
Keadaan masih terasa canggung, Azam dan Alia juga masih saling diam tanpa berkata\-kata.
"Azam... lebih baik kita beritahu dia, karena mungkin hanya Alia yang bisa menemukan Afi" ujar Nafisah yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua.
"Apa lagi ini? jadi benar kalian tahu dimana Afi?" tanya Alia.
"Ini berhubungan dengan pemilik rumah, jadi sepertinya kita harus bicara dengan Bu Murniati" ujar Azam.
Tiba-tiba semua teman mereka datang dan bertanya apa yang terjadi, terutama Anton, dia sangat khawatir ketika mendengar Afi tidak ada dimana-mana, karena dia adalah ketua kelompok, jadi dia merasa bertanggungjawab jika sampai terjadi apa-apa dengan anggotanya.
"Ada apa ini, kalian semua berkumpul di sini dan tadi Ibu mendengar ada ribut-ribut, kenapa?"
Tiba-tiba saja Bu Murniati datang dan bertanya apa yang terjadi.
"Bu... boleh saya bicara sama Ibu?" ucap Alia dengan pelan.
"Tentu boleh nak, memang mau bicara apa?" tanya Bu Murniati.
Alia mengajak Bu Murniati untuk bicara di belakang diikuti oleh Nafisah dan juga Azam, sementara Nafisah meminta yang lain untuk tidak ikut.
"Tapi kenapa kami tidak boleh ikut?" ucap Anton yang agak kesal karena merasa tidak di anggap.
"Anton, ini masalah penting, dan sedikit pribadi, nanti aku akan jelaskan semuanya setelah ini" jelas Azam.
"Mereka kenapa si? kok aneh banget!" ujar Erik.
"Udah nurut aja, kayaknya emang penting banget, kita tunggu di sini aja" ucap Sandra.
Alia, Bu Murniati, Nafisah dan juga Azam masuk ke dalam ruangan yang biasa di gunakan untuk sholat, mereka duduk di lantai dengan suasana yang cukup tegang.
"Ini mau ngomong apa ya, kenapa harus di sini, sepertinya sangat rahasia?" tanya Bu Murniati.
"Bu... sebelumnya saya minta maaf, saya nggak ada maksud sama sekali untuk mengusik kegiatan pribadi keluarga ibu, tapi ini menyangkut teman kami" ujar Alia.
__ADS_1
"Maksudnya apa?"
Nafisah dan Azam hanya diam saja.
"Emm soal... kepala..." Alia merasa tidak enak untuk mengatakannya, namun karena ia merasa hal itu kemungkinan ada hubungannya dengan kehilangan Afi, jadi dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Kepala? kepala apa?" Bu Murniati kaget dan agak gugup.
"Kepala yang tergantung di atas pintu kamar mandi" ucap Alia dengan cepat.
"Kamu bisa melihat itu?"
Alia mengangguk, begitu juga dengan Nafisah dan Azam, ekspresi wajah Bu Murniati berubah menjadi pucat karena takut.
"Ibu kenapa?" tanya Nafisah.
"Kenapa bisa ada benda seperti itu di dalam rumah ini Bu? bukannya Ibu ini kan orang yang beragama?" imbuh Alia.
Bu Murniati kembali terdiam, dia benar-benar ketakutan dan sama sekali tidak mau bicara. Namun setelah Alia terus membujuknya, akhirnya beliau mau menceritakan semuanya.
"Dulu ini adalah rumah orang tua saya, ini warisan dan saya tidak berani mengubahnya. Mereka bilang sama saya kalau ada sebuah jimat penangkal yang terpasang di dalam rumah ini, tapi saya tidak tahu di mana letaknya karena saya juga tidak bisa melihat.
Sampai akhirnya beliau berpikir untuk bersekutu dengan jin yang tinggal di sebuah mata air yang sama sekali belum pernah di lihat oleh orang lain. Sejak memasang jimat itu, keluarga kami hidup aman dan usaha Bapak saya juga terus menerus meningkat.
Sebelum Ibu saya meninggal, dia memberitahu saya bahwa bentuk dari jimat itu adalah sebuah kepala manusia yang digantung di atas pintu, tapi tepatnya di pintu mana saya tidak tahu karena beliau tidak meneruskan perkataannya.
Setiap lima tahun sekali, kepala itu akan digantikan dengan korban berikutnya. Sebenarnya saya sama sekali tidak memiliki hubungan dan perjanjian apapun dengan jin itu, tapi sampai sekarang kejadian itu masih saja terjadi dan saya tidak tahu harus bagaimana menghentikannya".
"Jadi maksudnya kepala itu adalah kepala dari orang yang dijadikan tumbal?" ujar Alia.
Bu Murniati hanya mengangguk.
"Lalu bagaimana cara mereka mengambil tumbalnya?" Alia kembali bertanya.
"Setiap lima tahun sekali, pasti akan ada orang yang bertamu dan menginap di rumah ini, entah itu saudara jauh, teman dari anak saya ataupun yang lainnya. Tak lama setelah pulang dari sini, pasti akan terdengar kabar bahwa salah satu orang yang datang ke mari telah meninggal, entah itu karena kecelakaan saat pulang dari sini atau karena sakit" ujar Bu Murniati.
Alia menelan ludah, dia merasa sangat terkejut mendengar cerita dari Bu Murniati.
__ADS_1
"Apakah wujud jin itu berbentuk wanita yang suka menari?" ucap Alia.
"Kamu sungguh melihat itu nak? kamu benar-benar harus berhati-hati!"
Alia terdiam dan melihat ke arah Nafisah beserta Azam, dia tidak paham dengan perkataan Bu Murniati.
"Bu... sekarang teman saya Afi hilang, sejak kemarin memang saya sudah melihat keanehan padanya, tapi saya tidak pernah berpikir kalau dia akan menjadi tumbal di sini" jelas Alia.
"Benarkah begitu?"
"Ya bu, sebenarnya sudah dua hari yang lalu, saya sudah coba mencarinya, bahkan sampai ke tempat mata air yang di bilang ibu tadi, tapi saya sama sekali tidak menemukan apa-apa" imbuh Azam.
"Apa!? dua hari? jadi selama ini yang aku lihat itu?"
Alia kembali terkejut saat Azam mengatakan yang sebenarnya, dia juga marah-marah kepada Azam karena membiarkan hal itu terjadi dan tidak memberitahu Alia sama sekali.
"Maaf,, tadinya aku tidak ingin kamu tahu dan berusaha menemukan Afi sebelum kita pulang..." Azam berucap sambil menunduk karena merasa bersalah.
"Jadi apa Ibu kira-kira tahu dimana kita bisa menemukan teman kita?" tanya Nafisah.
Bu Murniati menghela nafas panjang.
"Sekitar lima belas tahun lalu, ada 4 orang teman anak saya yang datang dan menginap di sini selama dua hari, setelah itu mereka pulang. Saat pulang, keempatnya masih lengkap, namun beberapa hari kemudian salah satu dari keluarga mereka menghubungi saya dan berkata anak mereka belum juga pulang sejak datang ke sini, dan seminggu kemudian mayatnya di temukan di bawah jembatan bambu, di sungai kecil yang berada di belakang rumah saya ini, dia di bawa ke rumah sakit dan katanya meninggal karena di gigit ular, semua temannya bahkan hampir tidak percaya karena jelas-jelas mereka berempat pulang bersama dari sini".
Alia langsung bangun dan berjalan keluar dari ruangan itu. Pikirannya sudah tidak menentu karena sangat khawatir kepada Afi.
"Ragasy kamu mau kemana?" teriak Azam.
"Aku akan cari ke tempat itu, sungai kecil itu!"
"Selama dua hari aku bahkan sudah mendatangi tempat itu sebanyak 4 kali! tapi sama sekali tidak menemukan Afi" jelas Azam.
"Dua hari! Afi sudah ditahan selama dua hari! dia itu anak satu-satunya, aku nggak bisa bayangkan gimana perasaan orang tua Afi kalau sampai tau anak satu-satunya kenapa-kenapa!"
"Dia nggak akan kenapa-kenapa, itu hanya pengalihan!"
Tiba-tiba saja ucapan Azam membuat Alia kembali terdiam, dia berbalik dan menatap Azam seolah bertanya apa maksud dari ucapannya tadi.
__ADS_1
"Alia Ragasy... yang sebenarnya dia inginkan itu kamu!"