Di Balik Mata INDIGO

Di Balik Mata INDIGO
Cincin batu hitam


__ADS_3

Begitu sampai di rumah nenek Mida, Alia dan Mayra bergantian untuk mandi dan sholat Maghrib. Setelah itu mereka makan malam bersama dengan Sifa.



"Sifa jadi kamu masih tinggal di sini ya?"


Mayra bertanya sembari menyendok makanan dipiringnya.


"Iya, sebenarnya rasanya sepi banget, semenjak Alia ngga tinggal di sini"



"Oh aku udah selesai nih, aku ke kamar dulu yah"


Alia langsung pergi ke kamar tanpa berkata-kata. Dia merasa sangat lelah jadi memutuskan untuk istirahat sebentar, sementara Sifa dan Mayra masih berada diruang makan.


Alia membaringkan tubuhnya diatas kasur sembari memejamkan mata. Dia menghela nafas dan mencoba menenangkan diri.


"Kenapa aku harus mengalami semua ini?"



"Itu adalah takdir!"


Alia langsung membuka matanya dan bangun ketika ia mendengar suara seorang perempuan menjawab kata-katanya. Dia melihat sekeliling namun tidak ada siapapun.


"Alia kamu kenapa si? clingukan gitu!"


Mayra dan Sifa tiba-tiba datang memasuki kamar dan duduk di sampingnya.


"Eng nggak papa kok"



"Eh ngomong\-ngomong tadi aku sempat lihat kamu sama Irfan, ada hubungan apa kamu?"


Mayra bertanya dengan nada serius, sementara Sifa sedang asyik nonton K-Pop di ponselnya.


"Nggak kok, cuma temenan aja"



"Beneran?"



"Ya! lagian ngapain si nanyain dia?"



"Kamu harus hati\-hati sama dia!"


Mayra mencoba mengingatkan Alia namun ia seperti tidak menghiraukan ucapan Mayra, dan kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur.


" Alia aku serius lho!"



"Ah udahlah aku capek mau tidur sebentar!"


Alia memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, tak lama ia terlelap. Mayra yang merasa di cuekin akhirnya mengikuti Sifa bermain ponsel.


Tak lama kemudian suara adzan isya' mulai berkumandang, Mayra langsung membangunkan Alia untuk sholat isya'.


__ADS_1


"Alia ayo bangun!"


Sembari menggoyangkan tubuh Alia agar cepat bangun dari tidurnya.


Alia membuka matanya dan merasa aneh, karena tadi ia ternyata hanya sedang bermimpi.


"*Itu tadi apa yah? kok rasanya nyata banget*?"


Alia terdiam lalu mencoba untuk duduk sambil terus memikirkan hal yang tadi ia mimpikan.


"Malah ngelamun! ayo sholat!"


Mayra berteriak karena kesal melihat Alia hanya duduk terdiam sambil melamun.


Mereka pun melaksanakan sholat isya'lalu bersiap untuk kembali ke sekolah.


"Oh iya Sifa nanti kayaknya aku pulang ke sini, kamu jangan tidur dulu yah" ucap Alia sembari berpamitan.



"Ok aku tunggu!"


Alia dan Mayra berjalan menuju ke sekolah, selama di perjalanan Alia masih saja diam dan memikirkan mimpi yang tadi ia alami.


"*Heran deh! tidur sebentar aja mimpinya ngga karuan*!" gumam Alia dalam hati.


Begitu Alia dan Mayra sampai, ternyata belum ada satupun panitia lain yang datang, sementara itu orang-orang yang membawa tenda dan dekor sudah menunggu di depan gerbang. Alia pun langsung menyuruh mereka masuk ke lapangan sekolah dan memulai perancangannya.


Tak lama kemudian pra panitia lainnya mulai datang lalu membantu menata kursi dan juga meja.


Sementara itu Alia dan Mayra pergi ke dapur sekolah untuk menyiapkan minuman dan juga makanan kecil.


Kurang lebih jam 10 malam semua tenda sudah selesai terpasang, kursi dan meja juga sudah tertata rapi. Para panitia perempuan yang tinggal di pesantren di wajibkan untuk pulang. Karena santri putri tidak boleh berada di luar pesantren lebih dari jam 10 malam.


Para panitia putra masih sibuk memberikan dekorasi diatas panggung seperti menata beberapa pot bunga dan hiasannya.


Setelah Alia menyelesaikan pembayaran untuk menyewa tenda, ia bergegas ke ruang panitia untuk menyimpan sisa uang ke dalam tasnya.


Setelah itu Alia bergegas untuk kembali ke lapangan dan membantu yang lain.


"Alia!"


Di tangga dekat dengan kantor sekolah berdiri seorang siswa laki-laki dan memanggil Alia.


"Ka Irfan?"


Alia terkejut karena yang memanggilnya adalah seniornya. Dia mencoba mendekat karena penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh senior itu.


"Kaka ngapain di sini?"



"Nungguin kamu!"



"Aku? ngga salah? ada apa?"



"Nih!"


Irfan mengulurkan tangan kanannya yang masih mengepal kearah Alia.


"Apa?" tanya Alia heran.

__ADS_1



"Ayo ulurkan tanganmu, ini sesuatu buat kamu!"


Alia terdiam, dia mencoba mengulurkan tangan kanannya dengan terbuka dan penasaran dengan sesuatu yang akan diberikan padanya.


Irfan langsung meletakkan tangannya di atas tangan Alia dan melepaskan barang yang ingin ia berikan.


"Cincin ini?"


Alia kaget ketika melihat sebuah cincin yang terbuat dari bahan titanium dengan sebuah batu berwarna hitam pekat berbentuk kotak kubus terpasang di tengahnya.


"Buat kamu!"



"Serius?"



"Ya! waktu itu kamu bilang kalau itu bagus kan?"


Alia terdiam, dia heran kenapa tiba-tiba seniornya memberikan cincin itu, dan tiba-tiba ia juga teringat dengan mimpinya yang tadi, yaitu seseorang akan memberikannya sebuah cincin tepat seperti yang ia pegang sekarang. Namun Alia tidak melihat jelas siapa orang itu, dan kini ia benar-benar sudah tahu orang yang akan memberikannya sebuah cincin itu.


"Ini maksudnya apa yah, kok tiba\-tiba kasih aku ini?"



"Sebagai gantinya aku mau minta ini dari kamu!"


Irfan tiba-tiba meraih tangan kiri Alia dan melepaskan gelang yang terpakai ditangannya. Tidak ada yang spesial dengan gelang itu, namun bentuknya yang bulat-bulat berwarna hijau cerah membuat Alia sangat menyukai gelang itu, karena warna kesukaannya adalah hijau.


"Eh tapi ini kan kesayangan aku!"


Ucap Alia sambil mencoba mengambil kembali gelang kesayangannya yang sudah berada di tangan orang lain.


"Ini udah ditangan ku, jadi ini punyaku sekarang!"


Irfan pun pergi meninggalkan Alia tanpa berkata-kata. Sementara Alia masih menatapnya yang mulai pergi menjauh.


"Dasar jahil!"


Alia berucap pelan sambil tersenyum, lalu ia kembali menatapi cincin yang ada ditangannya. Dia merasa sangat senang karena mendapat pemberian dari orang yang diam-diam ia sukai.


"Alia kamu ngapain?" suara Amar tiba\-tiba mengagetkan Alia.



"Eh Amar, ngga papa kok"



"Ayo kumpul di atas panggung, teman\-teman lagi pada makan camilan, nanti kamu ngga kebagian"



"Ah iya, aku kesana sekarang"


Alia dan Amar pergi menuju ke atas panggung. Disana semua panitia sedang duduk berkumpul sambil menyantap makanan ringan.


Tak lama kemudian Alia meminta izin pada teman yang lain untuk pergi keruang panitia. Disana ia duduk sendiri dan mencoba mengeluarkan cincin dari sakunya.


Alia terus memandangi cincin itu karena merasa sangat kagum dengan keindahan batu hitam yang menjadi hiasan cincin itu.


"Indah sekali! ini sungguh seperti mimpi!"

__ADS_1


Alia berguman, sambil terus tersenyum, dia merasa sangat senang karena bisa memiliki cincin yang menurutnya sangat indah. Entah kenapa Alia sangat tertarik dengan batu hitam di cincin itu. Menurutnya batu yang berwarna sangat hitam dan pekat itu sangat indah dan elegan, karena meskipun berwarna hitam, namun batu itu sangat berkilau dan halus. Bahkan permukaannya yang datar bisa memantulkan bayangan kayaknya sebuah cermin.


__ADS_2