Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Jarak


__ADS_3

Tujuh hari berlalu sejak meninggalnya Abah Azam. Kini dia sudah mulai melakukan kegiatannya seperti biasa setelah sebelumnya cuti. Kesedihan di hatinya dan juga keluarganya masih belum hilang, namun mereka harus tetap menjalani kehidupan seperti biasa.


Pagi itu Alia sedang berjalan menuju ke kelasnya, dia membawa beberapa lembar kertas tugas yang akan ia kumpulkan hari ini, di tengah jalan Meisya melihat Alia yang sedang berjalan terburu-buru, dia sengaja berpura-pura tidak melihat dan menabrak Alia.


"Aw!" teriak Alia yang terjatuh saat Meisya menabraknya.


"Ups sorry nggak sengaja! kamu si jalan nggak lihat-lihat"


Meisya bicara pada Alia dengan senyum mengejek, ekspresi wajahnya terlihat sedang merasa sangat bahagia. Dia pun langsung pergi meninggalkan Alia begitu saja. Sementara itu Alia masih sibuk membereskan lembaran kertas yang berserakan di lantai.


"Meisya kenapa yah? dia kok kelihatannya lagi bahagia banget".


Setelah selesai membereskan lembaran kertas itu, Alia segera masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya. Di bagian pojok belakang teerdengar suara Meisya yang sedang mengobrol dengan temannya, mereka terlihat sangat heboh sekali.


"Sandra! Meisya kelihatannya lagi bahagia banget yah?" tanya Alia.


"Iya tuh, ngobrolnya aja sampai heboh begitu" jawab Sandra dengan wajah sewotnya.


"Kamu tahu kenapa?" Alia kembali bertanya.


"Tadi kalau nggak salah dengar si, katanya dia baru jadian sama cowok impiannya" jelas Sandra.


"Oh, baru punya pacar aja segitunya, lebay banget deh!" gumam Alia pelan.


******


Sore hari setelah selesai kuliah, Alia duduk di taman sendirian, dia sedang menunggu kedatangan Irfan karena sebelumnya mereka sudah janjian untuk bertemu sebelum pulang.


Cukup lama Alia duduk dan menunggu, namun Irfan tak kunjung datang.


"Al! kamu ngapain di sini? nggak pulang?" Afi tiba-tiba menghampiri Alia dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Eh kamu Fi, belum nih lagi nungguin Irfan" jawab Alia singkat.


"Irfan?" tanya Afi heran.


"Iya, kita janjian buat ketemu, tapi dari tadi di tungguin nggak datang-datang".


"Bukannya dia tadi udah pulang?"


"Pulang? kamu tahu dari mana?"


"Aku tadi lihat dia naik motor, kelihatannya si buru-buru" jelas Afi.


Alia terdiam saat mendengar pernyataan Afi, dalam hatinya merasa kesal karena mereka sudah berjanji untuk bertemu.


"Dia kemana? pergi kok nggak ngabarin aku?" gumam Alia dalam hati.


Alia sedikit melamun karena memikirkan Irfan, dia agak khawatir terjadi apa-apa dengan Irfan, karena ini kali pertamanya dia tidak menepati janjinya pada Alia.


Drrrtttt.... drrrtttt...


"Sayang maaf yah, aku pulang duluan karena ada urusan mendadak".


Begitulah isi pesan singkat yang di kirim oleh Irfan pada Alia. Karena sudah terlanjur kehilangan mood, Alia pun mengajak Afi pergi ke sebuah kafe terdekat untuk menghilangkan rasa kesalnya.


Di tempat lain Azam sedang mengendarai motor bersama adiknya menuju ke rumah, ia melaju dengan pelan karena hari itu adalah hari Sabtu, jalanan di kota cukup ramai dan padat kendaraan.


"Mas Azam kita berhenti di depan sebentar ya" pinta Husna.


"Mau ngapain dek?" tanya Azam.


"Ada satu buku yang harus aku beli" jawab Husna.

__ADS_1


Azam pun segera menepi dan berhenti di depan toko buku yang letaknya tidak jauh dari alun-alun kota. Husna mengajak Azam untuk ikut masuk ke dalam, namun Azam menolak dan lebih memilih menunggu di parkiran saja.


Saat sedang melihat-lihat ke arah jalanan yang mulai di penuhi kendaraan bermotor, tanpa sengaja Azam melihat Irfan yang berboncengan dengan seorang perempuan. Ia tak melihat jelas siapa perempuan itu, namun yang pasti perempuan itu bukanlah Alia.


"Kira-kira siapa yah perempuan yang di bonceng Irfan itu?" Azam bertanya-tanya dalam hati, dia merasa heran kenapa Irfan bisa pergi dengan orang lain padahal tadi jelas-jelas dirinya melihat Alia yang sepertinya sedang menunggu Irfan di taman.


"Udah mas, ayo kita jalan lagi" Husna menghampiri kakaknya setelah selesai membeli buku yang ia butuhkan, namun Azam masih terdiam sambil melihat ke arah jalan raya.


"Mas kok malah bengong, ayo kita pulang, udah makin sore nih" ucap Husna agak keras.


"Eh iya iya, ayo naik"


Azam langsung menyalakan motornya dan kembali melaju dengan pelan.


Begitu sampai di rumah Azam tidak banyak bicara, dia langsung masuk ke kamarnya dan duduk di kursi meja belajar.


Azam menatap ke arah burung kertas buatan Alia, perlahan dia mulai menceritakan semua yang ia rasakan.


"Hei burung hitam, apa kamu tahu kalau aku punya rahasia? sebenarnya aku sangat menyayangi orang yang sudah membuatmu, tapi aku begitu pengecut sampai tidak pernah berani mengatakannya, hanya bisa terus melihatnya dari kejauhan, dan menunggu sampai datang waktu yang tepat untuk aku bisa bersamanya"


Azam benar-benar menganggap burung itu sebagai teman bicaranya, meskipun dia tidak akan pernah mendapatkan respon dari burung kertas itu, tapi setidaknya dia merasa lega karena mempunyai tempat untuk bercerita, karena biasanya selain memendam perasaannya, dia hanya bisa menceritakan semua itu saat ia selesai sholat malam.


Azam memang tipe orang yang tidak suka menceritakan masalahnya kepada orang lain, dia hanya percaya dan mau bercerita kepada Tuhannya saja.


"Sebenarnya aku ingin sekali memberitahu kalau Irfan itu bukanlah orang baik, tapi aku takut kamu tidak akan percaya, jadi aku selalu berdoa supaya suatu saat nanti kamu tahu sendiri hal itu" ucap Azam dalam hati.


Sejak awal sebenarnya Azam sudah tahu semuanya tentang Irfan, tapi ia melihat kalau Alia begitu mengagumi Irfan sehingga tidak bisa melihat sisi buruknya, percuma saja meskipun dia bersikeras mengatakan yang sebenarnya, Alia tidak akan pernah percaya, terlebih lagi dulu Alia juga sempat membencinya, jadi dia lebih memilih untuk diam dan membiarkan Alia tahu dengan sendirinya.


*****


Sejak hari itu hubungan Alia dan Irfan kembali merenggang, mereka sangat jarang sekali bertemu, hanya berkomunikasi lewat ponsel saja. Setiap kali Alia mengajaknya bertemu pasti selalu saja ada alasan, kini mereka juga tidak pernah lagi bertemu atau mengobrol di wilayah kampus, Irfan selalu meminta agar mereka bertemu di luar kampus karena berbagai alasan.

__ADS_1


Sementara itu Meisya semakin hari semakin besar kepala, dia juga mengira kalau Irfan dan Alia sudah benar-benar putus karena mereka tidak pernah terlihat bersama atau bertemu lagi. Meisya merasa dirinya sudah menang karena telah berhasil mendapatkan orang yang ia sukai sejak pertama kali bertemu, meskipun dengan berbagai cara hingga sempat merendahkan dirinya, akhirnya dia merasa bahwa dirinya telah mendapatkan hal yang sepadan dengan usahanya.


Alia kini berusaha untuk lebih fokus pada kuliahnya, sehingga ia tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Irfan meskipun hanya berkomunikasi lewat ponsel saja, itu justru membuatnya merasa lebih nyaman karena akan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan jika tidak sering bertemu. Dia juga tidak pernah sama sekali menghiraukan Meisya yang selalu saja mengganggunya.


__ADS_2