Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Perasaan terkejut


__ADS_3

 


Alia terdiam mendengar cerita Irfan, dia meraih segelas es teh manis dan meminumnya sembari bertanya "Kamu tahu cerita itu dari siapa?"


 


"Aku kebetulan kemarin ada kelas, dan nggak sengaja denger dari ibu yang mengasuh cucunya si kakek itu" jelas Irfan.


"Jadi begitu, kasian juga sih kakek itu"


Alia kembali melanjutkan makannya dan tidak bicara banyak. Dalam hati sebenarnya ia masih sangat penasaran kenapa hantu kakek itu suka mengganggu mahasiswa baru dan enggan untuk melepaskan sebelum orang yang di ganggu itu gila atau meninggal.


Setelah selesai makan, Irfan pamit untuk pergi ke kelas karena ada jadwal kuliah, sementara Alia masih sangat penasaran dengan cerita kakek tukang kebun itu, ia pun memutuskan untuk mendatangi taman dan menuju ke tempat di mana pohon Cherry itu berdiri kemarin.


Batang pohon dan ranting-ranting kecil semuanya sudah disingkirkan dari tempat itu, yang tersisa hanyalah bekas galian saat mengambil tengkorak dan garis polisi yang masih mengelilingi sekitar bekas galian itu.


Alia menatap ke sekeliling tempat itu, ia bahkan mengitari tempat itu dengan langkah perlahan, kemudian ia mengambil sedikit tanah merah yang berada di bawah garis polisi.


Tiba-tiba ada sesuatu yang masuk ke dalam pikirannya, seperti sebuah ingatan yang sangat jelas terlihat. Ingatan itu ternyata adalah sebuah cerita yang terjadi sekitar 20 tahun yang lalu saat kakek penjaga kebun kampus itu masih hidup. Kakek itu meninggal di tempat itu dan tidak ada seorangpun yang tahu, ia tertimbun tanah galian saat lokasi taman itu sedang di pasangi paving blok.


Beberapa hari berlalu sampai semua lokasi taman itu tertutup rapat oleh paving blok. Alia juga melihat bahwa cucu dari sang kakek itu menangis di area itu, dimana itu adalah sebuah area yang di bawahnya terdapat jasad kakeknya terkubur.


Alia mencoba untuk menggenggam lagi tanah yang berada di tangannya, dan ia kembali melihat kisah itu di pikirannya.


Cucu dari kakek itu sebenarnya tidaklah gila, dia memang selalu bertemu dan berbicara dengan arwah kakeknya, namun karena orang lain tidak bisa melihatnya jadi dia di anggap gila. Tak lama kemudian cucu kakek itu meninggal, dan ternyata ia meninggal karena di ajak pergi oleh kakeknya.


Alia mencoba untuk melihat lebih dalam lagi, dia juga melihat pohon Cherry tumbuh di tempat itu karena sang kakek yang saat meninggal sedang menggenggam buah Cherry.


Tiba-tiba Alia sangat terkejut saat melihat kisah yang terakhir, yaitu saat ada beberapa mahasiswa baru yang di ganggu oleh hantu pohon itu. Ternyata alasan di baliknya yaitu karena anak itu mampu mengungkap dan memberitahu semua orang bahwa jasad kakek penjaga itu memang berada di bawah pohon Cherry, namun anak itu tidak mampu membuat semua orang percaya, dan itu juga yang menjadi alasan kenapa cucu dari kakek itu meninggal.


"Astaghfirullah... kasian sekali, karena sudah terlalu lama tidak ada yang mau percaya kebenaran jadi arwah kakek itu berubah menjadi jahat" ucap Alia pelan.


Dalam hatinya sebenarnya masih penasaran siapa orang yang sudah membuat semua itu terungkap dan apa alasannya mau menolong Alia yang sedang menjadi incaran hantu itu selanjutnya.

__ADS_1


Kini Alia sudah tidak lagi merasakan aura dari hantu pohon ataupun hantu kakek penjaga kebun itu, semuanya seakan sudah hilang begitu saja, mungkin karena jasadnya yang sudah ditemukan jadi arwah kakek itu sudah bisa tenang, meskipun ia harus menunggu selama 20 tahun dan jasadnya hanya tersisa tulang-belulang.


Namun ada satu hal yang masih membuat hati Alia merasa tidak tenang. Ia masih merasakan aura negatif yang sangat kuat dan berasal dari tempat bekas pohon Cherry itu.


"Astaghfirullah!! aku baru ingat! jangan-jangan..."


Tiba-tiba Alia teringat dengan sosok anak kecil berbaju merah yang berjalan di belakang Meisya tempo hari. Dia berpikir bahwa gadis kecil itu mungkin adalah cucu dari kakek penjaga kebun yang sudah bisa berkeliaran karena arwah kakek yang mengikatnya sudah pergi dan tenang ke alamnya.


"Duh kok perasaan aku nggak enak yah, kayaknya gadis itu nggak berniat baik deh" Alia kembali bergumam sendirian.


"Ragasy... sedang apa kamu berdiri di sini sendirian?"


Tiba-tiba Azam menghampiri dan menyapa Alia. Tadinya Azam hanya melihat Alia dari kejauhan dan tidak berniat untuk mendekati atau menyapanya, namun hal yang membuat Azam tertarik adalah sekelompok bayangan berjubah hitam sedang berdiri di belakang Alia. Hal itu membuat Azam penasaran dan ingin mencari tahu apakah sosok itu memiliki aura yang jahat atau tidak.


"Eh Arrafi, nggak papa kok, cuma lihat aja"


Alia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Azam. Sebelum Alia pergi, Azam sempat menyentuh sekelompok bayangan hitam itu dan membawa mereka bersamanya.


Alia berjalan cepat menuju ke kelasnya, dia mencari Meisya untuk memastikan hal yang kemarin ia lihat itu benar atau hanya kebetulan saja.


"Duh kemana si Meisya, tumben banget nggak kelihatan!" Alia menggerutu pelan.


"Alia kamu ngapain celingak-celinguk gitu?"


Tiba-tiba Sandra menghampiri dan bertanya pada Alia karena heran melihat tingkahnya.


"Em itu, kamu lihat Meisya nggak?"


"Buat apa si nyariin dia? kamu mau di bentak-bentak lagi sama dia?"


"Enggak bukan itu maksudku..."


Alia tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dia bingung bagaimana harus memberitahu kepada Sandra. Dia tidak ingin membuat Sandra curiga dan mengetahui kalau Alia sebenarnya bisa melihat mahluk tak kasat mata.

__ADS_1


Tak lama kemudian Meisya pun masuk kelas bersama temannya. Alia langsung bangun dari tempat duduknya, namun ia tidak yakin untuk menghampiri Meisya. Akhirnya ia pun kembali duduk dan melihatnya dari jauh.


"Alia kamu kenapa si? kok aneh gitu, lihat Meisya kayak lihat setan" ucap Sandra.


"Eh em itu, enggak kok, nggak papa"


Alia terus saja menatap ke arah Meisya, mulai dari pintu kelas sampai ke tempat duduk, tatapan mata itu sangat serius sampai membuat Sandra merasa aneh dengan tingkah Alia.


"Loh kok nggak ada si? jelas-jelas kemarin aku lihat!" ucap Alia dalam hati.


Alia merasa bingung karena sosok gadis kecil yang mengikuti Meisya kemarin ternyata tidak terlihat lagi. Rasa penasaran belum juga hilang, ia akhirnya mencoba mendekati Meisya dengan alasan memberikan tugas.


"Mei aku mau ngasih tugas aku yang kemarin"


"Oh mana sini"


"Ini..." sembari mengulurkan satu bendel makalah.


Meisya hanya diam sambil menerima makalah itu, tidak ada satupun kata terucap dari mulutnya.


"Emm Mei aku minta maaf yah soal kejadian tadi" Alia berucap dengan nada ragu-ragu, dia sebenarnya takut kalau Meisya akan membentak dan memarahinya lagi.


"Oh nggak papa kok udah lupain aja"


Deg! Alia sungguh kaget bukan main, tidak biasanya Meisya bicara ramah terhadap Alia, padahal tadi pagi sangat terlihat jelas bahwa Meisya masih membenci dan bicara kasar pada Alia.


Alia pun hanya tersenyum dan kembali ke tempat duduknya, dia tidak bisa berkata apapun karena heran melihat sikap Meisya yang berubah begitu drastis.


Sandra pun sampai melongo melihat kejadian itu, seolah tak percaya dan merasa bahwa itu bukanlah Meisya yang biasanya.


"Al, si Meisya kesurupan setan apa sampai berubah begitu?"


Alia hanya menggelengkan kepalanya dan menunduk.

__ADS_1


__ADS_2