
Azam terus menggenggam tangan Alia dan merasa kagum dengan pemikirannya. Meskipun dia bisa mengetahui banyak hal yang akan terjadi, namu ia tetap menjaga lisannya dan tidak besar kepala dengan penglihatannya itu.
Sementara itu Fauzi ternyata berdiri di depan pintu ruangan tempat Azam di rawat dan tanpa sengaja ia mendengar percakapan antara Azam dan Alia. Seketika ia terdiam dan membisu, pikirannya menjadi campur aduk dan bibirnya kaku, ia benar-benar tidak menyangka bisa mendengar hal itu.
*****
Flashback...
Pagi itu Azam dan para santri sudah bersiap untuk segera kembali ke rumah. Azam segera memanaskan mobilnya setelah selesai sarapan pagi, namun tanpa di sangka ternyata Fauzi sudah menyusul mereka menggunakan sepeda motor.
"Lho Mas, kok bisa di sini? katanya ada acara?" tanya Azam yang kaget saat melihat kedatangan kakak laki-lakinya.
"Ya, kebetulan acaranya di batalkan jadi aku segera menyusul kalian, Mas juga baru ingat ada sesuatu yang harus di sampaikan sama kamu" jawab Fauzi.
"Oh begitu, kami sedang bersiap untuk segera pulang Mas" ujar Azam.
Tak lama setelah itu Fauzi mengajak Azam untuk berbicara sebentar. Fauzi meminta agar Azam yang pulang menggunakan sepeda motor dan dia yang akan membawa mobil bersama para santri. Hal itu di lakukan Fauzi karena ia ingin menyuruh Azam untuk mengunjungi suatu tempat yang sudah lama ingin dikunjungi oleh almarhum Abahnya.
"Tapi Mas... kenapa nggak Mas aja yang ke sana?" tanya Azam.
"Mas nggak bisa, karena dulu Abah berpesan kalau beliau ingin kamu yang datang" ujar Fauzi.
"Emm bagaimana kalau aku yang bawa mobil saja, nanti biar aku mampir ke sana bersama para santri saja, lagi pula kan aku yang membawa mobil waktu berangkat, jadi biar aku saja yang membawa pulang" ucap Azam.
Azam terus saja berusaha untuk menolak perintah Fauzi, namun Fauzi terus saja memaksakan kehendaknya, ia bahkan sampai mengatakan bahwa adiknya kini telah berubah setelah menikah dan sudah tidak menganggap kakaknya lagi.
"Mas... bukan begitu maksudnya tapi..."
"Tapi apa?" ucap Fauzi yang tidak membiarkan Azam menyelesaikan ucapannya.
"Dia bilang aku nggak boleh bawa motor du..."
"Dia siapa? istri kamu? jadi sekarang kamu lebih mendengarkan ucapan istri kamu daripada wasiat almarhum Abah kita?" teriak Fauzi.
Azam hanya terdiam, dia sudah tidak bisa lagi membantah ucapan kakaknya sekarang, selain tidak ingin mengabaikan pesan almarhum Abahnya, dia juga tidak ingin kalau Fauzi terus berpikiran buruk terhadap Alia. Akhirnya Azam pun pulang dengan mengendarai sepeda motor yang di bawa oleh Fauzi karena tidak punya pilihan lain.
*****
"Mas Fauzi..." ucap Azam yang menyadari keberadaan kakaknya.
__ADS_1
Alia pun menengok ke arah pintu dan merasa terkejut saat melihat kakak iparnya sudah berdiri di sana. Dengan cepat Alia melepaskan genggaman tangan Azam dan mengambil jarak dari mereka.
"Kamu mau kemana?" tanya Fauzi pada Alia ya terlihat hendak berjalan pergi.
"Em silahkan kalau kalian mau bicara berdua dulu" jawab Alia, dia merasa canggung karena sejak awal dia merasa kalau Fauzi selalu tidak suka padanya.
"Di sini saja, aku ingin bicara dengan kalian berdua" ucap Fauzi.
Seketika Alia tercengang, dia merasa kaget sekaligus agak takut, sejak ia menikah dengan Azam, Fauzi bahkan sama sekali tidak ingin melihatnya, namun sekarang malah berkata ingin bicara dengannya dan juga Azam.
"Mau bicara apa Mas, sepertinya serius sekali" tanya Azam.
"Mas mau minta maaf sama kamu, dan juga Alia" ucap Fauzi dengan pelan.
Alia merasa terkejut mendengar pernyataan Fauzi, dia merasa kalau Fauzi bahkan belum pernah bicara dengannya, lalu bagaimana dia bisa berbuat salah kepada Alia.
"Minta maaf untuk apa Mas?" tanya Alia.
"Sebenarnya Mas yang memaksa Azam untuk mengendarai sepeda motor tadi pagi" jelas Fauzi.
Alia kembali terdiam, dalam hati ia merasa agak kesal mendengar hal itu, namun ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Fauzi karena dia sama sekali tidak tahu jika akan terjadi hal seperti ini pada Azam.
"Nggak perlu minta maaf kok Mas, lagian kan ini juga salah aku, karena nggak hati-hati saat bawa motor" ujar Azam.
Fauzi tersenyum mendengar ucapan pasangan suami istri itu, dia merasa sangat bersalah karena sejak awal tidak menyetujui hubungan mereka hanya karena pikiran pribadinya saja.
Sejak awal Fauzi selalu mengira bahwa Alia mungkin bisa membahayakan Azam karena aura negatif yang dimilikinya, namun setelah tanpa sengaja mendengar percakapan Alia dan Azam tadi, dia justru menyesal karena ternyata dirinya sendirilah yang membuat Azam berada dalam bahaya.
Fauzi menjelaskan semua hal itu kepada Alia, termasuk alasannya yang tidak pernah mau bicara dengan Alia sebelumnya.
"Ah itu bukan masalah kok Mas, lagian bukan cuma Mas aja yang berpikiran begitu, banyak kok orang yang berpikir begitu tentang aku, mereka sering berpikir kalau aku ini bawa sial dan selalu membahayakan orang di sekitar aku, jadi aku udah nggak kaget lagi sama hal seperti itu" jelas Alia.
Azam merasa senang sekali ketika semua anggota keluarganya sudah bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan istrinya. Mulai sekarang ia tidak lagi memiliki kekhwatiran apapun. Dia bisa menjalani ibadah rumah tangganya dengan tenang dan bahagia.
Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit akhirnya Azam pun diperbolehkan untuk pulang.
*****
Satu tahun berlalu ...
__ADS_1
Hari ini merupakan hari paling bahagia bagi Alia karena ia bisa menikmati hasil kerja kerasnya setelah empat tahun lebih menjalani kuliah.
Ini adalah hari kelulusan Alia, hari dimana semua anggota keluarganya dan juga suaminya merasa bangga akan sebuah gelar yang di dapat oleh Alia, yaitu sarjana pendidikan, gelar yang sudah sejak kecil selalu ia impi-impikan.
Di hari bahagianya itu, dia tak hanya di temani oleh Azam, namun kedua orangtuanya dan juga Sita pun datang menemaninya, kebahagiaan terus terpancar di wajah Alia.
Sebelumnya ia merasa sangat iri karena Azam lulus lebih dulu dari dirinya, namun kini akhirnya ia merasa sangat puas.
"Alia, selamat yah, Papa bangga sama kamu!" ucap Pak Aji.
"Makasih Pah..."
Sita dengan cepat langsung memeluk kakak perempuannya itu dengan erat, namun tak lama kemudian Alia mulai merasa pusing dan juga mual.
"Huek! huek!"
"Kak kakak kenapa?" tanya Sita yang langsung panik.
"Kamu si Sita! pelukannya kekencangan jadi Alia mual kayak gitu, baju kebaya kan sesak, apalagi masih di dobel sama pakaian yang panas ini" ujar Bu Mia yang terus saja bicara.
"Yah maaf Mah, aku kan nggak bermaksud..."
"Udah-udah... aku nggak papa kok, Mama nggak perlu marahin Sita, karena sebenernya aku..."
Alia tidak melanjutkan ucapannya sehingga membuat semua orang penasaran.
"Kamu kenapa Ragasy? kamu sakit?" tanya Azam yang penasaran.
"Sebenarnya aku telat Mas, udah dua bulan" ucap Alia sambil menundukkan kepalanya.
"Maksudnya? kamu hamil?" Azam mencoba meyakinkan.
Alia hanya mengangguk sambil tersenyum. Hal itu sontak langsung membuat semua orang terkejut sekaligus merasa bahagia.
"Alhamdulillah... selamat nak, sebentar lagi kamu akan jadi seorang Ibu" ucap Bu Mia.
Pak Aji, Sita dan juga Azam memberikan selamat kepada Alia. Azam merasa sangat bersyukur sekaligus bahagia karena di beri kesempatan untuk menjadi seorang ayah.
*****
__ADS_1
Sejak saat itu hubungan kedua keluarga menjadi semakin baik, hubungan Alia dan Azam juga lebih baik lagi. Alia masih memiliki kemampuannya dan Azam selalu membantu Alia untuk mengendalikan itu. Setiap Alia mengetahui ataupun melihat sesuatu, dia selalu menceritakan hal itu kepada Azam, mereka berdua selalu berusaha untuk saling melengkapi satu sama lain.
Selesai...