereka?" tanya Alia.


"Ya"

__ADS_1


"Tidak asal kamu tahu kelemahan mereka!" jawab Alia.


"Maksud kamu?"


"Emm apa di dekat sini ada sebuah rumah kosong? sepertinya kemarin Arsya bermain lari-larian sampai ke halaman rumah kosong itu" ujar Alia.


Fajri merasa sangat terkejut mendengar ucapan Alia, karena hal itu sangat tepat sekali, meskipun begitu Fajri merasa heran karena Alia bisa tahu jika ada sebuah rumah kosong di dekat sini, padahal Alia baru tinggal semalam di rumah Azam dan belum pernah berkeliling jauh di daerah itu.


"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan soal rumah kosong?" tanya Azam.


Alia menghela nafas, dia menjelaskan kepada Azam bahwa akan percuma saja jika mereka mencoba mengusir ataupun mengobati Arsya dengan berbagai cara, karena memang bukan mereka yang datang mengganggu, tetapi Arsya sendiri yang datang pada mereka, sehingga mereka justru akan merasa marah saat Azam dan kakaknya mencoba untuk mengusir mereka.


Azam pun berkata bahwa sebelumnya dia tidak pernah melihat hal seperti itu. Biasanya saat seorang anak kecil yang di ganggu oleh mahluk tak kasat mata, Azam ataupun kakaknya bisa dengan mudah untuk mengusir mahluk yang mengganggu itu.


"Kita harus cari tahu dulu apa yang membuat mereka bisa dengan mudah berada di dekat Arsya" ujar Alia.


Alia kembali mendekat ke arah Arsya, dia terus aja melihat apakah ada sesuatu hal aneh yang mungkin terdapat pada tubuh Arsya. Tak lama kemudian ia menyadari bahwa sejak tadi tangan kanan Arsya terus saja mengepal seperti sedang memegang sesuatu.


"Mba, ini tangannya sejak semalam seperti ini?" tanya Alia.


"Iya, saya tidak terlalu memikirkan karena saya pikir itu hanya hal biasa" ujar Fajri.


"Ini dia!" ujar Alia sembari mengambil benda yang berada di tangan Arsya.


"Apa itu?" tanya Azam.


Alia memperlihatkan sebuah batu berwarna putih yang berbentuk lonjong dengan permukaan yang sangat halus seperti sudah di gosok dengan penghalus.


"Astaghfirullah... aku sama sekali tidak sadar jika sejak kemarin Arsya memegang batu itu, aku tidak bisa membayangkan jika sampai tak sengaja tertelan" ucap Fajri.


Bentuk batu itu lumayan kecil sehingga tidak ada yang menyadari jika Arsya menggenggam batu itu di tangannya, Alia lalu memberikan benda itu kepada Azam dan menyuruhnya untuk mengembalikan ke tempat asalnya.


"Jadi, dimana letak asalnya?" tanya Azam.


"Di sudut bagian kanan tepat di depan rumah itu, ada sebuah pohon bambu gading (bambu kuning), di sanalah tempatnya" ujar Alia.

__ADS_1


Fajri kembali merasa tidak percaya karena Alia benar-benar bisa tahu mengenai detail halaman rumah kosong itu.


"Kamu pernah melihat rumah kosong itu sebelumnya" tanya Fajri pada Alia.


Alia hanya menggelengkan kepalanya sembari mengusap wajah Arsya yang sudah mulai tenang.


"Tapi kenapa kamu bisa tahu tentang rumah itu?" imbuh Fajri.


"Mungkin itu hanya kebetulan saja Mba" ucap Alia sembari tersenyum.


Sementara itu Azam dengan cepat berjalan menuju ke halaman rumah kosong itu dan meletakkan batu putih tadi ke tempat yang sudah di katakan oleh Alia, begitu selesai ia langsung bergegas kembali ke rumah Fajri dan melihat keadaan Arsya.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam.. gimana? sudah dikembalikan?" tanya Alia yang langsung menghampiri Azam.


"Sudah, Arsya bagaimana?"


"Sudah mulai tenang, dia baru saja terlelap" ujar Alia.


*****


Malam harinya Azam dan Alia sholat isya berjamaah di dalam kamar Azam.


Setelah selesai Azam bangun dan melepaskan peci yang ia kenakan, ia lalu melihat ke arah Alia yang masih memakai mukena.


"Kamu kenapa? kok lihatin aku kaya gitu?" tanya Alia yang merasa terganggu dengan tatapan Azam yang tidak seperti biasa.


Azam lalu berjalan mendekati Alia dengan pelan, sementara itu Alia masih berdiri terheran-heran saat suaminya itu hanya diam sambil menatapnya.


Perlahan Azam mulai meraih pengait mukena Alia dan melepaskannya.


"Kamu mau ngapain?" tanya Alia yang terlihat gugup, wajahnya memerah dan jantungnya berdetak sangat kencang sampai-sampai ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Azam meletakkan mukena itu di lantai dan kini terlihatlah Alia yang tidak memakai kerudung. Alia menundukkan kepalanya dan merasa malu, karena ini adalah pertama kalinya ia tidak memakai kerudung di depan suaminya.

__ADS_1


"Masyaallah..." gumam Azam pelan.


Pandangan Azam tertuju pada rambut Alia yang berkilau dengan warna kuning emas karena selalu di warnai oleh Alia.


__ADS_2